Islam Moderat Merawat Kebhinekaan

thumbnail
Diterbitkan, 13 September 2017
Bumi Nusantara selain kaya sumber daya alamnya juga kaya etnis, suku, bahasa budaya dan agama. Keberagaman ini selain menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti juga menjadi sebuah ancaman yang mengerikan bila tidak pandai-pandai merawatnya, terlebih persoalan yang berkaitan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Tentu masih lekat dalam benak kita, bahwa secara historis, sejak penetapan sila pertama pancasila sudah berpolemik antara rumusan pancasila Muhammad Yamin dan sudah rentan dalam pancasila sudah mengalami

Meskipun mayoritas penduduk di bumi Nusantara ini beragama Islam, namun rupanya para pendiri negeri sadar, bahwa Indonesia lahir dari rahim perjuangan bersama, bukan pejuang Islam semata, di dalamnya ada juga non-muslim yang berperan secara aktif mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, karenanya secaral legal-formal, Indonesia memberikan payung teduh agama dan keyakinan lain bernaung di bawahnya, selama keyakinan tersebut tidak mengancam eksistensi NKRI, sebaliknya, apabila ada sekelompok orang yang mengancam persatuan dan kesatuan republik ini, mereka adalah musuh bersama (common enemy), meski mengaku berfaham Islam sekalipun.

Bagi penulis, dasar negara berfungsi mengatur tata cara atau rambu-rambu etika berbangsa, selama prinsip dasar praktik beribadah tidak dibatasi kekuasaan dasar negara yang ada, maka tidak ada alasan untuk ‘menentang’ dasar negara yang telah dirumuskan oleh pendahulu-pendahulu negeri ini.

Dr, Mukhlis Hanafi seorang penulis dan penggiat kajian al Qur'an dalam kuliah perdananya kepada kader mufasir dan pasca tahfiz di Masjid Bayt Al Qur'an, memperkenalkan misi Pusat Studi Al Qur'an (PSQ) dalam merawat Islam moderat (al-Islamiyah al-wasathiyyah) yang dituangkan dalam trilogi pembacan kitab suci al Qur'an. Sederhanya adalah menghidangkan Islam moderat di tengah-tengah masyarakat yang mejemuk.

Konsep ini menjadi kebutuhan yang bersifat urgen, di saat praktik keber-agama-an mengalami dilematis, satu sisi kajian al Qur'an semakin marak menyentuh berbagai lapisan masyarakat, sejak usia dini, remaja, dewasan dan orang tua, termasuk ranah jelajahnya pun meluas tidak hanya di masjid, di sekolah atau di kampus tetapi juga sampai ke instansi atau perkantoran tertentu, namun pada saat yang bersamaan, pemaknaan atas nama al Qur'an (baca: tafsir) seringkali ‘dicurigai’ sebagai alat untuk melegitimasi kelompok tertentu. Akibatnya, memperuncing perbedaan –bila keberatan dikatakan perpecahan--antar golongan di dalam internal Islam itu sendiri, bahkan bisa menimbulkan teror bagi agama lain yang bertempat tinggal dalam wadah besar bernama NKRI.
***
Merujuk kepada arti trilogi itu sendiri adalah kesatuan gagasan atau pokok pikiran yang dituangkan dalam tiga bagian yang saling terhubung. Dalam ranah kesusastraan, istilah ini memiliki arti seri karya yang terdiri atas tiga kesatuan yang utuh.

Tiga kesatuan dalam pemahaman al Qur'an itu meliputi, pertama, membaca al Qur'an dan menghafal (tilawatan wa tahfidzan), kedua, pemahaman dan penafsiran (fahman wa tafsiran) kandungan isi al Qur'an atau penafsiran yang benar sesuai kaidah tafsir yang telah disepakati oleh para ulama’, ketiga, pengamalan dan dakwah (amalan wa da’watan), orientasi pemahaman tersebut dimaksudkan untuk pengamalan sehari hari secara pribadi, kemudian berlanjut kepada tuntutan berdakwah diformulasikan untuk menularkan ‘virus’ kebenaran interpretasi kitab suci kepada masyarakat yang mulai dikungkung penafsiran tekstual, bahkan terkadang rigid. Seorang muslim tidak hanya diarahkan membaca al Qur'an untuk dinikmati keindahan susunan bahasanya belaka, lebih dari itu, pembacaan terhadap al Qur'an harus diarahkan untuk membuka cakrawala makna pengatahuan yang terkandung di dalamnya.

Pemahaman terhadap kandungan isi al Qur'an tidak hanya sebatas pelepas dahaga pengetahuan semata, bagai oase di tengah padang pasir, akan tetapi menuntut pembacanya untuk diamalkan, dipedomi dan dijadikan pegangan hidup sehari-hari, mampu tampil menjadi teladan masyarakat sekelilingnya. Perlu segera dicatat, bahwa toleransi di sini tidak identik dengan ‘pembiaran’ manafikan dakwah, melainkan harus terus menerus mengajak kepada jalan kebenaran sesuai dengan yang kita yakini, tetapi terus menerus melakukan gerakan dialogis dengan budaya yang berkembang tanpa melahirkan kekerasan dan kebencian kepada kelompok lain.

Baru baru ini, terlahir disertasi yang ditulis oleh Dr. Irawan, ia membincang empat tokoh pluralis dengan pendekatan filsafat perenial, keempat tokoh tersebut adalah Sayyid Husein Nasr, Gary Legenhausen, Gus Dur dan Cak Nur, keempat-empatnya mempunyai pandangan yang seragam, bahwa semua pemeluk agama berkeyakinan memperoleh keselamatan di alam ‘sana’. Dalam konteks kindonesiaan, pandangan tersebut ekuivalen dengan kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing masing, mereka sejajar sama-sama berpayung teduh di bawah Pasal 29 UUD 1945. Bila demikian, maka harus ada komitmen bersama antar-intern ummat beragama merawat kebinekaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan, tidak sekedar wacana tapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata.
Prof. Nasaruddin Umar, guru besar bidang tafsir, dalam pengantar Muslim moderat: toleransi, terorisme, dan oase perdamaian dengan tegas mengatakan, salah satu ide dasar pemeliharaan moderasi Islam di negeri ini diwujudkan dalam komitmennya dalam melestarikan warisan khazanah Islam klasik dengan mengambil aspek-aspek hal baru yang relevan atau lebih dikenal dengan diktum al-muḥāfadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.

Harus diakui, memang bukan tugas ringan memuluskan jalannya agenda moderasi Islam, jalan yang dilalui penuh onak duri, banyak aral melintang, terlebih buku panduan sucinya berupa teks yang sudah final, sedangkan problem kehidupan berjalan secara dinamis, dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan dalam bidang tafsir, supaya penafsiran kandungan teks suci tetap terjaga sakralitasnya.

Melalui penerapan konsep trilogi qur’ani tersebut di atas, terselip secercah harapan terang menciptakan Islam moderasi di negeri yang majemuk ini, sekaligus mengawal jalannya dinamisasi konstelasi perkembangan NKRI yang semakin majemuk. Selain itu trilogi qurani ini juga diusung dalam rangka menghindarkan masyarakat dari interpretasi ‘menyimpang’ yang berwawasan dangkal, tradisonalis-literalis atau liberal-rasionalis. Keterliabtan pakar tafsir, sarjana muslim dan pemerintah menjadi sebuah keniscayaan tak terbantahkan demi terwujudnya praktik beragama yang pluralis, toleran dan damai

Tulisan dimuat di Koran Harian Duta Masyarakat, 13 September 2017

Mohon Maaf Lahir Bathin

thumbnail
Sabtu senja, saat matahari tenggelam di kaki bumi bagian barat, serentak takbir menggema dimana-mana, dari segala penjuru kota hingga ke plososk-plosok desa, di masjid-masjid maupun di mushollah, di surau dan di meunasah, alunan takbir berlangsung semalam suntuk hingga pagi tiba.

Rasa suka cita, haru dan sedih campur aduk bergemuruh menjadi satu dalam kalbu, seiring datangnya syawal tanggal 1, Bersuka cita karena sukses menuntaskan ibadah puasa satu bulan lamanya, didalamnya kita dilatih mengendalikan nafsu, syahwat perut serta keserakahan dalam berbagai jenisnya. Bukan bersuka ria karena melepas Ramadhan yang seyogyanya selalu dinanti kehadirannya

Kini…Idul Fithri adalah momentum penting menenun kembali persaudaraan dan merekatkan persahabatan yang mungkin pernah terkoyak oleh prilaku yang alpa atau pernah salah kata baik disengaja maupun terpaksa, di momentum Idul Fithri ini marilah kita tebar permaafan kepada sesama. Memaafkan merupakan manifestasi sikap luhur hasil dar oleh oleh hari raya, karena melalui sikap pemaaf benang persatuan mudah ditata, persaudaraan lebih mudah untuk dijaga. Memaafkan tidak lain adalah menghapus kesalahan orang lain, hingga kesalahan yang pernah terjadi tidak berbekas samasekali. Tak peduli dengan jatuhnya gengsi, permintaan maaf harus kita haturkan

Idul Fithri juga menjadi hari pertama praktik hasil puasa Ramadhan kita dan akan berjalan kontinyu sebelas bulan yang akan datang, semoga kita semua selalu dalam bingkai rajutan persaudaraan dan persatuan yang utuh. Amiin ya rabbal alamin

Al-Qur'an Versus WhatsApp

thumbnail

Saya tidak punya pilihan judul tulisan yang paling tepat selain pertarungan membaca al Qur'an dengan membaca WA (WhatsApp) untuk menggambarkan pertarungan hebat saling tarik menarik antara membaca postingan di WA dengan membaca al Qur'an. Bagi orang lain mungkin mudah untuk meninggalkan ikut arus dalam percakapan ringan berbau candaan belaka, tapi tentu tidak bagi saya.

Memang cukup menarik, bercakap-cakap di sebuah grup ngalor-ngidul, selain tidak terikat oleh tema tertentu yang menegangkan syaraf otak untuk berfikir, temanya juga tak terbatas, lazimnya di WA membahas sekitar persoalan canda tawa, tegur sapa di alam maya, berkirim foto atau meme-meme lucu, bila ada tema serius, prosentasenya tak lebih dari satu sampai dua persen belaka. Alih alih ingin menggeser menjadi tema bagus, serius dan bermanfaat tetapi justru malah ikut terbawa oleh derasnya arus tema yang sedang mereka usung. 

Satu lagi yang sering melintas dalam lini masa di WA saya adalah sharing dari grup lain yang murni hasil copy paste (copas). Sehingga penulis dan pembaca sulit diklarifikasi secara ilmiah dengan data-data akademis. Bisa dibayangkan betapa durasi waktu yang terkuras untuk sebuah medsos WA khusunya, sosial media lain umumnya.

Keutamaan waktu hari-hari biasa selain Ramadhan berbeda dengan sepanjang waktu dalam bulan Ramadhan, banyak hadits dan atsar sahabat yang membahas tentang hal itu, sehingga saran para ulama’ untuk memanfaatkan bulan Ramadhan yang sangat singkat dan terbatas tersebut hendaknya difokuskan mengeruk amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Termasuk membaca al Qur'an dan menyelami lebih dalam kandungan isinya. Nah, disitulah terbayangkan bagaimana sulitnya menghindar dari godaan membaca canda tawa di grup WA yang tidak terbatas vis a-vis membaca al Qur'an dalam durasi Ramadhan yang sangat singkat dan terbatas, tentu akan terjadi pertempuran sengit berebut waktu. 

Menghindari hal-hal yang tidak perlu memang butuh tekad kuat, ribuan tahun yang lalu kita diingatkan oleh Rasul saw, bahwa keimanan seseorang bisa dibaca dari kemampuannya menghindar dari sesuatu yang tidak berguna.

Setelah itu lalu heninggg… sambil mikir-mikir


Tanggung Jawab Sosial dalam al-Quran

thumbnail
Jurnal diya al-Afkar, vol.4, no.2 (2016)

Abstrak: Dalam al Qur'an tanggung jawab sosial merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam rangka mempererat sekaligus sebagai perekat persatuan dan persaudaraan ummat, termasuk tanggung jawab sosial di bidang ekonomi, konsentrasi al Qur'an dalam bidang ekonomi sangat diperhatikan, mengingat ekonomi menjadi salah satu elemen pembentuk kesejahteraan, prilaku ekonomi yang dimaksud adalah meliputi produksi, kepemilikan dan dsitribusi, dalam kepemilikan al Qur'an mempunyai pola yang khas, berbeda dengan kepemilikan, kapitalis, sosialis maupun liberalis. Keunikan tersebut bila digali lebih dalam maka kita akan mendapatkan sebuah pola baru dalam pengentasan kemiskinan dan pemerataan. Konsep pemerataan dijelaskan oleh mufasir dengan berbagai cara, diantaranya adalah mengambil metode tematik sebagai pilihannya, sebagaimana yang tertuang dalam Tafsir Tematik Kemenag RI. Tulisan ini hendak melihat lebih dekat keunikan metode tematik yang digunakan oleh al Qur'an dalam menggali konsep-konsep tersebut.

Kata Kuci: al-Qura’an, metode tafsir, tematik, tanggungjawab sosial.

PENDAHULUAN
Al Qur'an menempati posisi sentral sebagai sumber inspirasi, pandu kehidupan, sumber keilmuan dan sumber segala sumber, lautan keilmuan yang terkandung dalam al Qur'an bagaikan samudera yang tak pernah kering untuk dikaji, kedalaman maknanya tidak terbatas serta tak pernah membuat jenuh bagi yang mengimaninya. Namun di sisi lain, serangan, tantangan dan kritikan terus datang bergelombang menghantam al Qur'an, semakin keras pertentangannya bukan malah melemahkan justru melahirkan berbagai disiplin keilmuan yang melimpah. Karena itu, memahami metode tafsir menjadi kebutuhan yang urgen bagi para cerdik cendekia. Agar memperoleh makna yang utuh dan penjelasan yang akurat mengenai apa yang dikehendaki al Qur'an itu sendiri.

Sejarah perkembangan metode tafsir, jika dirunut dari upaya penjelasannya terhadap kandungan isi al Qur'an sebenarnya telah dimulai pada masa Nabi dan para sahabat, meskipun pada saat itu belum disebut sebagai metode tafsir seperti saat ini. Pola penafsirannya pada masa itu masih bersifat global (ijmaliy). Dalam arti penafsiran yang dilakukan tidak menampilkan penjelasan secara rinci dengan argumen dan uraian maksud secara detail. Karena itu tidak keliru apabila dikatakan bahwa metode ijmali merupakan metode tafsir al-Qur’an yang pertama kali muncul dalam kajian tafsir Qur’an. karakteristiknya bersifat singkat dan global, pemaknaannya biasanya tidak jauh dari makna aslinya, sesuai dengan namanya metode ijmāly.

Ada beberapa cara yang ditempuh oleh para pakar tafsir dalam mengungkap kedalaman isi al Qur'an, ada yang menyajikan isi al Qur'an secara berurutan sesuai susunan mushaf seperti yang ada saat ini, di sela sela ayat mereka jelaskan (tahlīly) dengan menonjolkan sisi kebahasaan dan kaitannya antara satu ayat dengan ayat lain (munāsabah) tanpa mengabaikan latar belakang ayat tersebut diturunkan (asbābun nuzūl). Kemudian yang lebih sering kita kenal sebagai metode tahlīly.

Metode lain dalam menjelaskan pesan al Qur'an adalah metode muqāran, yaitu mengumpulkan beberapa ayat yang berkaitan dengan tema tertentu, kemudian menganalisa kecenderungan beberapa mufasir untuk dikomparasikan, tentu dengan memperhatikan latar belakang terlahirnya penafsiran tersebut. Mufassir dalam menggunakan metode ini, dituntut menguasai banyak pendapat dan argumen mufassir yang berkaitan dengan tema yang dibahas tersebut.

Untuk menghilangkan kekaburan metode tematik dan komparasi, al-Farmawi menegaskan pembeda antara metode muqāran dan mauḍu’iy terletak pada tujuannya, bila tematik untuk sampai pada tujuan dengan cara menghimpun seluruh ayat dan menganalisis berdasarkan pemahaman ayat itu sendiri, sedangkan muqāran untuk mencapai tujuan dengan cara menghimpun berbagai pendapat mufasir dan kecenderungan pendapat-pendapatnya yang pernah ditulis mereka. Perlu segera dicatat, bahwa semua metode yang dipakai oleh pakar penafsir tersebut, tidak lain adalah sebuah upaya untuk memberi pemahaman sedalam dalamnya maksud isi al Qur'an.

Melihat perkemabangan penafsiran dan pengetahuan yang demikian pesatnya, maka dibutuhkan kajian metode penafsiran yang bersifat tematik, hal ini dimungkinkan agar tercapainya usaha membiarkan al Qur'an berbicara dengan dirinya sendiri atau sering disebut dengan istantiqu al Qur'ān bi al Qur'ān dengan cara mengumpulkan ayat ayat dalam satu tema tertentu kemudian dianalisa dan disimpulkan kandungannya.

Tafsir al Qur'an Tematik yang disusun oleh Tim Penyusun Lajnah Pentashihan al Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI edisi 2 tahun 2011 ini adalah salah satu tafsir yang ditulis dengan menggunakan metode tematik, diharapkan dapat menjawab pelbagai permasalah ummat, karena itu tafsir tematik layak untuk ditulis dan digiatkan serta mengembangkan tema tema penting keummatan. 

Dalam makalah ini, penulis hendak melakukan anilisis keunikan karakteristik metode penulisan tafsir tematik Kemenag RI dibanding dengan tafsir lainnya, Penulis mengambil bagian ke-2 dari lima tema yang telah diterbitkan, tema yang diangkat adalah tema yang berkaitan dengan Tanggung Jawab Sosial yang akan dibandingkan dengan metode penulisan tagsir tematik lain, yaitu tafsir al māl fi al Qur'an wa as-sunnah karya Dr. Musa Syahin dan tafsir at-takāful fi al Qur'an wa as-sunnah karya Badruddin an-Naajiy, dengan perbadingan tersebut, diharapkan memperoleh perbedaan yang unik dalam tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI.

Dengan batasan masalah tersebut di atas diharapkan penelitian kepustakaan mampu menjawab rumusan masalah sebagai berikut: metode tematik apa yang dipakai dalam penulisan tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI? dan Bagaimana karakteristik dan keunikan tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI dibanding dengan tafsir tematik lainnya ?. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis melakukan analisan data dari buku, jurnal maupun karya tulis yang berkaitan dengan tema tersebut di atas. 

Selengkapnya lihat link

Pancasila, Merah Putih dan NKRI

thumbnail
Duta Harian, 25 Peb 2017
Kita tinggalkan sejenak gegap gempita pesta demokrasi pemilukada yang telah usai digelar, bagi pasangan calon (paslon) yang menang dalam raihan suara terbanyak jangan jumawah, sebaliknya bagi pasangan calon yang kalah harus legowo. Kalah dan menang kompetisi di dalam negara demokrasi merupakan hal biasa, keduanya sama-sama terhormat sebagai putera bangsa yang telah beri’tikad mempersembahkan dirinya mengabdi kepada NKRI, marilah kita fokus kembali kepada persatuan dan kesatuan membangun negeri dalam kerangka bacaan yang sama, yakni persatuan dalam bingkai satu bangsa dan negara di bawah ideologi Pancasila dan Sang Saka Merah Putih.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan lahir dari proses sulap ‘aba gadabra’, tapi diawali serangkaian perjuangan panjang yang melibatkan berbagai kalangan; etnis, suku dan agamawan yang berbeda-beda, serta pengorbanan yang tak ternilai harganya berupa tenaga, harta, airmata, darah bahkan nyawa. Oleh karena itu, tidak dibenarkan klaim agama claim terhadap NKRI ini milik etnis atau agama tertentu.
Biasanya, setiap peristiwa monumental ditandai dengan berbagai konsepsi dan simbol-simbol sebagai tonggak sejarah, tak terkecuali momentum lahirnya NKRI, sebut saja pancasila, bendera, patung proklamasi, tugu dan sederet simbol monumental lainnya.
Simbol-simbol tersebut dimaksudkan untuk mengenang peristiwa yang pernah terjadi masa lampau agar generasi setelahnya tidak mengalami ‘penyakit’ amnesia sejarah, meminjam istilah Bung karno, ‘jasmerah’ kepanjangan dari jangan lupakan sejarah. Dari perspektif komunikasi, simbol-simbol tersebut dimaksudkan menghidupkan kembali teladan patriotik secara dialogis yang berkesinambungan membentengi status merdeka yang telah susah payah diraih.
Sangat tidak masuk di akal, bila muncul sekelompok kecil ‘alergi’ terhadap simbol-simbol tonggak sejarah tersebut yang notabene-nya secara legalitas formal diakui sebagai lambang negara sejak awal berdirinya bangsa ini, bahkan sejak kelompok kecil tersebut belum lahir. Menurut penulis, penghormatan terhadap simbol-simbol tersebut jauh panggang dari api dengan penghormatan dalam konteks beragama. Setidaknya ada dua simbol tonggak sejarah yang sedang hangat diperbincangkan dalam ranah publik, baik media cetak maupun online
Pertama, Pancasila. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya membayangkan burung Garuda yang bulu di lehernya dan sayapnya berjumlah 45 dan 17 helai, kemudian bulu ekornya persis berjumlah delapan helai. Kemudian lima sila adalah ucapan burung garuda tersebut, rupanya asumsi itu tidak benar. Garuda adalah lambang negara, sedangkan numerik di atas adalah simbol yang bertalian dengan hari kemerdekaan, lima sila yang melekat abstrak di dalamnya menjadi falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Bila demikian, maka pancasila menjadi hal yang sangat fundamental dan terhormat, siapapun yang menghinanya harus ditindak tegas.
Konstruk filosofis rumusan Pancasila sebangun dengan kultur kehidupan bangsa Indonesia yang heterogen dan plural. Penjabaran reflektif kelima silanya harus meng-ejahwentah dalam bentuk etika prilaku berbangsa dan bernegara, semua individu maupun kelompok yang tumbuh-kembang di bumi pertiwi ‘haram’ berseberangan dengan falsafah pancasila terlebih lagi bertentangan. Pendek kata, manusia Indonesia harus hidup berketuhanan, beradab, bersatu, suka musyawarah dan berkeadilan. Oleh karena itu, semua aktifitas kebangsaan harus mencerminkan penjabaran dari sila-sila Pancasila yang sudah diajarkan oleh guru-guru kita sejak usia dini itu, ia menjadi soko guru etik NKRI, karenanya tidak dibenarkan menolak kehadiran Pancasila.
TAP MPRS/No.XX/MPRS/1966 menegaskan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, dari sana diharapkan memancarkan sumber-sumber etika politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hiruk-pikuk aktifitas berbangsa dan bernegara harus bertumpu dalam tatanan nilai yang terkandung dalam Pancasila, bagi Indonesia Pancasila laksana ‘kompas’ penunjuk arah untuk menyamakan visi dalam konteks pembangunan NKRI yang lebih kokoh dan solid, karena itu, tidak ada pilihan lain bagi orang orang yang tidak sepaham dengan pancasila, kecuali dia harus mencari lahan di belahan bumi lain sebagai tempat berdiam diri selain tanah pertiwi nan permai ini. Semua prolog diatas mengantarkan kepata kita untuk menyimpulkan, pancasila adalah perekat persatuan dan kesatuan dimana semua hiruk pikuk aktifitas kebangsaan berada di bawah falsafah nilainya.
Kedua, Bendera Merah Putih, Secara jelas disebutkan dalam pasal 35 UUD 1945, Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih, perlakuannya secara tekhnis diatur dalam UU No 24 Tahun 2009. Pasal tersebut berlaku universal berlaku semua rakyat Indonesia, keberlakuannya tidak diskriminatif, tak peduli berbeda agama, keyakinan, etnis, suku, maupun kelas sosialnya, baik pejabat maupun rakyat jelatah, tokoh masyarakat maupun orang biasa, semua ‘wajib’ berbedera negara Merah Putih dan harus menghormatinya sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI, melalui kibarnya semangat darah patriot bergolak melawan penjajah dengan niat yang suci yaitu memperjuangkan pekik kemmerdekaan Indonesia.
Bendera Merah Putih sebagai sebuah simbol merdeka dikibarkan pertama kali oleh Bung Karno dan kawan-kawan, pada tanggal 17 Agustus di Jl. pengangsaan No. 56 Jakarta. Dari sana tonggak dimulainya tinta sejarah bangsa Indonesia meng-ada dalam statusnya yang merdeka.
Dalam catatan sejarah, konon warna merah putih sudah masyhur sejak zaman majapahit, bahkan ada sejarah yang menyebutkan, Jayakatwang menyerang Singosari sudah menggunakan bendera merah putih, sekitar tahun 1292. Terlepas benar dan tidaknya, yang pasti, bendera Merah Putih saat ini sudah sah di mata dunia menjadi bendera negara Indonesia, di bawah kibarnya bangsa ini berdiam diri.
Sangsaka Merah Putih memang tak bertuliskan kata-kata, grafik image atau numerik, namun eksistensi warnanya memancarkan makna, merah artinya berani dan putih artinya suci. Ia harus dijaga, dihormati dan dibela bila ada yang coba-coba ‘mengubah’ ptronase orisinilitasnya. bukan membela sepotong kain dwi warna, tetapi membela Merah Putih berarti membela bangsa dan segala isinya. Di mana pembelaannya dibebankan di atas pundak putera bangsa dengan tekad baja dan semangat empat lima laksana pejuang terdahulu merebut bangsa ini dari cengkeraman kuku penjajah. Kira-kira penghormatan seperti itulah yang diamanatkan oleh UUD 1945 tersebut.
Perlu dicatat, menghormati bendera bukan kultus terhadap benda mati, melainkan bukti tanggung jawab dan cinta tanah air, dari sana kita dipatri menjadi NKRI yang jaya dan bebas dari penjajah. Pembelokan tafsir atas penghormatan yang dikait-kaitkan dengan agama –menurut penulis—adalah tafsir yang berlebihan dan a-historis. Keduanya beda kapling pemikirannya, bila akidah dalam ranah hidup beragama, maka bendera berada dalam ranah bernegara. Dengan demikian jelaslah kiranya, Pancasila, Bendera Merah Putih dan NKRI adalah tiga serangkai yang saling terkait dan terikat. 
selengkapnya linknya ada di sini

Filsafat Al Farabi; Metafisika, Kenabian dan Negara Utama

thumbnail


 
Jurnal Sibstantia, April 2016
Abstrack
Al farabi is a muslim philosopher who create the foundation of islamic philosophy in systemic and detailed to ease understanding for the later. The thought of his philosophy influenced by the the thought of greek philosophy, including problems the creation of the universe, in the sight of alfarabi that the universe is happening out from allah as a fist form called emanation. To obtain the truth, the philosopher can find it by using the sense, while the prophets find it by inspiration given among to the men as a god's choices. In the political field, alfarabi's viem with the concept of 'almadinat al fadilat' resembling the plato's concept of idealized country. In the concept of 'almadinat alfadilat', he said leaders are the first locomotion of the community for getting happiness, as a heart in the body which members of other body is an accomplice in that happiness desired.

Kata Kunci : Al farabi, Filsafat, Metafisika, Negara Utama, Emanasi

Pendahuluan
Al Farabi (latin: Alpharabius) menduduki posisi yang sangat istimewa di jajaran para filososf muslim terkemuka. Terbukti pemikirannya masih mengilhami pemikiran filsafat paripatetik lainnya. Masignon memuji al Farabi sebagai pemikir muslim pertama yang setiap kalimatnya bermakna. Bahkan, Ibn Khulkan memujinya sebagai filosof muslim yang tak mungkin tertandingi derajat keilmuannya. Ia telah berhasil merekonstruksi bangunan ilmu logika (manthiq) yang telah diletakkan pertama kali oleh Aristoteles. Bila Aristoteles yang telah berjasa memperkenalkan ilmu logika (manthiq) dan mendapat sebutan ‘guru pertama’, maka al Farabi atas jasa besarnya mengkombinasikan filsafat Plato dan Aristoteles ia layak disebut sebagai guru kedua (al-mu’alim ats-tsāni).
Julukan guru kedua yang disematkan kepada al Farabi antara lain dengan alasan; Pertama, sangat menonjol dalam ilmu logika (manthīq) yang menjadi pondasi semua cabang ilmu, terutama ilmu filsafat, logika yang dibangun Aristoteles dijelaskan kembali dalam karyanya fil ‘ībārat, penguasaannya terhadap ilmu logika dalam usia yang relatif sangat muda, bahkan mampu mengungguli gurunya Abu Bisyir Matta bin Yunus yang kala itu termasuk orang termasyhur bidang logika di Baghdad, kedua, al-Farabi filososf terbesar setelah filososf Yunani yang berhasil mengharmoniskan pemikiran-pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonis.
Ketiga, kepiawaiannya menyusun rambu-rambu pengetahuan filsafat sehingga mudah dikaji orang orang sesudahnya, ia tuangkan dalam kitab ihshā’ul ‘ulūm. Kitab tersebut berisi lima bab dengan kategori berbeda yaitu ilmu lisan yang membahas lafadz dan pedoman pengambilan dalil bayaninya, ilmu matiq atau silogisme, ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan teologi serta ilmu fiqh dan ilmu kalam, Dalam kitab tersebut Sebagaimana Aristoteles yang membuat rumusan filsafat dan bisa dimengerti dengan sistematis orang orang setelahnya. Dalam ihsha’ul ulum al Farabi menjelas beberapa kategori ilmu dan urutan mempelajarinya.
Definisi filsafat menurut al-Farabi adalah al-‘ilm bi al-maujūdāt bi māhiya al-maujudāt. Ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, termasuk menyingkap tabir metafisika penciptaan. Al Farabi menuangkan pemikiran filsafat penciptaannya dalam karyanya Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah dimulai pembahasan tentang tuhan sebagai sebab pertama, menunjukkan keseriusannya menyingkap tabir gelap pemikiran filsafat metafisika. Tuhan menurutnya sebab pertama dari semua wujud yang ada di jagat raya ini, sama dengan konsep tuhan menurut madzhab Aristoteles bahwa, tuhan maha hidup, azali dan abadi, tiada yang paling awal darinya dan tiada yang paling akhir selainnya, tidak memerlukan iradah yang muaranya adalah sebuah pilihan, karena tuhan telah sempurna. Dia tidak percaya bahwa tuhan tiba-tiba saja memutuskan untuk menciptakan alam, karena hal itu akan menimbulkan pemahaman tuhan yang abadi dan statis tiba-tiba mengalami perubahan.
Al Farabi sependapat bahwa alam ini ‘baru’ yang terjadi dari tidak ada --sama dengan pendapat al Kindi--, Berbeda dengan konsep filsafat metafisikanya Plato yang dikonsepsikan dengan alam idea, Plato hendak mengingkari sifat wujud tuhan dalam mensucikan tuhan, karena apabila mempunyai sifat maka tuhan tidak berbeda dengan wujud yang lain. Al Farabi mengartikan alam idea dari segi kekekalannya --mirip dengan alam akhirat--. Dalam perjalanan sejarahnya ‘alam idea’ Plato ini dihidupkan kembali oleh Plotinus, yang kemudian lebih masyhur dikenal dengan nama neoplatonis.
Al Farabi memandang wujud yang ada ini, merupakan mata rantai wujud abadi yang memancar dari wujud tunggal, kekal dan abadi. Penciptaan jagad raya ini terjadi dalam sepuluh emanasi secara bertingkat, masing masing membentuk bidang wujud tersendiri, langit, bintang dan seterusnya, pada tingkat kesepuluh emanasi terhenti karena daya akal sudah melemah. Bila ditelisik hingga relung-relung pemikiran al Farabi akan kita dapati samudera keilmuannya yang sangat luas bagai lautan yang tak bertepi.
Untuk itu, tulisan ini hanya akan mengulas secara kritis, tentang filsafat metafisika penciptaan alam, konsep akal dan wahyu yang berhubungan dengan kenabian serta ditambahkan dengan konsep negara utama, kesemuanya mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Adapun tujuannya adalah supay kita mendapatkan pemahaman yang integral dan menyeluruh antara hubungan akal-akal dalam filsafat al Farabi dengan filsafat kenabian dan filsafat politik tentang tujuan bernegara.



Biografi Singkat al-Farabi
Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Lharkhan ibn Uzalagh al Farabi, lahir di kota Wesij tahun 259H/872, selisih satu tahun setelah wafatnya filosof muslim pertama yaitu al-Kindi. Ayahnya dari Iran menikah dengan wanita Turki kemudian ia menjadi perwira tentara Turki. Atas dasar itulah al-Farabi dinasabkan sebagai orang Turki. Karir pemikiran filsafatnya dalam menjembatani pemikiran Yunani dan Islam terutama dalam ilmu logika (manthiq) dan filsafat sangat gemilang, sehingga gelar sebagai guru kedua (al-mu’allim tsāni), layak disematkan.
Diriwayatkan telah belajar logika di Baghdad dari para sarjana kristen Yuhanna ibn Hailan (w. 910 M) dan Abu Bisyr Matta (w.940 M), perlu segera dicatat bahwa, Baghdad saat itu termasuk pewaris utama tradisi filsafat dan kedokteran di Alexandria. Pertemuan dan pergumulan pemikiran di situlah nantinya menjadi konektor pemikiran al-Farabi yang meramu filsafat Islam dengan filsafat Yunani Neo-Platonis, Al Farabi dalam perkembangannya juga tercatat sebagai guru Yahya ibn Adi (w. 974 M), seorang penerjemah kristen nestorian sebagai tokoh logika Ibn al-Sarraj. Karir pendidikannya cukup panjang hingga pada tahun 330/941 M, al Farabi meninggalkan Baghdad menuju Aleppo kemudian ke Kairo dan menghembuskan nafas terakhirnya di Damaskus, tepatnya pada bulan Rajab pada tahun 339 H atau Desember 950 M.
Beliau termasuk filososf yang produktif dalam melahirkan berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun berupa tulisan essai pendek dan makalah. Di antara karyanya adalah; Aghrādhu mā ba’da ath-thābi’ah, Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hākimain, karya ini menurut beberapa sumber berisi tentang kemampuan al Farabi mengulas dan mempertemukan pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles.
Karya penting lainnya adalah Risālah al-itsbāt al-mufāraqāt, At-Ta’līqāt, al jam’u baina ra’yul al-h ā kimain, kitab as-syiyāsāt al-madīnah al-fadhīlah, al mūsiqā al-kabīr, Risālah tahsīlu as-sā’adah,‘Uyūn ul-Masāil, al-Madīnah al fadhīlah, Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah, adapun al ihshāul ulūm konon merupakan karya terakhir sebelum ia wafat. Bukti bahwa al Farabi sebagai filosof yang mendalami filsafat Aristoteles adalah, konon pada saat Ibn Sina tidak memahami isi Maqālah fī Aghrād al-hakīm fī kulli Maqālah al-marsūm bi al-hurūf karya Aristoteles dan ia membacanya berulangkali hingga hingga 40 kali, akhirnya berlabuh pada karya al Farabi yang berjudul Tahqīq Gharad Aristātālīs fī Kitāb mā ba’da al-Thabī’ah kemudian tersingkap ‘tabir gelap’ isi pemikiran karya aristoteles tersebut.

Filsafat Metafisika
Tak perlu dipungkiri bahwa semua muslim percaya bahwa semua wujud yang ada adalah ciptaan Allah SWT, tetapi bila dikejar pada pertanyaan paling mendasar tentang dari mana dan bagaimana prosesnya tuhan yang maha tunggal itu menciptakan jagad raya menjadi beragam?, karena hal ikhwal penciptaan secara detai tidak pernah dikupas secara elaboratif oleh al Qur'an maupun hadits, karena kita teahu bahwa al Qur'an memuat hal-hal yang bersifat pokok dan global saja. Bagi filosof memandang proses penciptaan semesta tak cukup puas dengan sekedar kata ‘percaya’ dan akhirnya berfikir mencari rujukan karya-karya filosof Yunani sebagai tangga bantu dan sarana untuk menjawabnya secara rinci dan logis serta sistematis.
Dalam dunia filsafat menyoal penciptaan , ada dua pendapat tentang penciptaan, Pandangan para filosof Yunani umumnya menyatakan bahwa, alam semesta dengan segala pernak-perniknya yang ada ini tidak diciptakan dari bahan tertentu bentuknya, melainkan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), Tuhan menyelenggarakan penciptaan (creatio) dengan tidak memakai bahan apapun, melainkan dari katiadaan (ex nihilo). dengan hal ini berarti alam semesta adalah suatu creatio ex nihilo dari pihak tuhan. Sedangkan pandangan lain menyatakan bahwa alam ini diciptakan dari materi awal (al-hayūlā) yang bersifat abadi, alam ini tidak dicipta dari tiada (creatio an ex nihilo) melainkan ada sejak tuhan ada, mustahil tuhan ada namun tanpa ciptaan, meski secara prioritas waktu berdekatan, namun Tuhan harus dipandang sebagai pencipta.
Mengawali filsafat emanasi versi al Farabi, mungkin akan lebih mudah dimengerti bila dirunut melalui tangga filsafat metafisika neo-platonisme, keduanya mempunyai kedekatan dalam pola pikirnya. Menurut Plato (w. 347 SM) di balik wujud alam ini, ada alam ide (‘alam mitsāl) yang kekal dan abadi. Ide-ide abadi tersebut bersifat non-material bersifat tetap dan tidak berubah-ubah. Dunia ide adalah dunia kekal dan abadi, sementara yang tampak di dunia ini adalah dunia bayang-bayang atau copy dari dunia ide yang abadi tersebut. Dunia ide tetap ada dan kekal meskipun dunia bayangannya musnah, seperti manusia ini akan musnah tetapi dunia ‘ide’ manusia akan abadi selamanya, dengan pemikirannya yang selalu berkaitan dengan ide ini, menujukkan bahwa Plato termasuk aliran filsafat idealisme. Dengan membagi realitas menjadi dua seperti itu, Plato berusaha mempertemukan antara ‘filsafat ada’ menurut Parmenindes dan ‘filsafat menjadi’ menurut Heraklitos.
Lain Plato lain pula Aristoteles (w. 324 SM) selaku murid Plato, ia mencoba melengkapi gagasan Plato yang masih sederhana, baginya ide-ide yang dijelaskan plato tidak menghasilkan jawaban apa-apa. Aristoteles memecah dualisme Plato antara alam idea dan alam materi dengan mengemukakan bahwa, alam ide dan materi itu menyatu, sejalan dengan filsafat metafisikanya Aristoteles bahwa setiap benda terdiri dari jiwa (matter) dan bentuk (form) jiwa adalah substansinya sedangkan melalui bentuk itulah jiwa menampakkan eksistensi. Ia telah mengatasi dualisme Plato tentang idea dan wujud, sedangkan Aristoteles lebih kepada jiwa dan materi menyatu dalam sebuah wujud. Penggeraknya –menurut Aristoteles-- adalah sesuatu yang tak bergerak yang bersifat abadi dan kekal atau lebih dikenal dengan penggerak yang tidak bergerak (al-muhārik al-ladzī lam yatakharrāk) yaitu Tuhan atau dikenal dengan causa prima.
Bagi neo-Platonis, akal menjadi adalah wujud yang paling jelas ‘menyerupai’ Tuhan dari segala alam semesta. Kemudian dari akal tersebut ber-emanasi dan menghasilkan jiwa, jiwa-jiwa ini mempunyai daya pemahaman dan melahirkan bentuk. Ada tiga jiwa yang berbeda yaitu jiwa tumbuhan, hewan dan manusia. dari jiwa melahirkan jasad yang merupakan pelimpahan wujud tingkat ketiga,

Akal Ide
Jiwa Pemahaman
Jasad Bentuk

Pada wujud ketiga ini telah mengalami perubahan yang jauh dari sempurna. Mengingat jasad lebih jauh posisinya dengan Akal ((bc. Tuhan). Namun demikian, hal itu tidak kemudian mempunyai kemiripan dari segala-galanya. Jika akal mempunyai ide, jiwa memiliki pemahaman, maka jasad memiliki bentuk. Semoga gambaran singkat tersebut bisa dijadikan batu loncatan untuk memahami teori emanasi ala al Farabi.
Untuk mendapatkan pemahaman mendalam, Al Farabi setelah membaca karya metafisika-nya Aristoteles ratusan kali tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan, kemudian memutuskan untuk menjelaskan kembali konsep metafisika penciptaan alam dari wujud tunggal yang abadi dengan penjelasan yang lebih detail dan sempurna, menurut al Farabi, alam tercipta melalui pelimpahan atau emanasi. Proses emanasi berlangsung dari akal pertama hingga akal ke sepuluh secara serentak dan bertingkat. Disinilah nampak sekali pengaruh Neoplatonisme terhadap pemikiran metafisikanya al Farabi, dan dapat disimpulkan bahwa alam ini berasal dari zat yang maha tunggal, kekal dan suci melalui pelimpahan (emanasi).
Argumen al Farabi dalam penciptaan alam ini diawali dengan adanya semua alam ini berasal dari wujud tunggal yang mesti ada (wajibul wujūd) yaitu Tuhan, kemudian melimpah menghasilkan (mumkin al-wujūd) . Argumen lain yang dijadikan dasar oleh al Farabi adalah keteraturan alam dan tata letaknya yang sangat teratur seperti anggota tubuh yang bekerja sesuai fungsinya. Hal ini menunjukkan alam ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dari wujud yang tunggal dan melimpah sedemimikian rupa.
Emanasi semua wujud pada dasarnya berasal dari wujud yang satu dan menghasilkan wujud lain, terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis-determinis yang melahirkan alam beraneka ragam. Menurutnya akal murni berfikir tetang dirinya yang menghasil wujud pertama (al maujud al awwal) yaitu Tuhan sebagai akal yang berdaya fikir tentang diri-Nya. Dari daya pemikiran Tuhan yang besar dan hebat itu timbul wujud kedua yang merupakan akal pertama yang juga punya subtansi
Wujud kedua atau akal pertama berfikir tentang dirinya dan menghasilkan wujud berupa langit pertama, akal kedua berfikir tentang tuhan melahirkan akal ketiga, akal ketiga berfikir tuhan menghasilakan akal ke empat dan seterus sampai akal kesepuluh, dari kesepuluh akal akal tersebut berfikir tentang dirinya menghasilkan wujud materi berupa Lanit, Bintang, Saturnus, Yupitaer, Mars, Matahari, Venus, Mercury dan Rembulan
Maujudul Awwal
Tuhan Befikir tentang Tuhan Akal berfikir
tentang dirinya
Wujud 2 Akal 1 Langit
Wujdu 3 Akal 2 Bintang
Wujud 4 Akal 3 Saturnus
Wujud 5 Akal 4 Yupiter
Wujud 6 Akal 5 Mars
Wujud 7 Akal 6 Matahari
Wujud 8 Akal 7 Venus
Wujud 9 Akal 8 Mercuri
Wujud 10 Akal 9 Rembulan
Wujud 11 Akal 10
(Akal Fa’al) Wujud Roh

Pada akal kesepuluh dayanya sudah melemah dan tidak mampu lagi beremanasi. Begitulah mata rantai emanasi berlangsung. Akal kesepuluh ini mengatur dunia fana dan ruh ruh manusia serta empat unsur materi pertama dalam bentuk yakni air, tanah, api, udara. Selanjutnya dari unsur-unsur ini bermunculan materi lain seperti besi, aluminium, tembaga, perak, emas dan muncul juga tanaman dan hewan, termasuk manusia yang diaktualkan oleh akal-akal yang berhubungan dengan akal kesepuluh (‘aql fa’al).
Dengan demikian, al Farabi hendak menjelaskan bahwa walaupun alam itu berasal dari dzat yang satu yaitu Tuhan, akan tetapi keberadaannya qadim karena dalam proses emanasi menurutnya tidak berada dalam lingkup ruang dan waktu seperti waktu di mana kita berada pada saat ini. Mungkin itulah yang dimaksud dengan waktu transenden.
Menurut Harun Nasution, kalau kaum Mu‟tazilah, berusaha memurnikan tauhid dengan jalan peniadaan sifat-sifat Tuhan, berbeda dengan kaum sufi yang mensucikan tuhan dengan cara peniadaan wujud hakikat yang tampak selain wujud Allah, maka kaum filosof Islam yang dipelopori oleh al-Farabi melalui teori emanasinya (al-faidh al ilāhiy) hendak mentaqdis-kan tuhan dengan jalan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan, di sini dapat ditarik benang merahnya, bahwa, baik pemikiran filsafat, tasawuf dan wahyu sama sama ingin mengokohkan ke-esa-an Tuhan melalui metode yang berbeda beda. yang membedakan adalah metode yang ditempuhnya. Rupanya tidak hanya al Kindi dan Al Farabi, tetapi hal yang sama juga dijadikan pedoman oleh Ibn Sina sebagai generasi sekaligus murid al Farabi.

Hubungan Akal, Wahyu dan Konsep Kenabian

Akal dalam pemikiran filsafat al Farabi menempati tempat istimewa sebagai pangkal epistemologinya, termasuk filsafat metafisika yang berhubungan dengan penciptaan. Konsep akal ini erat kaitannya dengan teori kenabian, di mana akal Nabi mampu berhubungan dengan akal ke sepuluh untuk mendapatkan gambaran ‘ada’ dari yang abstrak berupa pengetahuan. Secara garis besarnya akal menurut al Farabi dibagi menjadi dua,
1) akal praktis yang berfungsi menyelesaikan hal hal tekhnis dan keterampilan,
2) akal teoritis yang membantu jiwa mendapatkan inspirasi atau ilham,
Dari akal teoritis tersebut ia mampu menangkap konsep yang tak bermateri (akal actual), kemampuan akal aktual ini dalam menangkap obyek-obyek yang abstrak semata mata hanya dimiliki oleh orang orang tertentu, termasuk di dalamnya adalah Nabi dan Filosof, atau disebut dengan akal intelektual.
Melalui akal intelektual, manusia bisa mencerap hal-hal abstrak yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi, bagi seorang Nabi dengan akal intelektual akal mustafadh, seorang Nabi bisa menerima kode atau isyarat wahyu. Sedangkan upaya filosof untuk berkomunikasi dengan akal fa’al melalui akal intelektual dapat dicapai melalui jalan kontemplasi dan perenungan atau melalui kegiatan berfikir mendalam terhadap sesuatu. Akal inilah yang nantinya akan menjadi modal bagi kita untuk memahami konsep kenabian (nubuwwah) ala al Farabi.
Secara bahasa, wahyu berasal dari kata waha, yahyi, wahyan yang berarti samar atau rahasia adalah pemberitahuan dari Allah secara cepat dan samar disertai dengan keyakinan yang penuh. Baik dengan perantara maupun tidak, denga suara maupun langsung dihujamkan ke dalam hati. Wahyu dituangkan oleh Tuhan secara langsung kepada Nabi pilihannya, bukan berdasarkan keinginannya sendiri. Sehingga tidak diketahui oleh manusia, wahyu merupakan bisikan Tuhan kepada Nabinya sebagai pengetahuan yang cepat dan sangat halus yang muncul dengan sendirinya tanpa harus berijtihad.
Para nabi diberi kemampuan akal mustafadh untuk mencercap isyarat wahyu dalam bentuk kemampuan akal intelek berkomunikas dengan aql fa’al sehingga kebenaran yang dihasilkan wahyu adalah kebenaran yang pasti bukan kebenaran nisbi. Kemampuan istimewa untuk berkomunikasi dengan aql fa’al ini bersifat given dari Allah. Menurut Amin Abdullah, pembahasan filsafat kenabian dalam filsafat Islam merupakan pembahasan yang khas, tidak ditemui di dalam filsafat Yunani secara detail.
Filsafat kenabian ini juga disinalir sebagai jawaban atas keraguan filosof sebelumnya yaitu Abu Bakar Muhammad Ar-Razi (w.925 M) yang menolak adanya kenabian. Menurutnya, para filosof bisa mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan ‘aql fa’al untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, oleh karena itu diperlukan kehadiran seorang Nabi untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan. Bahkan menganggap al Qura’an bukan mu’jizat, melainkan adalah semacam cerita khayal belaka. Ar Razi ingin membebaskan pemikirannya meskipun pemikiran semacam ini cenderung elitis dan inklusif terbatas hanya para filososf yang memungkinkan untuk melakukannya.
Al Farabi hadir dengan knsep kenabian untuk menepis keraguan Ar-Razi dan pengikutnya. Bagi al Farabi, Nabi merupakan gelar kehormatan yang disematkan oleh Allah kepada hamba pilihan-Nya. Kepadanya dituangkan kalam tuhan berupa wahyu untuk di sampaikan kepada makhluk di alam ini. Menurut al Farabi, manusia bisa berhubungan dengan aql fa’al melalui dua cara, yakni: penalaran atau perenungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya bisa dilakukan oleh pribadi terpilih yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh para Nabi.
Denga cara kontemplasi dan latihan berfikir seseorang bisa sampai pada derajat akal kesepuluh, sementara melalui penelitian jiwa, pembelajaran dan latihan, jiwanya akan sampai pada akal mustafad untuk merespon dan menerima cahaya ilahi sebagai puncak imajinasi tertinggi (al quwwah al mutakhayyilah). Orang yang mampu mencapai derajat ini tentu hanya para Nabi, bukan orang biasa secara umum.
Konsep kenabian al Farabi ada kaitan erat dengan politik pada waktu itu, di mana ia berpendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah para Nabi atau Filosof, karena ia mempunyai kedekatan dan mampu berhubungan dengan akal fa’al, yang merupakan sumber kebaikan. Pemimpin ideal seperti yang digagas oleh al Farabi memang jauh dari fakta yang terjadi, sehingga sangat sulit untuk direalisasikan, setidaknya dengan konsep ini memberikan bekal dalam memilih seorang pemimpin.
Seperti pemikir-pemikir lainnya, al Farabi tidak menjadi pemikir yang kebal kritik, pendapatnya tentang imajinasi tertinggi (al Quwwah al Mutakhayyilah) bisa mendekatkan diri kepada aql fa’al sehingga—nyaris-- sama antara filosof dengan Nabi dalam mendapatkan kritik dari Ibn Taymiyah (w. 728) dengan argumen mukjizat kauniyah seorang Nabi, seperti terbelahnya lautan oleh tongkat Musa, turunnya manisan dan burung puyuh (manna wa salwa), memperbanyak makanan dan minuman dari sela-sela jari, dibakar tidak terpanggang dan lain lain tidak mungkin bisa dilakukakan semata mata dengan imajinasi. Walaupun bisa saja mukjizat yang termaktub dalam kitab suci bisa ditakwilkan menjadi makna lain oleh filosof.

Konsep Negara Utama (al-Madīnah al-Fadhīlah)
Ada banyak ragam definisi negara, rupanya sesuai dengan latar belakang tokoh dan keilmuwan yang digelutinya. Robert N Bella, membagi negara menjadi tiga teori, pertama, Negara Kota yang kemudian dilanjutkan oleh al-Farabi dengan konsepsi yang dinamai dengan negara utama (al madinat al fadhilat), kedua, Masyarakat Universal yang diawali oleh Romawi dan berkembang terus hingga abad pertengahan, kemudian dilanjutkan oleh al-Ghazali, ketiga Negara Nasional yang dimulai dari zaman renaisance pada abad ke-15 sampai berkembangnya prinsip nasionalis sampai saat ini. Teori ini dalam islam dipelopori oleh Ibnu Khaldun dengan teori ashabiyah dan Negara Kemakmurannya.
Dalam konteks filsafat al-Farabi mengenai negara utama (al madinah al fadhilah), ia tuangkan dalam karyanya monumentalnya Ara’ ahl madinah al fadhilah banyak diilhami dari konsep Yunani, terutama konsep negara ideal Plato. Plato membangun idenya tentang negara menurut skema tubuh yang disebutnya macro anthropos (manusia makro), sebuah gambaran yang mendominasi filsafat politik sepanjang zaman. Penduduk politik tubuh itu pemerintah adalah kepalanya, militer adalah dadanya dan anggota tubuh lain adalah elemen negara penting lainnya. Konsep negara menurut Plato tidak lain adalah negara etik, bahwa peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum--menurut Plato-- tidak boleh diputus oleh kemauan atau pendapat seorang atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan budi pekerti. Sehingga mencerminkan pemerintahan dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu idea kebaikan atau pengetahuan.
Secara ringkas al Farabi dalam karyanya al-Madīnah al-Fadhīlah menyatakan bahwa kecenderungan manusia hidup bersosial dengan orang lain yang kemudian melaluoi proses yang panjang terbentuklah sebuah negara. Dari Negara tersebut mereka hendak mencapai kebahagiaan secara bersama sama, indikasi kebahagiaannya adalah tercukupinya sandang, pangan, papan dan keamanan kebahagiaan yang dicita-citakan tersebut bisa dicapai dengan cara membentuk sebuah negara yang disebut negara utama (al-madinat al-fadhilat). Dalam pandangan al Farabi, negara utama diserupakan bagaikan badan sehat yang dilengkapi anggota tubuh sempurna, saling membantu dan bersinergi dengan anggota tubuh lain dalam upaya menyempurnakan kehidupan, di dalamnya mempunyai satu pemimpin yaitu jantung. Penisbatan jantung sebagai pemimpin ini dalam hal sebagai penggeraknya, oleh karena itu, semua anggota masyarakat bisa menjadi pemimpin negara, seseorang yang bisa memimpin negara adalah orang yang mempunyai kapasitas tertinggi dalam sebuah negara.
Kriterian pemimpin yang ideal adalah, fisik sempurna, cerdas, mempunyai pemahaman yang baik, pandai memberikan pemahaman kepada oranag lain, cinta terhadap ilmu pengetahuan, tidak rakus terhadap makanan, pandai bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai sifat berjiwa besar, tidak memandang kekayaan dunia adalah segala-galanya, berlaku adil dan membenci kedhaliman, memiliki keseriusan yang tinggi terhadap sesuatu yang dianggap penting. Dari sini nampak bahwa al-Farabi ingin mengkombinasikan konsep negara pemikiran filsafat Yunani dengan Konsep Negara Islam.
Ali Maksum menuliskan, Menurut pendapat al Farabi, Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang sama persis seperti pemimpin yang dikonsepsikan oleh Plato, yakni seorang ideal yang telah mampu mengungkapkan kebenaran universal yang bersifat imajinatif yang bisa dimengerti oleh orang awam. Adapun sebagai mata rantai kenabian sebagai pemimpin sebuah negara, negara utama haruslah dipimpin oleh seseorang yang mempunyai pengetahuan yang luas, akal yang jernih dan mempunyai kemampuan daya pikir yang kuat, pemimpin yang demikian ini tidak lain adalah seorang filosof.

Kesimpulan
Pertalian pemikiran al Farabi sangat erat dengan filsafat Yunani, Oleh karena itu untuk memahami pokok pikiran al Farabi mutlak dibutuhkan menyelami pemikiran filsafat Yunani. Al Farabi adalah sosok filosof muslim yang pengetahuannya mapan, di samping ilmuwan juga ‘alim yan ghidup dalam kesederhanaan.
Dalam filsafat metafisika, al Farabi berpendapat bahwa penciptaan alam ini terjadi secara emanasi atau pancaran tuhan (al faidh al ilahiy) melalui daya akal yang tunggal dan esa, kekal, abadi yang disebut akal murni, kemudian menjadi alam raya yang beraneka ragam, proses emanasi berhenti pada akal ke sepuluh yang dinamai akal fa’al, pada akal ke sepuluh ini tidak lagi ber-emanasi karena daya kekuatan akalnya melemah. Dari akal kesepuluh ini melahirkan materi, seperti air, api, udara, tanah kemudian diikuti berbagai unsur lainnya. Pada konsep emanasi ini, nampak sekali pengaruh filsafat metafisikanya neo-platonisme.
Bagi al Farabi, baik Nabi, Filosof dan Raja adalah satu kesatuan makna, namun berbeda pendekatannya. Nabi adalah orang suci yang terpilih untuk menerima titah kebenaran berupa wahyu, sedangkan filosof melalui logika berpikirnya dapat mencapai sebuah kebenaran yang hakiki, sedangka raja atau pemimpin adalah orang yang berkemampuan dan kecerdasan tinggi serta kepribadian yang luhur untuk mempropagandakan kebaikan kepada rakyatnya. Dari kepribadian luhur itulah negara digerakkan, anggota tubuh sebagai menterinya, sinergisasi fungsinya akan menciptakan kebahagiaan sebagai salah satu tujuan dibentuknya negara, konsep negaranya disebut negara utama (al madinah al fadhilah)


==============


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Qur’an dan Terjemah.
  2. Abdul Karim, Aim, 2006, Pendidikan kwarganegaraan, (Jakarta: Grafindo)
  3. al Badawiy, Abd. Rahman, Rasa’il falsafiyyah, (Beirut: Dār Andalusi, tt)
  4. Al Farabi, ‘Arā’ ahl al-Madīnah al-Fadhīlah, tahqiq, Dr. Al Biir Nasri Nadir, (Beirut: Daar Al Masyriq)
  5. __________, Ihshā’ul ‘Ulūm , (Beirut : Inmaul Qaumiy, tt)
  6. __________, Tahshīlus Sa’ādat, 1995, tahqiq DR. Alibu Mulham, (Beirut: Daar al Hilal)
  7. Amin Abdullah, 1992, Aspek Epistemologis Filsafat Islam, (Diss Yogyakarta)
  8. Armstrong, Karen, 2003, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan Utama
  9. Bagir, Haidar, 2006, Buku Saku Filsafat, Bandung: Mizan
  10. Bakar, Osman, 1997, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al Ghazali Dan Quthb Al-Din Al-Syirazi, Terj. Purwanto Bandung: Mizan
  11. Darmodiharjo, Darji, Prof., SH. 2006, Pokok-pokok Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta: Gramedia
  12. Drajat, Dr. Amroeni, 2005, Suhrawardi: Kritik Falsafah Paripatetik, Yogyakarta: LkiS
  13. Fuadi, 2013, Peran Akal menurut Pandangan al-Ghazali, Jurnal Substatia, Vol. 15, No. 1
  14. Halim Mahmud, Ahmad, at-Tafkīr al-Falsafī al-Islamī, Kairo: Dār al Ma’ārif, tt
  15. Hardiman, F. Budi., 2009, Politik sebagai Pengawasan Tubuh, Sebuah Tinjauan Filosofis atas Hubungan Politik dan Erotik dalam Politea Plato, Studia Philosophica et Theologica. Volume 9. No.1
  16. Hatta, Muhammad, 2001, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  17. Hawa, Said, 1998, Allah Jallā Jalāluhu, terj. Muhtadi Abdul Mun’im, Allah swt., Jakarta; Gema Insani Press
  18. Husein Nashr, Sayyed dan Oliver Leaman, 2003, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam I, Terj. Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, Cet I.
  19. Ibn Taymiyah, Kitab al-Safagiyah, tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim
  20. Irfan, A.N., 2014, Masuknya Unsur-unsur Pemikiran Spekulatif Dalam Islam: Kajian Atas Logika Dan Metafisika al-Farabi, CMES: Jurnal Studi Timur Tengah. Volume 7, No. 2
  21. Juwaini and Nik Yusri bin Musa. 2010, Konsep Akal :Suatu Analisis Terhadap Pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina." Substantia Volume12. No.2
  22. K. Bertens, Prof., 2008, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, cet.V
  23. Kartanegara, Mulyadhi, 2007, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, Jakarta: Erlangga
  24. M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  25. Majid, Abdul. Filsafat Al-Farabi Dalam Praktek Pendidikan Islam. Jurnal Manarul Al Qur'an, abcd.unsiq.ac.id
  26. Maksum, Ali, 2009, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
  27. Masfoefah, Siti., 1996, Eksistensi Jiwa Menurut al Kindi. Diss. UIN Sunan Ampel Surabaya
  28. Muhammad, Hasbi, 2010 “Pemikiran Emanasi Dalam Filsafat Islam Dan Hubungannya Dengan Sains Modern”, Al-Fikr. Volume 14. No. 3
  29. Nasutuion, Harun, 2000, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution, Bandung: Mizan
  30. Nurdin, M. Amin, Sejarah Pemikiran Islam, (ed), (Jakarta: AMZAH), 2015
  31. Nurseha Dzulhadi, Qosim, 2014 “Al Farabi Dan Filsafat Kenabian”, Jurnal Kalimah, Maret, volume. 12
  32. Petrus L.Tjahjayi, Simon, 2004, Petualangan Intelektual: konfrontasi dengan para filusuf dari zaman yunani hingga modern, Yogyakarta: Kanisius.
  33. Salmah, S. Pd I. "Aktualisasi Filsafat Al-Farabi dalam Era Modern”, Telaah Kritis Teori Kenegaraan al-Madinah al-Fadhilah."
  34. Sholihin, KH. Muhammad, 2008, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, Yogyakarta: Narasi
  35. Uliri, Daulasi, 1961, al-fikr al-‘arabiy wa makānuhū fīt-tārīkh, Kairo: Ālam al-Kutub
  36. Wahid, Dr. Ali Abdul Wafi, al-Madīnah al-Fadhīlah lil Farabi, Kairo: Nahdhoh Mishri, tt




Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca

thumbnail
Terbit, 25 Nopember 2016
Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca adalah artikel yang sempat di terbitkan di koran lokas bertepatan pada hari guru, cukup beralasan kiranya pimpinan redaksi Tangselpos menertbitkan bertepatan dengan hari guru, karena tema tulisan ini sangat kental dengan nuansa pendidikan. selamat membaca.
 
Seiring dengan kuatnya bacaan orientasi keahlian dan peneguhan cita-cita anak bangsa ditemukan bentuknya, cendekiawan bijak bestari pernah mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku bergizi akan menambah supply pengetahuan yang berkualitas, pada akhirnya tercetak generasi berpengetahuan luas yang didedikasikan sebagai aset bangsa. Sebuah bangsa dengan pengetahuan maju akan lebih percaya diri untuk tetap duduk sama rendah berdiri sama tinggi di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. 

Negara-negara maju banyak menerapkan pengetahuan sebagai kekuatan dan aset bangsanya, Francis Bacon pernah mengatakan knowledge is power, mereka sadar bahwa sumber daya alam yang dimiliki sangat terbatas seiring tumbuh kembangnya jumlah penduduk yang terus bertambah. Lalu bagaimana pergulatan putera puteri ibu pertiwi ini dengan minat baca.

Minat baca bangsa Indonesia sangat memprihatinkan, terbukti melalui hasil survey "Most Littered Nation In the World" oleh Central Connecticut State Univesity Maret 2016 yang menempatkan Indonesia jatuh di peringkat ke-60 dari 61 negara, Posisi Indonesia persis berada di bawah Thailand peringkat 59 (Kompas, 29/8/2016).

Komitmen peningkatan minat baca anak bangsa yang diinisiasi PT Gramedia Asri Media patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, ide cemerlang melalui event big sale yang diselenggarakan di kawasan Industri Pergudangan Taman Tekno, XI Blok D 12B-15 BSD City, Tangerang Selatan, sejak tanggal 8 sampai dengan 22 Nopember tak pernah sepi pengunjung. Tak kurang dari 20.000 judul buku dijual dengan harga murah di sana. 

Masyarakat berbondong-bondong rela masuk dalam jajaran anggota antrean panjang, hingga diberlakukan buka tutup, masing masing pengunjung diberi kesempatan satu jam untuk membrong buku yang diminatinya. Pemandangan seperti ini kiranya sudah cukup menjadi bukti, bahwa minat baca bangsa ini masih relatif tinggi, adapun fakta menempatkan Indonesia berada pada di peringkat ke- 60 dunia, lebih disebabkan faktor ekonomi menghadapi realitas harga buku tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tinggal bagaimana respon pemerintah menangani realitas perbukuan yang ada saat ini, supaya penerbit mampu mematok harga yang lebih terjangkau oleh semua kalangan.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan –termasuk minat baca-- memang sudah dilakukan antara lain berupa naungan payung hukum di bawah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Pencanangan Gerakan Membaca. Disusul dengan Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, bentuk implementasinya berupa penggunaan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk menemu-kenali potensi siswa, dalam konteks siswa sebagai subjek sedangkan Permendikbud berfungsi sebagai predikat. Hemat penulis, langkah tersebut masih harus diikuti dengan objek sasarannya, yaitu buku murah yang terjangkau oleh orang-orang berkantong dangkal. 

Problem peningkatan mutu sumber daya manusia dimana pendidikan dan pengetahuan sebagai tolak ukurnya memang banyak menemui banyak kendala, selain peroalan jumlah anggaran, sistem pembelajaran, kompetensi guru, infrastruktur, juga diperparah oleh rendahnya minat baca, walhasil penyediaan buku murah menjadi salah satu mesin dongkrak meningkatkan pendidikan secara umum dan merata, segmentasinya tidak hanya di bangku-bangku sekolah atau kuliah, terbatas hanya pelajar dan mahasiswa, upaya ini dimaksudkan mampu menggeser paradigma warga negara menjadi lebih maju, lebih kreatif dan orienntatif dalam menyongsong masa depannya. 

Dengan buku murah, setiap warga diharapkan menjadi kolektor buku kemudian menelusuri kandungan pengetahuan dalam buku koleksinya, baik di rumah, di tempat kerja, terutama di lembaga-lembaga pendidikan. Pemanfaatan waktu luang untuk membaca lebih terbentang luas, bukankah Cicero seorang orator dan penulis dunia pernah mengatakan: “a room without book like body without soul”. Membaca buku berkualitas akan mempercepat roda penggerak agenda perubahan, karena dalam buku yang dibaca tergambar isi dunia, letak, pelaku dengan segala karekater yang melingkupinya. 

Pendek kata membaca adalah jendela dunia. Inilah sesungguhnya yang perlu dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu implementasi jargon ‘revolusi mental’ yang mana gaungnya telah diperdengarkan di ruang dengan kita di babak-babak awal kampanye pemilihan presiden terpilih saat ini, melalui bacaan ranah wawasan bertambah serta memicu imajinasi dan kreatifitas generasi selanjutnya. Bermula dari imajinasi selanjutkan dilakukan sebuah aksi atas gambara dunia dengan segala isi dan hiruk pikunya penduduk dunia, termasuk letak dan segala karakter yang melingnkupinya. Sketsa kejadian di dunia terpampang jelas dan membentang luas di hadapan pembacanya. Dari ruang baca tersebut akan lahir ide-ide tiruan atau bahkan menciptakan hal hal baru untuk kemajuan bangsa ini.

Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana cara menciptakan buku murah yang sesuai dengan kompetensi pembacanya, bila buku hibah terkadang tidak sesuai dengan keinginan pembaca. Tentunya selain upaya-upaya tekhnis di atas, Tidak lain adalah upaya campurtangan pemerintah secara praktis dengan menyisihkan anggaran dana belanja pendidikan dialihkan ke penerbit-penerbit yang berkompeten diwujudkan dalam bentuk subsidi kertas untuk menerbitkan buku, mengingat bahan dasar buku adalah kertas. 

Langkah alternatif ini dimaksudkan supaya penerbit mampu mencetak buku dengan biaya murah, kemudian diikuti dengan harga buku murah pula. Fasilitas subsidi kertas juga semakin meningkatkan daya rangsang penulis dengan memberikan lebih insentif dari alokasi pendanaan untuk kertas tersebut, Murahnya harga buku tersebut pada akhirnya akan terjangkau oleh semua kalangan, utamanya pera pelajar dan mahasiswa. Keuntungan langkah alternatif ini juga akan memacu peningkatan produksi kertas diikuti budidaya bahan baku kertas, tidak hanya itu saya kira, penulis penulis akan bermunculan dan penerbit bersaing di bawah pengawasan pemerintah.

Menegaskan Kurban Sapi Untuk Tujuh Orang

thumbnail
Kurban sapi untuk tujuh orang
Tanpa sedikitpun memperuncing perdebatan soal peruntukan hewan kurban kambing untuk 1 orang dan Sapi 7 orang seperti opini dari video seseorang yang kurang lebih isinya adalah mempertanyakan dalil kurban sapi untuk tujuh orang. Maka perlu adanya pembanding pendapat, setidaknya untuk mempertajam kehati-hatian dalam berfatwa, karena ilmu ini tak bertepi maka tak pantas menyalahkan orang lain sebelum meneliti lebih detail jejak epistemologi yang dijadikan sebagai dasar sebuah pengetahuan.

Sudah mafhum kiranya, bahwa Nabi pernah berkurban untuk keluarganya dengan satu domba, namun juga ditemukan hadits yang dikaitkan unta atau sapi untuk 7 seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan menyebut jenis unta badanah dan sapi boleh untuk tujuh orang dalam hadyu (dam). Kita juga mesti mengenal ada syariat kehususan untuk Nabi, misalnya dalam menyembelih kurban rasul berdoa
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى
Namun do’a ini tidak pernah dilakukan oleh sahabat yang menunjukkan adanya isyarat tentang kehususan Nabi. Namun untuk mengatakan kurban yang dilakukan oleh Nabi saw adalah sebuah bentuk kehususan masih perlu kajian yang mendalam lagi untuk mengetahui isyarat persisnya.

Dalam beberapa kitab fiqh as-Syafi’i, sebut saja kitab at-tanbīh fi fiqh Imam Syafi’i karya Yusuf As-Sirazi, memasukkan pada bab uḍhiyah (kurban) menjelaskan bahwa, satu sapi untuk tujuh orang, dalam karya yang lain As-Syirazi memperjelas bahwa sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang senada dengan pendapat Taqiyuddin as-Syafi’i dalam kifayatul akhyar yang menerangkan bahwa satu unta badanah untuk tujuh orang dan kambing untuk satu orang.

Badanah bermakna unta atau sapi yang telah digemukkan dan disiapkan untuk dikurbankan dalam Haji, sedangkan Jazur bermakna unta yang disiapkan untuk disembelih. Dalam penjelasan tentang hadits yang membolehkan badanah untuk tujuh orang. Adapun hadits yang dimaksud adalah:

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌ الْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ
Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdillah berkata; “Kami bersekutu (patungan) bersama Nabi Saw di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam Jazur (hewan kurban yang sudah siap disembelih) sebagaimana bolehnya bersekutu dalam badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau sapi?” Jabir menjawab, “Jazur itu sudah termasuk badanah.” Jabir juga turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor badanah. Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah.” (H.R. Muslim).

Mengenai hadits riwayat Jabir bin Abdullah ia berkata; “Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah Saw di tahun perjanjian Hudaibiyah, untuk kurban seekor unta atau seekor sapi, kami bersekutu tujuh orang.” (H.R. Muslim), Zakariyah Anshoriy dalam kitab Asna al Mathalib menegaskan, bahwa ketujuh orang tersebut bukan satu keluarga, seperti yang dikatakan oleh Muhammad al-Ghamrawiy dalam kitabnya as-siraj al wahaj ‘ala matnil minhaj, bahkan Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj juga menegaskan diperbolehkannya seandainya diantara mereka ada sebagian yang diniatkan membayar dam dan sebagiannya lagi untuk berkurban. Hal itu memperkuat dugaan diperbolehkannya untuk berkurban sapi untuk tujuh orang.
Adapun hadits-hadits semakna dengan hadits di atas adalah

وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ»

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «كُنَّا نَتَمَتَّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعُمْرَةِ، فَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهَا»

Sisi teologis berkurban yang patut direnungkan adalah nilai pengorbanan atas kepatuhannya kepada perintah Allah dan nilainya dalam berbagi, tidak hanya sekedar mengukur besar dan kecilnya hewan sesembelihan, karena Allah bukan kanibal pemakan daging juga bukan Tuhan yang haus darah seperti kepercayaan mereka terhadap para dewa dan berhala sesembahannya. Penilaian Allah terletak pada nilai taqwa yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk hewan kurban, sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah atas kelebihan karunia yang diberikan kepada kita. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.. (Al Hajj: 37)

Dengan demikian makin banyak yang dikurbankan disertai dengan keikhlasan semata mata menjalankan perintah Allah maka nilai kebaikannya tentu semakin berlimpah bila dibandingkan dengan pengorbanan yang kecil dengan kadar keikhlasan yang sama.