Kesiangan

thumbnail

Minggu pagi ke-3 ini seharusnya saya memberikan kuliah subuh materi tafsir di sebuah masjid al-Fithrah perumahan Sudimara dekat kawasan perumahan Bintaro Indah, namun apa hendak dikata, gagal karena kesiangan. Menyesal luarrrrr biasa karena jadi merepotkan pengurus, membuat diri ini malu juga termasuk menelantarkan jama'ah.

kesiangan kali ini tergolong unik, pasalanya Alarm yang sudah saya siapkan dari jam 3 malam itu tak berbunyi karena setting jam-nya yang salah... Pukul 03 yang di setting bukan jam 03 dini hari di hari minggu tapi pukul 03 sore hari. houw ho..ho..ho.. Segala persiapan sudah dilakukakn dimalam harinya, kebiasaanku tidak pernah tidur kecuali larut malam sudah diganti tetapi tetap saja tidak bisa membangunkanku di pukul 03.00

Setelah memberitahukan kesiangan dan meminta maaf kepada yang bersangkutan, akhirnya kurenungi kejadian yang ada, dan samapai kapanpun mungkin tidak akan terlupakan. Memang setiap minggu ke-3 saya harus mempersiapkan diri untuk memberi ceramah di tiga tempat setiap minggunya.. namu apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, bubur inilah yang harus dimanfaatkan dengan mencari hikmah dari kesiangan dan mengharap bimbingan dari Allah swt.

Disadari sepenuhnya bahwa ini adalah Aib, penulisan ini adalah menjadi kenangan dan bahan renungan, bahwa rencana manusia selamanya tidak akan mulus tanpa pertolongan dari Allah swt. apalagi hanya pertolongan kepada sebuah alarm saja. Bantu aku mendapat pencerahan dan hikmah yang ada.

Selamat datang Rajab dan Sya'ban

thumbnail
Kita menyambutnya dengan riang gembira kedatangan Rajab dan Sya’ban karena dibaliknya ada bulan suci Ramadhan yang diberkahi, diberkahi dalam artian kebaikan an keutamaan di dalamnya termasuk lailatul qadr. Biasanya dari bulan rajab, banyak penceramah yang mengutip do’a Nabi saw, agar dirahmati di bulan Rajab dan Sya’ban, Secara lengkap Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn Majah/35 berbunyi:

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر (مسند الإمام أحمد 1/259)

‘Abdullah menceritakan kepada kami, Ubaid bin Umar menceritakan kepada kami, dari Zaidah bin Abi Riqad, dari Ziyad an-Namiriy, dari Anas Bin Malik: Nabi saw apabila telah masuk bulan rajab berdo’a: ” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di buan Ramadhan”. Dan beliau bersabda: Malam jumat bersinar dan siangnya bercahaya" (HR. Ahmaad:1/259)

Hadits tersebut di atas dapat ditemui dibeberapa kitab hadits dan kitab lainnya yang sudah masyhur antara lain Musnad Imam Ahmad 1/259, Ibn Abi Dunya dalam bab “fadhilah ramadhan”, Ibn Bazar dalam kitabnya Kasyful Astar 961. Kitab hadits lain seperti al ausath 4/189 dan ad-Du’a 837 karya Imam Thabarani, dituliskan juga oleh Ibn Sinai dalam kitab “al yaum wa lailah” juga Abu Nu’aim didalam karyanya “al Khulyah 6/269” terdapat pula dalam kitab “As-Sya’b karya Imam Baihaqi 3/375, juga di dalam kitabnya “fadhail al auqaat 1/105 dan beberapa kitab lainnya.

Hadits tersebut apabila dikaji dari sanadnya dinilai oleh beberapa ulama’ hadits sebagai hadits dho’if, berikut penilai dari beberapa ulama’ hadits dalam jarh wa ta’dilnya, di dalam hadits tersebut ada perawi yang bernama Zaidah bin Riqad, perawi ini menurut beberapa ulama’ hadits dinilai sebagai perawi yang lemah, diantara pendapat ulama’ tersebut adalah sebagai berikut :

Imam bukhariy dalam kitabnya Tarikh al Kabiir 3/433 termasuk perawi yang munkar, begitu juga menurut penilaian Abu hatim dalam kitabnya jarh wa ta’diil, Imam an Nasa’iy dalam kitabnya ad-dhu’afa menilai dia adalah perawi yang munkar. Abu Daud menilai tidak diketahui siapa Zaidah bin Riqad itu, Ibn Hajar menilaidia adalah perawi yang munkar, Yahya bin Ma’in memberi penilaian hadits yang diriwayatkan olehnya adalah dho’if, Iamam Nawawi dalam kitab adzkarnya mengatakan hadits tersebut dho’if. Dalam kitab syu’bil Iman 3/375 mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits munkar. Menurut ad-dzahabiy dalam mizan al I’tidal 3/97 termasuk perawi yang dho’if

Apa sih yang disebut dengan hadits munkar itu?, hadits munkar adalah hadits yang di dalamnya diriwayatkan oleh sanad yang kekeliruannya amat parah, pelupa atau fasik demikian definisi hadits munkar yang diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Definisi ini juga digunakan oleh Al-Baiquni dalam Mandhumat. Atau bisa jadi hadits tersebut diriwayakan oleh perwawi yang dho’if yang bertentangan dengan rawi yang tsiqah.

Tulisan ini hanya semata-mata minta dikoreksi, karena saya sendiri seringkali menggunakan hadits tersebut, tentu saja berdasarkan pendapat ulama’ yang memperbolehkan ber-hujjah dengan hadits dho’if, Imam Abu Hanifah, An-Nasa’i dan Abu dawud berpendapat: beramal berdasarkan hadits dho’if itu lebih utama daripada mendasarkan perbuatan kepada akal pikiran atau qiyas. Imam ibnu Hambal, Abd Al-Rahman ibn Al-Mahdy dan Abdullah ibn Al mubarak menerima pengalaman hadits dhoif sebatas fadhail al ‘amal saja, tidak termasuk urusan penetapan hukum seperti halal dan haram atau masalah akidah. Lain lagi dengan Imam Suyuthi, beliau berpendapat diperbolehkannya beramal dengan hadits dho’if termasuk di dalam sebuah hukum dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian). 

Hal inilah yang mengetuk pintu ilmu kita untuk terus berusaha semaksimal mungkin mengetahui kesahihan hadits untuk memantapkan amal perbuatan kita, Rasul saw bersabda:

‏حدثنا ‏ ‏أبو بكر بن أبي شيبة ‏ ‏حدثنا ‏ ‏يحيى بن يعلى التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏محمد بن إسحق ‏ ‏عن ‏ 
  ‏معبد بن كعب ‏ ‏عن ‏ ‏أبي قتادة ‏ ‏قال
‏سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول على هذا المنبر ‏ ‏إياكم وكثرة الحديث عني 
فمن قال علي فليقل حقا ‏ ‏أو صدقا ‏ ‏ومن تقول علي ما لم أقل ‏ ‏فليتبوأ ‏ ‏مقعده من النار ‏

Saya mendengar Rasul saw bersabda di atas mimbar:” hendaknya kalian takut memperbanyak hadits mengatasnamakan aku, barang siapa menyampaikan hadits dariku, maka sampaikanlah dengan benar dan jujur, barang siapa yang menyampaikan hadits dariku sedang aku tidak mengatakannya maka bersiaplah tempatnya di neraka (HR. Ibn Majjah: 35, hadits hasan)