• Sungai

    darinya laut di isi, beraneka bahan yang ia bawa, dari ikan hingga kotoran. Namun laut bersabar menampungnya. Kesabaran laut patut dicontoh.

  • Pagi Buta

    Semburat mentari di ufuk timur, masuk ke sela-sela rimbun dedaunan, ia hendak datang mengabarkan semangat beraktifitas meraih asa dan cita yang masih tersisa.

  • Malam

    Malam gemerlap bertabur bintang, bintang di langit dan di bumi. Mereka membawa cerita masing masing sebelum akhirnya masuk ke peraduan asmara.

  • Gunung

    Gunung yang kokoh, ia dibangun dengan kuasanya, bukan dengan bantuan kita. Manusia hanya bertugas merawatnya dengan baik dan amanah. Bumiku lestari

  • Siang

    Mentarinya menyinari pohon di dunia, keindahannya luar biasa.

Menegaskan Kurban Sapi Untuk Tujuh Orang

Kurban sapi untuk tujuh orang
Tanpa sedikitpun memperuncing perdebatan soal peruntukan hewan kurban kambing untuk 1 orang dan Sapi 7 orang seperti opini dari video seseorang yang kurang lebih isinya adalah mempertanyakan dalil kurban sapi untuk tujuh orang. Maka perlu adanya pembanding pendapat, setidaknya untuk mempertajam kehati-hatian dalam berfatwa, karena ilmu ini tak bertepi maka tak pantas menyalahkan orang lain sebelum meneliti lebih detail jejak epistemologi yang dijadikan sebagai dasar sebuah pengetahuan.

Sudah mafhum kiranya, bahwa Nabi pernah berkurban untuk keluarganya dengan satu domba, namun juga ditemukan hadits yang dikaitkan unta atau sapi untuk 7 seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan menyebut jenis unta badanah dan sapi boleh untuk tujuh orang dalam hadyu (dam). Kita juga mesti mengenal ada syariat kehususan untuk Nabi, misalnya dalam menyembelih kurban rasul berdoa
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى
Namun do’a ini tidak pernah dilakukan oleh sahabat yang menunjukkan adanya isyarat tentang kehususan Nabi. Namun untuk mengatakan kurban yang dilakukan oleh Nabi saw adalah sebuah bentuk kehususan masih perlu kajian yang mendalam lagi untuk mengetahui isyarat persisnya.

Dalam beberapa kitab fiqh as-Syafi’i, sebut saja kitab at-tanbīh fi fiqh Imam Syafi’i karya Yusuf As-Sirazi, memasukkan pada bab uḍhiyah (kurban) menjelaskan bahwa, satu sapi untuk tujuh orang, dalam karya yang lain As-Syirazi memperjelas bahwa sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang senada dengan pendapat Taqiyuddin as-Syafi’i dalam kifayatul akhyar yang menerangkan bahwa satu unta badanah untuk tujuh orang dan kambing untuk satu orang.

Badanah bermakna unta atau sapi yang telah digemukkan dan disiapkan untuk dikurbankan dalam Haji, sedangkan Jazur bermakna unta yang disiapkan untuk disembelih. Dalam penjelasan tentang hadits yang membolehkan badanah untuk tujuh orang. Adapun hadits yang dimaksud adalah:

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌ الْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ
Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdillah berkata; “Kami bersekutu (patungan) bersama Nabi Saw di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam Jazur (hewan kurban yang sudah siap disembelih) sebagaimana bolehnya bersekutu dalam badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau sapi?” Jabir menjawab, “Jazur itu sudah termasuk badanah.” Jabir juga turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor badanah. Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah.” (H.R. Muslim).

Mengenai hadits riwayat Jabir bin Abdullah ia berkata; “Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah Saw di tahun perjanjian Hudaibiyah, untuk kurban seekor unta atau seekor sapi, kami bersekutu tujuh orang.” (H.R. Muslim), Zakariyah Anshoriy dalam kitab Asna al Mathalib menegaskan, bahwa ketujuh orang tersebut bukan satu keluarga, seperti yang dikatakan oleh Muhammad al-Ghamrawiy dalam kitabnya as-siraj al wahaj ‘ala matnil minhaj, bahkan Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj juga menegaskan diperbolehkannya seandainya diantara mereka ada sebagian yang diniatkan membayar dam dan sebagiannya lagi untuk berkurban. Hal itu memperkuat dugaan diperbolehkannya untuk berkurban sapi untuk tujuh orang.
Adapun hadits-hadits semakna dengan hadits di atas adalah

وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ»

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «كُنَّا نَتَمَتَّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعُمْرَةِ، فَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهَا»

Sisi teologis berkurban yang patut direnungkan adalah nilai pengorbanan atas kepatuhannya kepada perintah Allah dan nilainya dalam berbagi, tidak hanya sekedar mengukur besar dan kecilnya hewan sesembelihan, karena Allah bukan kanibal pemakan daging juga bukan Tuhan yang haus darah seperti kepercayaan mereka terhadap para dewa dan berhala sesembahannya. Penilaian Allah terletak pada nilai taqwa yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk hewan kurban, sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah atas kelebihan karunia yang diberikan kepada kita. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.. (Al Hajj: 37)

Dengan demikian makin banyak yang dikurbankan disertai dengan keikhlasan semata mata menjalankan perintah Allah maka nilai kebaikannya tentu semakin berlimpah bila dibandingkan dengan pengorbanan yang kecil dengan kadar keikhlasan yang sama.

Share:

Sahur Pisang Lauknya Sate

Meskipun Ramadan telah usai, namun kenangan sahur pisang lauknya sate sulit terlupakan, hingga tak tertahan jemari ini mengamankannya dalam bentuk tulisan. Inilah kisah lika-liku laki laki yang ditinggal isteri dan anak-anak mudik lebaran Juli 2016 atau bertepatan dengan Ramadhan 1437 H. semoga bermanfaat dan bisa dipetik hikmahnya.

Salah satu dari tanda kebesaran Allah menjodohkan laki-laki dan perempuan adalah untuk menjadikan hidup yang lebih sakinah dan saling menyayangi (QS. ar-Ruum:21), karena perjodohan itu akan saling melengkapi tapak perjalanan hidup ini, karenanya keduanya (laki-perempuan) tidak diciptakan dengan karakter yang sama persis. Pada umumnya, sekali lagi pada umumnya karakter dasar antara lelaki dan perempuan berbeda. Kaum hawa lebih lemah-lembut, perasa, pandai memasak, rapi dan pola hidupnya lebih teratur, sedangkan kaum Adam, lebih keras, egois, tak suka memasak, berantakan, dan pola hidupnya kurang teratur. Kisah menarik ini lebih banyak diinspirasi oleh kedua karakter tersebut, sebagai alat bantu memahami saling keterlengkapannya dalam menapaki jalan hidup.

Hanya dua kali sahur dan dua kali berbuka puasa ditinggal oleh isteri mudik lebaran, tapi nuansanya sangat berbeda dengan sahur-berbuka hari hari sebelumnya. Bila sebelumnya teratur berbuka dan sahur bersama dengan rapi dan terjadwal apik, lain ceritanya dengan dua hari dipenghujung ramadhan usai ini.. hahaha.

Dua kali berbuka puasa
Berbuka puasa di hari pertama, ku tunggu sambil rebahan menonton tayangan televisi khas ramadhan, ternyata pulas tertidur hingga tinggal beberapa menit saja waktu maghrib tiba. Akhirnya secepat kilat memasak air panas membuat kopi, belum tuntas adukan kopi, maghribpun tiba, kebingungan setelah minum air putih dan kopi, baru terpikir santap malam untuk mengganjal perut setelah diajak berpuasa seharian. Semua bahan masih mentah, telur dan tahu yang telah disiapkan oleh isteri tercinta. Tak berpikir panjang, seketika masak nasi, goreng tahu, untuk melezatkannya ambil kacang asin di meja sedianya untuk hidangan lebaran, sambel kacang pun siyap menjadi teman santap malam. Lha… kok asinnya tidak ketulungan, apa boleh buat karena diburu waktu tarawih, asin juga harus dimakan #plakk.

Ternyata hari kedua lebih tragis, janji teman mengajak berbuka puasa di masjid dimana tempat saya kadang mengisi pengajian, sehingga tak ada persiapan menu apapun untuk berbuka, kurang lima menit hendak berangkat tiba-tiba hujan deras mengguyur hingga waktu Isya’ tiba, terpaksa, bikin kopi dan goreng tahu lagi, Hahaha… sambil bergumam:”kalau tau begini, mendingan dari tadi aja aku bersiap siap bikin ta’jil dan menu buka puasa sendiri”. Sambil senyam-senyum sendiri. Allah memang indah mengatur manusia dan mengajarkan untuk tidak menggantungkan hidup kepada selain-Nya.

Dua Kali sahur
Sahur pertama berharap aman, akhirnya masak sendiri, sembari menunggu matang saya menonton piala uero 2016, tentu masih dengan tahu yang sudah digoreng saat berbuka puasa tadi. Eeealah, ternyata nasinya kebanyakan air #nasiiibbbb. Akhirnya terpaksa makan nasi mirip bubur, lauk tahu sisa berbuka puasa. Hahaha…

Sahur kedua, berharap lebih indah dari sebelumnya, karena sahur kali ini adalah sahur terakhir di bulan ramadhan 2016, malam harinya membeli sate 10 tusuk ditambah membeli buah pisang dan jeruk tujuannya suplay gizi dan serat, yaaah.. biar mirip pesta pora sahur gitu lah, karena serangan kantuk yang tak tertahan, akhirnya tertidur pulas hingga jam empat, lauknya siyap ternyata lupa belum masak, sedangkan nasi di rice coocker basi, hahaha.. akhirnya dengan sigap bak super hero, bekerja dengan cepat untuk masak nasi sembari seduh kopi, namun malang tak bisa dihindari, terpaksa makan nasi setengah matang, tak kehilangan akal, akhirnya sahur dengan pisang lauknya sate, imsakpun tiba #plakk kembali saya tersenyum, rupanya karakter yang berbeda antara kaum hawa dan adam adalah untuk saling melengkpai. Semoga tidak terulang lagi…
Share:

Pesan Puasa Untuk Penguasa

Terbit 23 Juni 2016

Ritual puasa sudah menjadi ihwal yang maklum bagi agama-agama di dunia, dalam Agama Budha dikenal uposatha, Agama Hindu puasa ( upawasa) nyepi, Yahudi puasa 40 hari dalam setahun dan diantara mereka ada yang puasa Senin dan Kamis (sheni va-hamish), ummat Kristani berpuasa sesuai petunjuk pemuka gereja, bahkan sejak zaman Romawi dan Yunani puasa sudah dikenal, sedangkan orang Islam berpuasa wajib selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan dan puasa sunnat di hari-hari tertentu.

Puasa dianggap sebagai ibadah fenomenal, khas dan sarat dengan pesan moral yang dikandung di dalamnya, dari limit waktu, ibadah puasa lebih banyak memakan waktu diabanding dengan ibadah wajib lainnya, bila sholat atau zakat rampung dalam beberapa jam saja, bila ibadah lain umumnya adalah memakan biaya, maka sholat justru menekan biaya, sedang haji maksimal hanya 4 hari bagi orang yang melakukan nafar tsani, berbeda dengan puasa Ramadhan yang mencapai satu bulan utuh. Tentu ada pesan pesan moral yang khas yang hendak disampaikan kepada ummat yang melaksanakannya.

Luasnya samudera hikmah puasa yang membentang menantang semua orang untuk mengarunginya dari sudut mana saja dia bisa, tergantung alat bantu keilmuan yang melatar belakanginya, namun dari sekian hikmah ada pesan moral puasa yang sangat prinsipil kepada semua ummat khususnya penguasa yaitu kejujuran dan menjauhi prinsip aji mumpung (opportunism).

Kejujuran
Pesan moral tertinggi selain sabar adalah jujur, diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata dengan cara melepaskan diri dari kebutuhan makan-minum dan hubungan badan, di mana ketiganya merupakan kebutuhan hidup manusia secara personal yang sangat vital. Alangkah mudahnya melakukan aksi tipu-tipu mengelabuhi orang lain di sekitarnya dengan style puasa, lemah lunglai dan bibir kering, padahal ia dalam kondisi kenyang dan segar bugar setelah makan minum ditempat yang tak terlihat oleh orang, namun pribadi orang berpuasa pantang melakukan itu semua.

Mentalitas kejujuran orang yang berpuasa benar benar diuji, menjadikan puasa sebagai media berlatih berbuat ikhlas tanpa pamrih semata mata karena Allah swt. Jauh dari pencitraan dan abai terhadap penilaian orang yang dia sematkan kepadanya. Latihan ini diharapkan menjadi bekal menapaki jalan kehidupan di bulan bulan berikutnya setelah Ramadhan, kepada siapa saja, terutama kepada penguasa, dimana banyak nasib rakyat yang dititipkan di pundaknya.

Ramadhan ibarat sekolah ruhani, pengawasnya langsung rabbul izzati dengan prinsip kurikulumnya sangat jelas yaitu pengendalian diri, karena isi terpenting dalam puasa adalah pengendalian diri dan sabar (Abdul Manan:2005,103). Dari sini nampak sekali bahwa puasa bukan tujuan (ghayah), melainkan puasa adalah perantara (washilah) untuk mengantar manusia menjadi pribadi bertaqwa.

Mumpungisme
Hikmah lain yang patut direnungkan adalah terhindarnya manusia dari karakter aji mumpung, dalam ritual puasa setiap personal dipaksa untuk disiplin makan dan menunggu pada waktunya, bukan mumpung ada semua makan dilahapnya, meskipun miliknya, maka wajar secara teologis orang yang puasanya hanya menahan kebutuhan fisik dan biologisnya maka ia tidak mendapat hikmah apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga (al-Hadits).

Betapa ajaran berpuasa mempunyai orientasi masa depan (future oriented) yang sangat besar, hingga memakan hidangannya sendiri yang sudah sah menjadi miliknya ditahan sampai bedug maghrib tiba. Dalam hal ini puasa mengajarkan menjauhi sikap mumpungisme yang alih-alih dijadikan pemuas kerakusannya, tak sedikit kita menyaksikan menyalahgunakan wewenang untuk kepuasan pribadi dan keluarga, sekali lagi dalil yang digunakan amat sangat sederhana yaitu mumpung masih menjadi penguasa.

Pesan spiritual kejujuran dan anti opportunis yang disampaikan melalui pusa menjadi pilar penting bagi semua manusia khususnya penguasa yang dhalim untuk tidak menggunakan wewenangnya melalui mekanisme yang dinilai tidak amanah. Seandainya mental kejujuran dan tidak aji mumpung ini tertanam dan hidup dalam diri penguasa maka semua problematika kerakyatan akan teratasi dengan baik. Sebaliknya apabila hatinya terkunci mati dari sifat peka terhadap orang lain maka ia tak lagi memiliki kearifan dan sensitifitas kepada sesama, anusia yang demikian bisa menjadi manusia yang bermental/berkebudayaan lembek (soft culture),

Pandangan fiqh sentris bahwa puasa dalam arti mencegah (imsak ) tak perlu dibesar-besarkan, karena ada puasa yang jauh lebih diharapkan keberhasilannya yaitu puasa bathin untuk melatih mental itu tadi, sebagaimana Syeikh Abdul Qadir Jaelani menganjurkan puasa bathin merupakan puasa sejati, yakni selalu mengisi bathin dengan perintah dan menjauhi larangan, puasa yang demikian tak terikat dengan sahur dan berbuka.

Kemampuan memetik hikmah puasa yang demikian luhur dan mulia akan memberi warna tersendiri untuk bangkitkan sebuah bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensional baik krisis moral maupun krisis spiritual yang dalam dua dasa warsa ini sangat memprihatinkan. Semoga puasa yang tinggal secuil lagi ini bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggapai kejujuran dan sikap menjauhi mental aji mumpung (opportunistik).

Share:

Napak Tilas Isra' dan Mi'raj

Setelah beberapa hari yang lalu telah terbit artikel dengan judul banjir ditinjau dari aspek teologis, dan gagal entah terbit atau tidak karena waktu itu masih di kampung halaman, namun tetap masih terposting di website ini, adapun judulnya adalah teologi penanggulangan narkoba. maka saat ini kami posting dengan terbitan korang Tangsel  Pos dengan tema Napak Tilas Isra' dan Mi'raj dalam rangka menyambut peringatan hari besar islam (PHBI), selamat membaca.

Sejarah telah mencatat bahwa Isra’ dan mi’raj mengandung dua perjalan mu’jizat, perjalanan horizontal dari masjid al-Haram (Mekah) menuju Masjid al-Aqsha (Palestina) dilanjutkan perjalanan vertikal dari dari masjid al-Aqsha ke Sidratul Mutaha atau yang lebih dikenal dengan langit ketujuh, Mudhury menyebutnya sebagai ‘maha ruang’ ditempuh hanya dalam waktu semalam. Peristiwa ini di terjadi terjadi 14 abad silam, tepatnya tahun 620-621 M.

Perjalanan singkat dengan jarak tempuh yang demikian jauh ini tak pelak lagi mengundang banyak tanya, khususnya kaum kafir quraisy dan sebagian orang-orang muslim itu sendiri. Kita tidak bisa bayangkan posisi Mekah dan Palestina lebih kurang 1500 KM belum lagi ke Sidratul Muntaha, rampung hanya ditempuh dalam waktu semalam. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, kecepatan tersebut lambat laun tersibak secara ilmiah dengan alat bantu teori relativitasnya Einstein dan teori annihilasi. 

Teori annihilasi mengatakan, bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi, jika materi dan anti materi dipertemukan maka kedua partikel akan lenyap dan membentuk sinar gama, dari sini bisa dipahami bahwa isra’ dan mi’raj adalah perjalanan hebat secara fisik, bukan sekedar ruh atau mimpi belaka. Diperjelas lagi bila dilustrasikan satelit atau sputnik yang menjadi pesawat penjelajah ruang angkasa, namun bukan berarti teori tersebut mengungkap keseluruhannya secara detail tetapi hanya sebagian kecil saja. Akal manusia yang terbatas ini rupanya tidak dipersiapkan untuk mencerna hal hal serumit isra’ mi’raj, sekaligus disitulah keimanan dibutuhkan untuk meyakini kebenaran peristiwa fenomenal dan monumental tersebut, karena ada yang lebih substantif dari sekedar perjalanan dahsyat itu. 

Al Quran yang terdiri dari 6000 ayat lebih, tak lebih hanya dimuat dalam empat ayat saja yaitu dalam konteks isra’ termaktub dalam QS. al-Isra’:1 sedangkan mi’raj terabadikan dalam QS. an-Najm ayat 13-15. Secara implisit mengandung pesan bahwa bahwa isra’ mi’raj adalah peristiwa imani, titik tekan substansinya adalah hikmah dan oleh-oleh dari perjalanan tersebut, berupa shalat lima waktu seperti yang dilakukan oleh ummat muslim saat ini, bukan sekedar meyakini dan takjub keagungan peristiwanya. 

Napak Tilas Horizontal dan Vertikal
Peristiwa hebat yang tak mungkin terjadi kedua kalinya sepanjang sejarah manusia ini, rupanya melatarbelakangi lahirnya perintah berat dan istimewa yang wajib berupa shalat, kewajiban ini berbeda dengan perintah kewajiban lainnya sebut saja zakat yang harus menunggu modal dalam batas nishab, haji menunggu sampai mampu, berbeda pula dengan puasa yang boleh dibatalkan dalam perjalanan jauh, namun shalat harus dilaksanakan dalam kondisi dan situasi apapun. 

Banyak dimensi yang bisa dikaji dari objek aktivitas shalat ini, baik secara filosfis, sosiologi, psikologis maupun medis, bagi agama Islam, shalat sebagai pilar utama yang pertanggungjawabannya diletakkan di nomor wahid sebelum amal lain dihitungnya, selain itu ia menjadi ibadah prioritas yang harus dibiasakan sejak dini, Hal ini wajar kiranya, karena dalam ibadah shalat mengandung hikmah besar sebagai sebuah sarana untuk melahirkan kepekaan diri yang bersifat sosial-horizontal, sebagai makna simbolik perjalanan isra’, sedangnkan kualitas shalat yang ditentukan khusyu’ sebagai simbol hubungan vertikal-individual dengan Tuhan laksana imitasi (tiruan) dalam mi’raj itu sendiri. 

Shalat dalam arti kosepsional praktis mempunyai fungsi penting dalam upaya pembangunan karakter (character building), peredam nafsu buruk, penanaman akhlak mulia, penyucian jiwa dari sifat penakut, pelit, keluh kesah, dan putus asa. (Qs. al-Ma’arij: 19-23), , shalat juga sebagai doa-doa untuk mendorong hidup optimis dan sabar (Qs. al-Baqarah: 153). Bahkan dalam tingkat tertinggi mampu mejadi terapi kesedihan duniawi sebagaimana dicontohkan oleh Rasul saw dalam sabdanya, “Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.” 

Indikasi keberhasilan shalat selanjutnya akan tampak dalam prilaku sehari-hari seperti terkendalinya nafsu, kesucian jiwa, pemberani, pemurah, gembira, optimis dan lain sebagainya. Apabila kemuliaan tersebut teraplikasikan dengan baik secara nyata di tengah masyarakat tentu akan melahirkan masyarakat yang dinamis, aman tanpa gangguan, nyaman tanpa rintangan, di situlah fokus utama shalat itu didirikan dalam rangka menegaskan fungsi sosial horizaontal laksana perjalanan horizontal Nabi Muhammad saw dari Mekah-Palestina.

Perlu segera dicatat, bahwa prilaku seseorang tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya, melainkan diwarnai latarbelakang faktor simpati, sugesti, imitasi (meniru) maupun situasi, prilaku itu sendiri berarti gerak gerik, kegiatan atau tindakaan prilaku manusia sebagai penampakan dari realisasi pernyataan, ekspresi dan manifestasi sebuah gejala kejiwaan yang menjadi tindakan nyata (baca, Astuti, Jurnal Konseling, 2015). Kaitannya dalam konteks shalat, shalat menjadi pengajaran seorang hamba untuk berhubungan langsung dengan Rabb-nya dalam sebuah dimensi serius yang disebut khusyu’, supaya memperoleh kejernihan hati yang menjadi sumber prilaku. Situasi dan kondisi khusyu’ ini laksana napak tilas mi’rajnya Rasul saw dari Palestina naik ke Sidratul Muntaha yang bersifat sangat pribadi menemui Tuhannya. 

Perbaikan hubungan vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia menjadi indikator kualitas keberhasilan seseorang dalam mendirikan shalat, karena shalat harus dipahami sebagai proses wajib, tujuan utamanya adalah perbaikan diri, yang puncaknya adalah menjauhi perbuatan keji dan mungkar. (Qs. al-Ankabut: 45). Ibn Mas’ud pernah berkata, siapa yang shalatnya tidak menjauhkan perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya tidak mendekatkan diri kepada Allah justru menjadikan ia tetap jauh. Menurut Abu Aliyah, shalat harus ada tiga unsur yaitu ikhlas berperan mengajak yang ma’ruf, takut mencegah yang mungkar dan dzikrullah mencakup makna keduanya.

Di lihat dari waktu turun perintah tersebut di pagi hari yakni waktu subuh, bukan tanpa maksud dan kering makna, melainkan ada pesan yang bisa ditangkap bahwa shalat menjadi amal terdepan yang kepadanya amal lain ditumpukan, mengingat pagi adalah awal aktifitas seseoran mulai berdenyut. Dalam hadits juga disebutkan bila shalatnya baik maka amal ibadah lainnya ikut menjadi baik,. Manusia hidup tidak hanya diperintahkan shalat, tetapi shalat adalah awal dari segalanya, dari shalatlah semua berawal, bahkan yang ditanya pertamakali di hari kaiamat adalah shalat (al-hadits).
***
Maksud tulisan singkat ini, tidak lain adalah mengajak ummat Islam untuk memetik mutiara hikmah peringatan isra’ mi’raj dalam kerangka konsepsional praktis yang mampu mendorong terlahirnya sikap dan prilaku keagamaan secara nyata ditengah masyarakat, dengan shalat sebagai salah satu sarananya. Selain itu hikmah yang harus dipegang erat adalah isra’ mi’raj bukan cerita biasa tanpa pesan keagamaan, melainkan disana ada pesan untuk menapktilasi setiap hari dimana gerakan shalat sebagai isra’nya dan khusyu’ sebagai mi’rajnya. Setelah berhasil maka akan ada perubahan besar dalam hidup ini menjadi berakhlak lebih baik, laksana perubahan dari zaman kegelapan jahiliyah menuju zaman terang benderang bersinar akhlak mulia. Tanpa ada pemaknaan kontekstual seperti ini maka peringatan isra’mi’raj akan hampa dan hanya sebatas pada euforia belaka.
Share:

Teologi Penanggulangan Narkoba

Tulisan yang satu ini, nasibnya agak beda dengan tulisan-tulisan sebelumnya seperti Banjir ditinjau secara teologis atau nasib baik dari tulisan teologi kekeringan, pasalnya sejak tulisan ini aku kirim kemudian saya tinggal pulang kampu, meskipun sempat paginya mencari koran yang kami tuju, namun di bawah hujan rintik-rintik dipagi hari saya ke penjual koran, ternyata lagi diborong orang, hingga saat ini belum tahu, sudah terpublish atau belum judul temanya yaitu Teologi Penanggulangan Narkoba

Di ruang dengar kita, Narkoba sudah tidak asing lagi. pemberitaannya santer di berbagai cetak dan eletronik. Meskipun sebagian orang tidak perlu lagi mengetahui delil-delik definis narkoba. Barangkali yang dikenal oleh mereka, narkoba adalah barang haram yang berbahaya dan punya efek ketagihan bagi pemakainya, karenannya menjauhinya menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan..

Narkoba menurut undang undang No. 35 tahun 2009, didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pemakainya akan mengalami ketergantungan yang sangat luar biasa, bahkan mendorong untuk melakukan perbuatan nekad tak memandang etika atau norma apapun demi untuk memenuhi ketergantungan, dari sini narkoba menjadi sumber segala keburukan—selain pengobatan atas anjuran medis-- Efek narkoba amat buruk sekali baik bersifat individual yang buntutnya terhadap dampak sosial, pendek kata, narkoba adalah musuh bersama.

Oleh karena itu, Berbagai formula penanggulangan dikerahkan, dari hulu hingga hilir disusuri dan diusut, dari pemakai sampai bandar pengedar dan kawanan yang memproduksinya. Sikap negara amat jelas dalam hal ini, yakni memberikan hukuman berat terhadap si pemakai, bahkan memberikan hukuman mati terhadap pengedar yang terbukti menjajakan narkoba dalam jumlah tertentu, seperti yang telah dilakukan pada 6 terpidana mati kasus narkoba bulan Januari 2015 yang lalu, karena dianggap pelanggaran berat yang mengancam eksistensi bangsa. 

Menyadari sedemikian besar bahayanya narkoba, Presiden mengeluarkan instruksi No.6 tahun 1971 dengan membentuk Badan Koordinasi, yang terkenal dengan nama Bakolak Inpres 6/71, yaitu sebuah badan yang mengkoordinasikan (antar departemen) kegiatan penanggulangan terhadap berbagai bentuk kegiatan yang mengancam keamanan negara, seperti pemalsuan uang, penyelundupan, bahaya narkotika, kenakalan remaja, kegiatan subversif dan pengawasan terhadap orang-orang asing. 

Seiring gencarnya penanggulangan narkoba dalam berbagai bentuknya, pengguna narkoba masih menunjukkan kecenderungan meningkat, kondisi Indonesia berada pada level darurat bahaya narkoba seperti yang disampaikan Presiden. Berdasarkan data dari situs situs terpercaya yang mengutip Komjen Pol Budi Waseso Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) saat berkunjung di Pondok Pesantren Blok Agung Banyuwangi Senin (11/1/2016), bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 kemarin diperkirakan mencapai 5,9 juta orang, sebuah jumlah yang sngat fantastis bagi sebuah negara yang berketuhanan.

Efek buruknya tidak hanya merugikan individu si pemakai melainkan merembet ke sosial secara umum. Secara individual pengaruh narkoba sangat aktif bekerja merusak urat syaraf sentral, jantung, darah dan denyut nadi, sedangkan secara mental, umumnya pengaruh narkotika mengakibatkan pemakainya menjadi pelupa, acuh, gelisah, gugup, emosional, apatis, putus asa pendiam, sinis pesimis dan muram (Rachman Herman, 1985), dan sederet efek negatif lainnya. Akibat rusaknya jaringan sentral syaraf dan mental yang sedemikian parah, sehingga menyeret penggunanya melakukan tindakan asusila, (Fuad Kauma, 1999), karena kesadaran dalam mempertimbangkan prilakunya berkurang yang pada akhirnya akan menimbulkan efek buruk prilaku sosialnya. 

Berangkat dari efek buruknya narkoba yang berpeluang meluas ke ranah sosial itulah, tentu tanggung jawabnya bukan hanya ditumpukan kepada pemerintah an-sich, melainkan semua elemen masyarakat dengan berbagai pendekatan harus diupayakan, demi terciptanya keamanan dan kenyamanan dari semua gangguan prilaku sosial anggota masyarakat lainnya agar terlepas dari jeratan barang haram yang bernama narkoba tersebut. Bila tidak, menurut Prof. Adrianus Meliala, Ph.D seorang Kriminolog FISIP UI, bukan tidak mungkin bangsa ini pelan-pelan mengikuti jalan kelam bangsa-bangsa besar dunia, yang menghabiskan ratusan juta dolar memerangi pedagang narkotika (Reza Indragiri, 2007).
***
Dalam agama Hindu ada enam musuh dalam diri yang harus diperangi atau lebih dikenal dengan Sad Ripu, enam hal tersebut salah satunya adalah adalah, Mabuk, bingung, marah, isi hati, rakus dan hawa nafsu, sedangkan umat Kristiani meyakini bahwa orang yang melakukan tindakan merusak dirinya tergolong umat melakukan tindakan meninggalkan tiang salib, adapun agama Budha, ada empat perbuatan yang dilarang, salah satunya adalah Majja yakni sesuatu yang mebuat seseorang tidak sadarkan diri, dalam Islam sendiri mabuk dan tindakan membahayakan sejenis narkoba sangat diharamkan (QS. al-Maidah:90-91), bahkan termasuk dosa besar, kira kira seperti itulah sikap agama-agama dalam membuat garis terang bernada melarang terhadap narkoba. 

Kiranya jelas sudah, bahwa semua agama melarang ummatnya memakai narkoba walau sekedar coba-coba, karena pemakai akan kehilangan kendali setelah syaraf sehatnya diserang dan bisa berlaku nekad, dalam ungkapan jawa yang juga merupakan wejangan Sunan Ampel mengajarkan moh limo (lima hal terlarang), lima hal tersebut yaitu main, maling, madon, mabuk, madat (narkoba), madat ini sudah dikenal sejak 700 tahun yang lalu, bahkan di duga Ken Arok membunuh Mpu Gandring juga di bawah pengaruh narkotika, sejenis kanabis dan larangannya tertuang dalam kitab nagarakertagama.

Sebagai benda yang menghilangkan kesadaran, sifatnya lebih dari memabukkan, dikonsumsi dalam jumlah sedikit maupun banyak, sama haramnya. “Sesuatu yang memabukkan dalam dosis banyak, maka sedikit juga hukumnya haram”. (HR. Tirmidzi). Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Rasulullah saw melarang setiap sesuatu yang memabukkan dan mufattir (yang merusak). Sejalan dengan tinjauan para ahli sedikitinya ada tiga efek negatif narkoba, pertama, depresan yakni memperlambat fungsi syaraf pusat sehingga hilang kesadaran dan tertidur, kedua, stimulan merangsang sistem saraf pusat meningkatkan kegairahan dan kesadaran, ketiga, halusinogen, narkoba akan mengubah rangsangan perasaan dan pikiran sehingga menimbulkan kesan palsu atau halusinasi. 

Penanggulangan secara normatif seperti yang lazimnya dilakukan dengan cara promotif, kuratif, preventif dan advokasi bukanlah cara yang buruk, tetapi tak ada salahnya bila pendekatan teologis dijadikan sebagai cara alternatif dalam menanggulangi bahaya narkoba, sebab semua manusia mesti mempunyai sistem kepercayaan terhadap sang maha kuasa, maha melihat atas perbuatan yang dilakukan. Dalam knteks narkoba, teologi agama-agama dimata pemeluknya mempunya garis kesamaan yang jelas, bahwa narkoba adalah barang haram yang harus dijauhi sejauh jauhnya. Dengan kata lain, narkoba bagi kaum beragama apapun adalah musuh bersama (common enemy

Cara yang paling sederhana adalah dengan cara kerjasama bahu membahu antara pemerintah (umara’) dan tokoh agamawan, yang dibentuk dalam wadah tertentu dengan legalitas formal melalui ‘palu’ hukum peraturan pemerintah serta dilakukan sistematis, terstruktur dari masyarakat bawah hingga kalangan atas, terukur dengan menggunakan fluktuasi penurunan pemakain sebagai sebagai parameternya dan terencana dalam arti sesuai dengan target dan sasarannya. Posisi tokoh agama dalam hal ini menjadi ujung tombak dan perpanjangan tangan pemerintah dalam mempertebal keimanan dan kesadaran mereka dalam beragama.

Setelah itu kemudian dilakukan penelitian hasil yang dicapai dari rencana yang telah dibuat dengan seksama dengan tujuan penebalan keimanan akan nilai luhur agama yang menyelematkan jiwa pemeluknya serta mengungkap kebesaran dan ke-Maha Tahu-an Tuhan atas perbuatan makhluknya. Cara semacam ini lebih mejadikan personal ummat sebagai titik central penanggulangan, bukan pemagaran melalui sederet peraturan yang mengesankan pemaksaan, lebih mejadikan ummat beragama dalam posisi sebagai memproteksi dirinya ketimbang sebagai obyek teks larangan ber-narkoba dari agamanya itu sendiri. Tawaran solusi ini tidak lain adalah sebagai upaya memperkaya formula penanggulangan penyalahgunaan narkoba yang perlu dicoba.
Share:

Happy Birthday Ilma Kamila Sayang

Di hari jadimu yang kelima ini Nduuk
Ku rangkai kata doa indah sebagai bukti cintaku kepadamu, kan ku lantunkan dalam malam kelam agar terdengar nyaring oleh alam, biar malaikat mengamininya dalam miliu haru nan sendu. Hubungan batin seorang anak dan Bapak seperti ini tak akan sirna hingga alam digulung, air laut ditumpahkan, putaran bumi dihentikan. Kasih sayang orang tua bak permata yang selalu bersinar dan berharga dimanapun jua. Dirimu akan selalu ku hadirkan dalam doa agar selalu berpayung kasih sayang dan bernaung dalam ampunan, jasmani kuat dan ruhani sehat, kokoh iman dan mampu menebar ihsan

Di hari ini pula Nduk…
Tekadkan niatmu untuk mengabdi kepada Yang Maha Kuasa, bahwa tiada Tuhan perkasa yang mencipta kecuali gusti Allah ta’ala dan kanjeng Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya, ia menjadi pelita hati bagi ummat Islam di dunia, dari dulum kini dan akan datang, dahulu sekarang dan akan datang. Kubur dalam dalam keraguan pada kuasa Tuhan, buang jauh jauh was was dan segala bentuk ketidak percayaan. Bulatkan semangat mengabdi kepada Agama dan berbuat baik kepada kedua orang tua serta berbagi untuk sesama manusia. Orang yang paling baik adalah dia yang panjang usianya dan baik sepak terjangnya, sebaliknya seburuk buruk manusia adalah dia yang panjang usianya dan rusak akhlaknya. Jadilah engkau orang yang bermandaat, apapun jabatanmu, dimanapun dan kapanpun jua. Apalah artinya hidup bila tak pernah membukukan kebaikan untuk sesama. Ketahuilah bahwa ayat al Qur'an bertebaran berbicara tentang kehidupan sosial

Hari ulang tahunmu Nduukk..
Pada hari ni adalalh hari sabtu 26 maret, lima tahun yang lalu engkau begitu lemah, jerit tangis sebagai panggilan atas kelemahanmu, semakin kencang kau menangis semakin cepat pula engkau ditolong, pahamilah, begitu pula ketidak berdayaan manusia dihadapan Allahm semakin sering engkau menjerit dalam doa, maka semakin cepat pula engkau ditolong oleh Allah, orang yang tidak mau berdoa dianggap sebagai orang yang sombongm begitulah kira kira isi hadits Nabi saw

Di hari ini pula Ndukkk…
Aku berpesan, jangan pernah sedikitpun dibalutan kelemahan seorang manusia bersikap sombong terhadap sesama, kepada anjing cacat sekalipun, karena semua yang melekat dan kesempurnaan manusia hanyalah titipan, usaha kita tak akan sampai pada kemulyaan kecuali atas pertolongannya. Kau yang kini mulai merenda tulis dan baca semoga keberhasilan selalu berpihak dan manfaat selalu menyertai setiap jengkal langkahmu

Masih banyak curahan hati yang tak sanggup diwakili narasi atau pilihan diksi, karena yang dipikirkan tak selalu bisa dituliskan. Ya Allah ya rabb kabulkan semua doa yang terucap dan yang tersimpan di dalam hati ini, happy birthday ke-5 Ilma Kamila ‘Putri’
Share:

Mengapa Menulis Blog


Blogging menjadi aktifitas menyenangkan, pasalnya dunia maya yang luas bebas dikapling dengan cara ekspresif, sebut saja Thomas Ricker blogger terbaik dunia pada saat 2004 kontribusinya tak tertandigi yang mengantarkan dirinya sebagai blogger terbaik dunia, meski tulisannya dengan gaya humor namun tak mengurangi kepadatan makna dan kandungan pesannya seputar gadget. Gadget yang dimaksud buka sejenis hp dan lain sebagainya, melainkan gadget dalam website.

Salah satu penyakit ilmu pengetahuan adalah lupa, ada ungkapan arab mengatakan,
العلم صيد والكتابة قيد # قيد صيودك بحبل واثقــة
Ilmu bagaikan binatang liar, tulisan adalah tali pengikat
Ikatlah hewan liarmu dengan tali yang kuat

Atas pertimbangan ungkapan bijak di atas, perlu kiranya dibuat sebuah catatan kecil sebagai pengingat atas kealpaan pengetahuan atau hafalan yang pernah diukir dalam memori. Nah, era digital serba internet ini, tak ada yang tahan lama kecuali server mega raksasanya google sebagai salah satu penyedia layanan hosting secara cuma cuma, sayangnya banyak yang abai dan bahkan cenderung tidak menggunakan fasilitas tersebut.
Share:

Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis

25/02/2016
Seperti beberapa artikela lainnya yang masih membincang teologi, seperti teologi kekeringan, kali ini juga masih ada kental nuansa teologisnya yang saya beri judul Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis diterbitkan tanggal 25 Pebruari 2016. selamat membaca, semoga bermanfaat. 

Dedikasi manusia menjadi mandataris Tuhan di bumi (khalifatullah fil-ardh) terkadang dimaknai berlebih, alih-alih dengan argumen sebagai khalifah di bumi, mereka melegitimasi dirinya meng-eksploitasi alam tanpa batas. Alam dipandang sebagai cosmos berisi tumpukan benda mati yang dijadikan objek sasaran untuk ditundukkan, kemudian diperalat sebagai pemuas hasrat materialisme dan kerakusan manusia, dengan dukungan sains dan tekhnologi tanpa kesadaran dan tanggung jawab, modus perusakan lingkunganpun makin menggila dan mengerikan, tak pelak lagi, krisis ekologi berupa longsor, pemanasan global, kekeringan, kebakaran hutan, termasuk banjir di beberapa titik sedang aktif melumat pemukiman saudara-saudara kita. 

Penulis berasumsi, bahwa alam semesta didisain oleh tuhan seimbang sesuai takaran sunnatullah-Nya, tak terkecuali setting kemampuan bumi menyerap debit curah hujan dari langit, sekaligus menampungnya di dalam rongga tanah sebagai cadangan air di musim kemarau. Namun karena pola pikir dikotomis yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), menjadikan ego manusia sebagai makhluk superior bertindak sewenang-wenang pada hingga akhirnya mendegradasi peran dan fungsi bumi mengolah air hujan, baik areal luasnya maupun kualitas daya serapnya seiring peningkatan demografi pertumbuhan dan kebutuhan manusia. Dengan kata lain, banjir bukan disebabkan bumi tak mampu menyerap debit air hujan, melainkan ada perubahan alih fungsi bumi yang berlebihan. 

Menurut Sayyid Hosein Nasr, kerusakan ekologis dalam pelbagai jenisnya dua abad terakhir ini disebabkan krisis spiritual, salah satu bentuknya adalah teologi antroposentris dimana memposisikan manusia sebagai penguasa alam, sehingga keduanya tidak terjalin hubungan yang harmonis. Sejalan dengan pendapat Fritjof Capra yang mensinyalir, bahwa berbagai macam ragam krisis yang terjadi saat ini disebabkan keserakahan manusia dan kerakusan memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya, sehingga mendorong ego manusia sebagai subyek penguasa, sedang alam adalah obyek sasarannya.
Share:

Momentum

Selfie sik Mak, masio durung adus

Iki lho Bojoku Broo

Citra Kirana/Rumana

Ustadz Riza

Ustadz Yusuf Mansyur

Pak Prof. BJ. Habibie

Tarmidzi di TBNH

Om Dik Doank

Pak Prof. BJ.Habibie
Share:

Dhuyufurrohman

Ya Allah...
Mudahkanlah kami dan anak keturunan kami
 untuk menjadi tamu-Mu..
labbaikallahumma labbaik...
Share:

SAKIT: Cinta Yang Menyamar

SAKIT: Cinta Yang Menyamar
ISBN: 9786340419252

Tafsir Tematik

Tafsir Tematik
ISBN: 9786232350199

Modul Blogging MA.SM

Modul Blogging MA.SM
Modul Pembelajaran Blogging

Jejak Ruh

Jejak Ruh
Dalam Proses Penulisan

Popular Posts

Labels

Judul Tulisan

Recent Posts

Motto

  • Membaca
  • Mengamalkan
  • Mennulis
  • Menyebarkan