Pesan Puasa Untuk Penguasa

thumbnail
Terbit 23 Juni 2016

Ritual puasa sudah menjadi ihwal yang maklum bagi agama-agama di dunia, dalam Agama Budha dikenal uposatha, Agama Hindu puasa ( upawasa) nyepi, Yahudi puasa 40 hari dalam setahun dan diantara mereka ada yang puasa Senin dan Kamis (sheni va-hamish), ummat Kristani berpuasa sesuai petunjuk pemuka gereja, bahkan sejak zaman Romawi dan Yunani puasa sudah dikenal, sedangkan orang Islam berpuasa wajib selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan dan puasa sunnat di hari-hari tertentu.

Puasa dianggap sebagai ibadah fenomenal, khas dan sarat dengan pesan moral yang dikandung di dalamnya, dari limit waktu, ibadah puasa lebih banyak memakan waktu diabanding dengan ibadah wajib lainnya, bila sholat atau zakat rampung dalam beberapa jam saja, bila ibadah lain umumnya adalah memakan biaya, maka sholat justru menekan biaya, sedang haji maksimal hanya 4 hari bagi orang yang melakukan nafar tsani, berbeda dengan puasa Ramadhan yang mencapai satu bulan utuh. Tentu ada pesan pesan moral yang khas yang hendak disampaikan kepada ummat yang melaksanakannya.

Luasnya samudera hikmah puasa yang membentang menantang semua orang untuk mengarunginya dari sudut mana saja dia bisa, tergantung alat bantu keilmuan yang melatar belakanginya, namun dari sekian hikmah ada pesan moral puasa yang sangat prinsipil kepada semua ummat khususnya penguasa yaitu kejujuran dan menjauhi prinsip aji mumpung (opportunism).

Kejujuran
Pesan moral tertinggi selain sabar adalah jujur, diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata dengan cara melepaskan diri dari kebutuhan makan-minum dan hubungan badan, di mana ketiganya merupakan kebutuhan hidup manusia secara personal yang sangat vital. Alangkah mudahnya melakukan aksi tipu-tipu mengelabuhi orang lain di sekitarnya dengan style puasa, lemah lunglai dan bibir kering, padahal ia dalam kondisi kenyang dan segar bugar setelah makan minum ditempat yang tak terlihat oleh orang, namun pribadi orang berpuasa pantang melakukan itu semua.

Mentalitas kejujuran orang yang berpuasa benar benar diuji, menjadikan puasa sebagai media berlatih berbuat ikhlas tanpa pamrih semata mata karena Allah swt. Jauh dari pencitraan dan abai terhadap penilaian orang yang dia sematkan kepadanya. Latihan ini diharapkan menjadi bekal menapaki jalan kehidupan di bulan bulan berikutnya setelah Ramadhan, kepada siapa saja, terutama kepada penguasa, dimana banyak nasib rakyat yang dititipkan di pundaknya.

Ramadhan ibarat sekolah ruhani, pengawasnya langsung rabbul izzati dengan prinsip kurikulumnya sangat jelas yaitu pengendalian diri, karena isi terpenting dalam puasa adalah pengendalian diri dan sabar (Abdul Manan:2005,103). Dari sini nampak sekali bahwa puasa bukan tujuan (ghayah), melainkan puasa adalah perantara (washilah) untuk mengantar manusia menjadi pribadi bertaqwa.

Mumpungisme
Hikmah lain yang patut direnungkan adalah terhindarnya manusia dari karakter aji mumpung, dalam ritual puasa setiap personal dipaksa untuk disiplin makan dan menunggu pada waktunya, bukan mumpung ada semua makan dilahapnya, meskipun miliknya, maka wajar secara teologis orang yang puasanya hanya menahan kebutuhan fisik dan biologisnya maka ia tidak mendapat hikmah apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga (al-Hadits).

Betapa ajaran berpuasa mempunyai orientasi masa depan (future oriented) yang sangat besar, hingga memakan hidangannya sendiri yang sudah sah menjadi miliknya ditahan sampai bedug maghrib tiba. Dalam hal ini puasa mengajarkan menjauhi sikap mumpungisme yang alih-alih dijadikan pemuas kerakusannya, tak sedikit kita menyaksikan menyalahgunakan wewenang untuk kepuasan pribadi dan keluarga, sekali lagi dalil yang digunakan amat sangat sederhana yaitu mumpung masih menjadi penguasa.

Pesan spiritual kejujuran dan anti opportunis yang disampaikan melalui pusa menjadi pilar penting bagi semua manusia khususnya penguasa yang dhalim untuk tidak menggunakan wewenangnya melalui mekanisme yang dinilai tidak amanah. Seandainya mental kejujuran dan tidak aji mumpung ini tertanam dan hidup dalam diri penguasa maka semua problematika kerakyatan akan teratasi dengan baik. Sebaliknya apabila hatinya terkunci mati dari sifat peka terhadap orang lain maka ia tak lagi memiliki kearifan dan sensitifitas kepada sesama, anusia yang demikian bisa menjadi manusia yang bermental/berkebudayaan lembek (soft culture),

Pandangan fiqh sentris bahwa puasa dalam arti mencegah (imsak ) tak perlu dibesar-besarkan, karena ada puasa yang jauh lebih diharapkan keberhasilannya yaitu puasa bathin untuk melatih mental itu tadi, sebagaimana Syeikh Abdul Qadir Jaelani menganjurkan puasa bathin merupakan puasa sejati, yakni selalu mengisi bathin dengan perintah dan menjauhi larangan, puasa yang demikian tak terikat dengan sahur dan berbuka.

Kemampuan memetik hikmah puasa yang demikian luhur dan mulia akan memberi warna tersendiri untuk bangkitkan sebuah bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensional baik krisis moral maupun krisis spiritual yang dalam dua dasa warsa ini sangat memprihatinkan. Semoga puasa yang tinggal secuil lagi ini bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggapai kejujuran dan sikap menjauhi mental aji mumpung (opportunistik).