Ads 468x60px

twitter facebook +mwiyono LinkedIn Tumblr. RSS Feed Email BBM WA Blogger http://mwiyono.wordpress.com

Monday, February 8, 2016

Selamat Jalan Ibu Titi Sri Sulaksmi Soebono...

Duka mendalam dari keluarga, karib kerabat dan teman sejawat tercermin dari wajah dan mata mereka yang berkaca kaca saat mengantarkan Ibu Titi ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman khusus Yayasan Soebono Mantofani, beliu tutup mata pada hari Jumat, 5 Pebruari 2016, pukul 20.52 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun. Semoga Almarhumah khusnul khatimah dan ditempatkan oleh Allah di tempat yang mulia di sisi-Nya amiin.

Selaku Pendiri sekaligus ketua Umum, beliau selalu mengajarkan kedisiplinan kerja dan memperhatikan semua hal sampai hal terkecil secara detail, beliau mendirikan yayasan ini tercatat dalam prasasti tanggal 14 Januari 1994 sebagai salah satu dakwahnya dalam menyebarluaskan pengetahuan ke masyarakat umum. Secara hitungan rentang waktu sampai berpulangnya Bu Bono –begitu sapaan beliau—berarti kurang lebih 22 tahun.

Berkenalan Dengan Bu Bono
Saya mengenal Bu Bono diperkenalkan oleh KH. Muhtadi Alawi selaku ketua harian pertama dan termasuk perintis yayasan bersama dengan teman-temannya. saya tercatat sebagai guru di yayasan ini sejak tahun 1996 setelah lulus Madrasah Aliyah Assa’adah Sampurnan Bungah Gresik, kemudian pada tahun 1997 melanjutkan studi di UIN Jakarta kemudian kembal bergabung mengabdi di Yayasan ini pada tahun 2002 hingga sekarang.

Tuesday, February 2, 2016

Berkarya Kemudian Menyejarah

Terkadang terlintas dalam pikiran yang bosan berputar dalam pusaran arus perjalanan hidup yang ‘begini-begini saja’, tak ada nuansa hidup lain, selain rutinitas yang padat, bekerja, kuliah dan di akhir bulan menunggu gajian tiba. Ada hampa di dalamnya karena tak ada harapan yang lebih berarti untuk ditinggalkan dalam setiap jengkal liku kehidupan ini. Berawal dari sini, semoga ada secercah harapan baru yang layak dijadikan modal penting untuk merefleksikan kehidupan, karena hidup yang tidak direfleksikan maka tak layak untuk dihidupi. 

Untuk menjadi hidup lebih bermakna, salah satunya adalah harus dilalui dengan melahirkan sebuah karya, dengannya alam sekitar bisa mengingat dan siap untuk diapresiasi oleh orang-orang setelah kita, karena tanpa karya apapun mustahil anak cucu mengingatnya apalagi membanggakannya. Setidaknya ada dua isi kehidupan ini, yakni membaca dan menulis, dengan membaca wawasan menjadi luas, pengetahuan makin mendalam dan sudut pandang keilmuan menjadi lebar. Karena pengetahuan pula salah satu cara untuk berekspresi dalam menjani langkah kehidupan yang kian hari kian sulit, rumit dan problema terus membumbung tinggi melangit.

Friday, January 29, 2016

Telaah Historis Terhadap ‘Bibit’ Teroris

29/1/2016
Jelang makan siang tanggal, 14 Januari 2016 tercatatan sejarah kelam bagi Jl. MH. Thamrin, Jakarta pusat akibat ledakan bom dan baku tembak antara aparat polisi dengan kelompok tak dikenal, korbanpun tak terelakkan, suasana Ibu Kota mendadak menjadi tegang dan mencengangkan, hujatan dan tanggapan dari berbagai pihak pun muncul seiring dengan terusiknya kenyamanan ibu kota tersebut, sebagian tanggapan menduga dilakukan oleh gerakan radikalisme atas nama agama, bahkan ada yang berasumsi karena faktor politik dan ekonomi. Penulis fokus pada penelusuran asal usul dan gerakan radikalisme dan motif pendorong dibaliknya.

Monday, December 21, 2015

Menakar Kriteria Pemimpin Ideal

tes all
terbit, 19-12-2015
Pesta demokrasi pilkada yang menjadi hajatan besar bangsa ini sudah sepekan berlalu, kita patut bersyukur karena berjalan aman dan lancar, meski ada beberapa daerah yang masih berseteru, namun kiranya masih dalam batas yang wajar. Momentum ini sangat berarti sebagai langkah awal sebuah pemerintahan daerah dimulai, pilkada yang dilakukan serentak tersebut berdasarkan Undang undang No. 8 Tahun 2015 yang tentang perubahan undang undang sebelumnya, semua tentu berharap menghasilkan pemimpin yang sungguh-sungguh memperjuangkan rakyatnya, bukan kepentingan pribadi atau keluarganya. 

Figur pemimpin menurut Plato adalah penggerak utama roda pemerintahan. Ia mengangkangi semua bentuk kebijakan dari hilir hingga hulu, dimana rmuara besarnya adalah negara. Pasca pemilukada sembari menunggu hasil rekap dan ketetapan, marilah kita pergunakan untuk mencari alat ukur kriteria pemimpin ideal di daerah masing-masing, tulisan pendek ini hendak memotret kriteria pemimpin ideal menurut pemikiran al Farabi, sang filosof paripatetik yang bertengger di papan atas dalam jajaran pemikir Islam.

Biografi al-Farabi
Al Farabi (w.950 M) yang punya nama asli Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad al-Farabi adalah filosof muslim yang namanya menggaung di seluruh dunia hingga ke daratan Eropa, ia terkenal sebagai the second master setelah Aristoteles, penguasaannya terhadap 70 bahasa mengantar dirinya sebagai pemikir yang tak lekang di makan zaman, bahkan hingga kini terus mengilhami pemikiran-pemikiran modern dalam bidang filsafat, pendidikan dan politik. Ia berhasil membuat rumusan negara ideal yang disebut sebagai Negara Utama (ahl Madinah al fadhilah) yang ia tuangkan dalam sebuah buku ‘ara ahl madinah al fadhilah hingga saat ini masih menjadi rujukan pemikir modern. 

 

Sosial Media

About Me

My Photo
Menapaki setiap jengkal langkah hidup ini dengan belajar tiada henti, menuju suatu titik nan suci