Generasi kita tak bisa dijauhkan dari Internet

thumbnail
Tangsel Pos, 19 November 2014

Mengingat generasi kita ini tidak bisa terlalu jauh dari jaringan internet, bahkan seolah-olah saat ini dunia sudah berada dalam genggamannya, maka mau atau tidak mau harus diceburkan sekalian ke dunia maya namun dibekali dan diarahkan dengan benar. Supaya terarah dan tidak terjebak dala haha hihi saja dalam dunia socmed

Mengajar belum pasti mendidik

thumbnail


Tugas besar seorang guru mendidik, bukan sekedar hadir di kelas untuk mengajar kemudian bebas. Mendidik lebih menitikberatkan pada transnformasi ideologi dan teladan karakter untuk murid-muridnya, mengajar itu sebatas transformasi pengetahuan saja..

Ungkapan itulah yang pernah saya tuliskan dalam rubrik guru di mata guru, hal ini penting untuk dipahami agar semua pendidik mempunyai arah panduan yang jelas dan tujuan yang tepat serta mampu merubah ideologi murid-muridnya. Padanan kata pendidikan adalah tarbiyyah sedangkan padanan kata mengajar adalah ta’lim.

Mendidik juga merawat tahap demi tahap sehingga sang murid bisa berubah dari kebiasaan buruk ke arah yang lebih baik dan inheren di dalam dirinya. Bisa jadi karena demi pendidikan sang murid dipukul (tidak menyakiti) dengan harapan ada kesadaran di masa mendatang. Hal ini tentu berbeda dengan mengajar. Mengajar adalah transformasi pengetahuan secara detail sehingga murid tidak salah paham.

Kalau dikatakan korupsi itu haram dengan berbagai dalih dan argumen maka hal itu sebatas mengajar, tetapi jika dilatih untuk tidak korupsi karena keharamannya maka hal itu dinamakan mendidik. Pendek kata, ending pendidikan adalah membuat orang mengerti sedangkan pengajaran mencetak orang pintar dan berwawasan.

Es Duren seharga Ratusan Dollar

thumbnail
Tak terasan saat larut malam membuka email dan ada berita yang sangat mengejutkan, terkejut bukan menyedihkan tapi berita gembira yang menyenangkan pasalnya dalam email pemberitahuan ada berita seperti ini

Ditemani es duren sisa buka puasa langsung saya print MTCN dan bergegas untuk menyimpannya buat besok pagi harus segera dicairkan, itulah kisah es duren seharga ratusan dollar, Bentuk print outnya adalah seperti ini:


Semoga menginspirasi untuk sobat semua, pay out tertunda sebelumnya karena bermasalah di tanda pengenal, tapi kali ini pasti akan lancar, besok pagi Kamis, 24 Juli 2014 adalah hari bersejarah untuk pay out ke sekian kalinya.

Renungan; Berangkatkan hatimu

thumbnail
Ramadhan sudah tidak utuh lagi, hanya hanya tersisa secuil saja setelah berlalu begitu saja maka label taqwa tambah baik dan tidaknya segera diputuskan oleh Allah swt. Saatnya....Segala upaya harus diberangkatkan dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, namun adakah yang sadar bahwa segala materi, ilmu, pangkat dan apapun yang kita punyai tidak akan mampu mendekati Allah sama sekali selama dalam jiwanya ada benih ‘pemberotakan’ atau membatah terhadap titah kebenaran. Terkadang saking kerasnya hati seseorang, kebenaran yang disuguhkan di pelupuk ia tolak mentah-mentah. Karakter yang demikian ini sejalan dengan Sabda Nabi saw;

ما ضل قوم بعد هدى كانوا عليه إلا أوتو الجدل
Tidaklah sesat sebuah kaum sesudah mendapatkan petunjuk, kecuali orang-orang yang berontak

Harta, kedudukan, amal bahkan seluruh ilmu yang kita punya tidaklah menjadikan diri ini menjadi dekat kepada Allah, justeru malah menjadikan jalan sesat pada saat ‘memberangkatkan’ hatinya untuk mendekati Allah. KH. Asrori al-Ishaqi dengan mantab menjelaskan panjang lebar soal bagaimana kita harus memberangkatkan hati ini mendekati Allah. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah

Semua orang menginginkan selamat dari celaka, jangankan orang berbuat baik, seorang pencuri sekalipun menginginkan selamat pada saat mencuri. Alasan ingin selamat sebagai ‘pembenar’ setiap perbuatan pasti sudah dikantongi dengan apik, masalahnya, apakah alasan pembenar itu menjadikan sesuatu menjadi pasti benar?. Sekali-kali “Tidak”, hanya kaidah kebenaran syara’ dan keputusan final Allah al-haqq yang mampu menjelaskan secara detail di akhirat kelak, bila di dunia tidak mampu memilih dan memilah kebenaran yang hadir di hadapan kita .

Bagi hati yang telah dicerahkan oleh Allah pasti bisa mengenali sekecil apapun kebenaran dengan mata hatinya (bashirah) tetapi sebaliknya bagi orang-orang yang hatinya tertutup dan sudah mengeras seperti baja maka sebesar apapun keburukan pasti akan tertutup oleh kemilau alasan ‘pembenar’ yang dibuat oleh nafsunya sendiri, di situlah bisikan iblis yang paling berperan..

Imam Ghazali juga pernah memberikan pencerahan, kurang lebihnya adalah “seluruh sujud yang khusyu’ seandainya di dalam sujud tersebut terdapat satu sujud saja yang engkat mengira telah dekat berkat sujud tersebut kepada Allah maka dosanya akan lebih besar daripada dosa seluruh makhluk yang bernyawa diseluruh alam marcapada ini, baik dari golongan manusia maupun hewan”. Betapa kita merasakan kebodohan yang teramat luarr biasa menganggap bahwa kebaikan yang pernah kita lakukan merasa cukup mendekatkan diri kepada Allah.

Said Agil Siradj menjelaskan bahwa orang yang paling tertipu menurut kajian tasawuf adalah orang yang tertipu terhadap permainannya sendiri, maksudnya ia merasa mulia di saat melakukan perbuatan baiknya. Beruntunglah orang yang sering memaki-maki hatinya sendiri, semakin ia sering memaki dirinya maka semakin bersih hatinya...ya Allah tuntunlah kami ke jalan yang benar dengan cara yang benar, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ali kw.

قليل من التوفيق خير من كثير من العقل و العلم (على كرم الله وجهه
Sedikit dari pertolongan Allah untuk mengamalkan ilmu itu lebih baik daripada banyaknya ilmu dan akal

Pesta Demokrasi belum berakhir

thumbnail
Gelaran pesta demokrasi lima tahunan bangsa Indonesia telah usai tadi pagi, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014 berakhir secara serentak pukul 13.00, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan cepat (quick count). Antusiasme masyarakat dari semua kalangan dari rakyat jelata hingga pejabat, artis, tokoh masyarakat dan semua elemen masyarakat ikut berpartisipasi untuk menggunakan hak pilihnya. Dua kandidat pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Kalla adalah putra bangsa terbaik yang telah melalui seleksi alami oleh kontestan partai-partai pemilu bulan April 2014 lalu

Hasil dari pesta tersebut dimaksudkan untuk melahirkan pempimpin yang akan menjadi nakhoda besar negera kepulauan Republik Indonesia. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) ternyata benar benar tidak disangka, kedua kubu menyatakan dirinya menang, pesta demokrasi belum berakhir. Memang, versi quick count adalah hitungan yang tidak mengikat secara legal formal, tetapi berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, perhitungan cepat dipakai sebagai gambaran kandidat pemenangnya, ironisnya bisa menghasilkan hitungan yang berbeda. Entahlah kita tunggu sampai perhitungan riil (real count)

Kedua kubu antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Kalla masing masing mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang versi quick count masing-masing dan meyakini data mereka sama akuratnya kini.. semua hanya bisa menanti kapan usainya pesta tersebut, namun kita selalu berharap siapapun pemenangnya harus memberikan penghargaan kepada yang kalah. Begitu juga yang kalah harus ‘legowo’ menerima kekalahannya.

Penulis hanya menyayangkan, diantara sesama pendukung semua menyuarakan pemilu damai, tetapi faktanya di media online banyak yang saling sindir dan saling memojokkan antara pendukung yang satu dengan pendukung lainnya, seperti anak kecil yang kalah main congklak atau main gunduh. Mungkin demokrasi kita adalah demokrasi kekanak-kanakan.

Rukhsah Dalam Puasa Ramadhan

thumbnail
Puasa adalah ibadah wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang islam yang sudah akil baligh, baik laki-laki maupun perempuan, bagi seseorang yang tidak berpuasa maka Allah akan mengancam dengan siksaan yang berat bagi orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja

Sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili ra. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasul saw bersabda: 

Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata: ”Naiklah”. Lalu kukatakan,: ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,: “Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya: “Suara apa itu?” Mereka menjawab: “Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah.” Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,: “Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An-Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih.)

Diintip Kamera

thumbnail
Ahad, 4 Mei 2014 kemarin merupakan hari tidak biasanya, pasalnya pada hari Ahad ada syuting. Sudah kesekian kalinya saya tampil akting di depan kamera tapi masih saja ada rasa canggung, meskiun dengan beberap kali baru pada saat inilah dapat tampil dengan bagus.

Fragment yang diminta produser adalah sebagai guru pesantren yang memberikan penjelasan tentang sudut pandang mengenai pernikahan lintas agama. Calon mempelai putri yang notabene-nya sebagai santriwati akan di jodohkan secara paksa dengan pria yang bukan pilihannya sendiri. Pengetahun yang ditimba di pesantren diharapkan menjawab problem dua keluarga yang hendak menjodohkan dua insan beda agama ini. Menjelaskan bahwa prinsip dasar pernikahan adalah adanya persesuaian ideologi kedua belah pihak, agar bangunan rumah tangganya kuat terlebih lagi pada saat beban ditampungnya nanti bertambah dengan lahirnya seorang anak. Akhirnya kedua orang tua mengurungkan niatnya dan menjadi persaudaraan antar agama saja.



 


Saya sangat menikmati peran ini, mengingat kebiasaan sehari-hari juga mengajar ‘kitab kuning’ sehingga dalam fragment tersebut dibuat sedemikian rupa seolah-olah ada pengajian layaknya dipesantren pada umumnya. Kitab yang dibaca sebagai rujukan pada fragment tersebut adalah murah labiid atau lebih dikenal dengan tafsir al-muniir karya an-Nawawiy, gaya khas pesantren menjadikan tidak perlu persiapan pajang dan alhamdulillah acting berjalan lancar.

Sama sekali saya tidak mempunyai latar belakang di dunia akting, tetapi sekali lagi alhamdulillah tergolong masih bisa ber-’bohong’ di depan kamera sebagaimana pemeran yang diinginkan oleh produser. Memang selama ini belum mencoba untuk sebagai pemeran lain yang durasinya berjam-jam di layar kaca televisi, tapi cukup rasana menjadi pengalaman berharga.

Dalam dunia akting ada hal yangberbeda dengan dunia nyata, yang saya rasakan diantaran, pertama, Tampil bukan alamiah adalah hal sulit karena semua emosional dicurahkan untuk memenuhi persesuaian dengan jalan ceritanya dan pemerannya, dengan begitu harus benar-benar menghayati peran ketokohan tersebut; kedua, Seluruh gerak-gerik dibutuhkan berfikiran fokus dan intensitas tinggi disesuaikan dengan peran yang ditugaskan, karena di situ ada banyak hal tersirat yang bisa disampaikan kepada pemirsa, misalnya mimik wajah, gaya bicara, pandangan mata dan seterusnya.

Ketiga, suasana dialog yang diintip kamera terkadang masih terbawa dengan emosional dialog sebelumnya, seorang pemeran harus bisa merubah situasi dan kondisi emosional untu disesuaikan dengan jalan cerita yang sedang diperankan, Nah, di sinilah improvisasi sangat dibutuhkan.

Syuting yang sempat terhenti beberapa saat karena hujan tersebut rencanakan akan tayang untuk program acara ‘santri kelana’ tanggal 8 Mei 2014 besok pukul. 04:00 di TVRI. Besar harapan kami agar para pembaca ikut berperan serta menonton dan memberikan masukan dengan komentar di blog ini sebagai masukan. LEwat blog ini pula terimakasih atas semua crew TVRI khususnya P. War dan P. Angga

Mau tau tentang kami silahkan klik di sini

Dari Serangan Fajar Menuju Serangan Jantung

thumbnail
Pemilu telah berlalu, haru dan pilu tentu dirasakan oleh semua bangsa ini, karena pemilu adalah pesta demokrasi dalam rangka menentukan nasib bangsa lima tahun mendatang, sudah menjadi kemestian bagi pemilih menginginkan pemilu ini menjadi jembata berasirasi secara bebas menetukan wakil rakyat yang duduk di meja legislasi, pengawasan dan budgeting sampai 5 tahun mendatang.

Pemilu adalah cara 'urun' rembug menentukan nasib bangsa melalui mekanisme dan aturan yang jujur dan adil, jujur tanpa ada paksaan atalagi sogo-sosgokkan, adil tidak terkecuali asalkan bangsa indonesia maka dipersilahkan untuk menentukan pilihan sesuka hatinya, tentunya setelah memilah dari visi dan misi yang disosialisasikan kepada para pemilih di masa kampanye-nya. begitulah idealnya pemilu yang dikehendaki oleh bangsa ini, pertanyaannya benarkah sudah terjadi yang demikian..?, semoga saja sudah.

Namun miris ketika di daerah saya kontestan DPD yang banyak mengantongi suara dari orang yang tidak dikenal, hanya dalam fotonya sih ia berbapakaian rapi dan bersurban, meskipun tidak kenal tapi perolehan suaranya paling mendominasi.Apakah ini berarti mereka mengerti tentang visi dan misinya, O...hh tentu tidak..! jangankan visi misi lha orang saja tidak dikenal, kalau demikian ini lalu apa hakekatnya memilih, sebuah tanda tanya besar yang masih lama jawabannya karena dibutuhkan kecerdasan pemilih dalam memilah visi-misi terkait dengan amanat yang kita berkan.

Salah satu sifat pemilu selati adil yang terus digaungkan dan harus didukung oleh semua elemen masyarakat adalah jujur, tanpa politik uang atau kampanye terselubung. Bahkan istilah yang trend dalam politik bagi bagi uang di malam pencobolosan adalah serangan fajar, mungkin serangan fajar ini masih saja ada, sekali lagi itu hanya MUNGKIN, supaya tidak dibilang lancang bicara tanpa bukti. Semoga saja sudah tidak ada diseluruh penjuru nusantara. Kalau benar masih ada serangan fajar lalu apa bedanya dengan transaksi jual beli, suara adalah barang komoditi penjualnya adalah pemilih, pembelinya adalah caleg, sedang lapak momentumnya adalah pemilu itu sendiri. Alangkah murahnya demokrasi ini, Sekali lagi hal itu harus kita jaga bersama JANGAN SAMPAI ada..! hehe.. lho kok senyum yaaaa pingin senyum aja.

pelaku kontestan yang menggunakan serangan fajar sebagai pemikat suara mungkin kaget bukan kepalang jika ternyata perolehan suara terjun bebas tidak sesuai mesin 'kalkulator' manuver politiknya. Menurut saya, itu adalah salah satu indikator bahwa pemilih mulai cerdas, jangankan menjadi anggota dewan yang mewakili suara rakyat bila masih dalam tahap prosesnya saja sudah mencoba menyuap. Hasil perolehan suara yang tidak sesuai dengan kalkulasinya bisa-bisa mengantarkan ia ke rumah sakit karena serangan jantung, Jadi seperti itulah perjalanan dari serangan fajar menuju serangan jantung

Catatan Sore

thumbnail

Terjun ke dunia politik praktis adalah pilihan, tidak terjun ke sana juga pilihan, saya pilih yang kedua yaitu tidak terjun ke dunia politik praktis. Bukan karena tak cinta atau membenci politisi tetapi karena lebih asyik dengan dunia mengajar, berbagi pengetahuan, bertemu dengan orang banyak yang mempunyai orientasi ketuhanan. Tapi juga jangan disangkal bahwa dunia politk adalah dunia yang jauh dengan Tuhan, semua tergantung pelaku.

Saya tidak ingin memberi catatan apapun ke "politik praktis" karena aku memang bukan ahlinya tapi memberikan tafsir yang tak dituliskan tentu sah sah saja. Tidak untuk dipublikasikan tetapi hanya untuk memberi batasan gerak sampai mana kaki ini melangkah dalam dunia nyata bukan dunia yang penuh 'rayuan' yang penuh bius kemegahan.

Semua orang berpolitik tetapi ada yang an sich berpolitik ada yang hanya bersifat 'kadang-kadang' tetapi saya memilih tidak sama sekali dalam kancah praktis, karena dunia politik pasti rawan bersinggungan antara kepentingan politisi yang satu dengan politisi lainnya. Kebersinggungan itulah yang paling saya hindari sebisa mungkin kalau memang tidak benar benar terpaksa.

Hati hati dengan dunia yang tidak kau ketahui sebenarnya karena banyak jurang yang tidak bisa kau hindari bila kau memilih jalan yang tidak diketahui terjemah rambu-rambunya

Dijawab oleh Allah

thumbnail

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya banyak bencana menimpa dinegeri tercinta ini, dari banjir di musim  hujan, gunung meletus, longsor, dan aneka macam bencana yang lainnya.

Kita mesti jeli dan teliti dalam memahami fenomena yang terjadi di alam ini, makna bencana, teguran atau ujian yang paling absah utuk menjawab adalah diri kita sendiri, mungkin pandangan orang lain kesengsaraan yang diderita oleh orang lain adalah bencana tetapi tidak bagi yang merasakannya. Mungkin aktifitas fenomena alam merugikan sebagian masyarakat tapi tidak semua, ada sebagian lain yang menikmati keuntungan darinya.

Mungkin orang yang sakit adalah merupakan kesengsaraan tetapi bagi orang lain dari situ ada keberlangsungan hidup timbal balik antara yang satu dengan lainnya, pernahkah anda membayangkan seandainya tidak ada pasien bagaimana nasib jurusan kedokteran, begitujuga dengan banjir dan gunung meletus.
***
Setiap manusia pasti menginnginkan dijauhkan dari hal-hala yang tidak diinginkan, kemudian bersamaan dengan hal-hal yang tidak diinginkan itu sirna, kemudian ia menginginkan lima hal

Menanti Tayangnya "Indahnya Pagi" di TVRI

thumbnail

Masih berkaitan dengan sabtu pagi sebelumnya, kali ini menanti tayangan TVRI untuk acara Indahnya Pagi di hari Sabtu, 22 Pebruari 2014. Pagi besok saya termasuk orang yang sangat berbahagia, bocah kampung yang kampungan, anak petani miskin kurang lebih satu jam menjadi pusat perhatian publik sebagai nara sumber di televisi.


Terlepas apa topik yang akan saya sampaikan kepada khalayak publik ada harapan besar semoga menjadi amal baik untuk mengisi pundi amal kebaikan yang masih longgar. Bangga sekaligus bersyukur menjadi salah satu nara sumber di stasiun televisi, ini adalah kali ke-5 dari semua tayang di televisi.

besok pagi perbincangan sekitar straegi sukses dakwah Nabi semoga menjadi suguhan menarik untuk menemani kopi pagi para pemirsa TVRI. Tapi saya yakin bahwa 'hidangan' pagi yang dibawakan nara sumber satunya lagi yaitu ulama' senior sekaligus ketua MUI DKI Jakarta Bpk. Dr. Hamdani Rasyid akan mengupas tuntas tas tas tentang tema tersebut. Paling tidak bisa dijadikan sebagai ajang shilaturrahim sesama muslim.

Menanti Sabtu pagi; 8 Pebruari 2014

thumbnail
Menanti datangnya subuh hendak menyaksikan kesekian kalinya tampil dilayar kaca televisi, membuat hati riang semalaman, seolah terbang ke awan tinggi yang tak bertepi. bagaimana tidak orang kampung seperti saya tak disangka tak di nyana bisa tampil di televisi.

Berharap semoga ada banyak manfaat dari setetes pengetahuan yang saya punya , meski setetes betapa betapa besar pundi-pundi amal yang terisi bila kurang lebih dari diperkirakan 40 juta pasang mata pemirsa yang menyaksikan tayangan besok pagi untuk kemudian dijadikan sebagai pedoman mengamalkannya.
Sekarang yang perlu dibenahi adalah menata kembali beningnya hati dalam menerima anugerah terindah ini, jangan sampai terperosok pada ujub, riya' atau sum'ah, akan terus berlanjut menjadi keberkahan yang mengalir pahalanya hingga yaumil qiyamah

Banjirpun mampu merubah agenda

thumbnail

Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut
Banyak penumpang turut

Lantunan tembang itu rupanya tak berlaku dalam perjalananku pulang kembali ke Jakarta, pasalnya harus mengalami keterlambatan enam jam karena harus menunggu banjir surut di stasiun poncol Semarang. Keretaku tak berhenti lama.

Pukul 11 malam harusnya kereta yang saya tumpangi sudah sampai di Cirebon tapi terhalang oleh tingginya banjir di semarang sehingga terpaksa menunggu banjir sedikit surut untuk bisa dilewati, hal ini diperparah lagi dengan jalur yang bisa dilewati cuma satu jalur kereta yang baru dibuat. Rupanya banjir yang terjadi di awal tahun 2014 ini menunjukkan kedigdayaannya hingga banjirpun mampu merubah agenda yang sudah dirancang sebelumnya.

Banjir dengan segala pernak perniknya bukan murni musibah, karena ditengah berhentinya kereta pedagang asongan seperti jual mie instan, kopi, jahe dan lain-lain laku keras. Memang benar di mana ada musibah maka disana juga ada hikmah. Begitulah kisah pulang bersama keluarga sejak tanggal 18 Januari 2014 dan kembali ke Jakarta menghadapi banjir disemarang Poncol tanggal 22 Januari 2014

Trend baru 2014; Rebutan menjadi pelayan

thumbnail
Tahun 2014 adalah tahun bersejarah bagi bangsa indonesia karena pada tahun tersebut akan digelar pesta demokrasi memilih legislatif dan ekskutif , di banyak pohon tiba-tiba ada foto para caleg yang ikut dalam kontestan menjadi bakal calon penguasa negeri ini dari tingkat daerah samapai tingkat pusat. Seolah-olah tak ada ruang panorama publik yang kososng, di mana ada tonggak menjulasng tak peduli tiang telepon atau pohon, di situ pula tertempel photo ‘penunggu’ eee..h photo caleg dengan berbagai kreasi kata slogan yang menggiurkan pembaca.

Menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan masyarakat yang memenuhi hajat orang banyak untuk kesejahteraan, karenanya rakyat membayar pajak untuk menghidupi kesejahteraan para caleg tersebut, namun tetap saja ada trend aneh yang terlihat yaitu menjadi pelayan kok rebutan?, apalagi pelayannya orang banyak. Melayani satu orang saja sudah sulit apalagi melayani orang banyak. 

Dari sini, dapat kita lihat betapa mulya hati para caleg, jika niatnya tulus mengabdikan dirinya lahir dan bathin, apabila tidak, maka kehinaan dan penderitaan akan menimpanya, kalau tidak di dunia yah... pasti di akhiratnya. Bila kita ingat, betapa seorang sahabat Nabi saw Umar bin Khattab yang gagah, pemberani, tegas, jujur dan adil sekaliber beliau saja menolak dan merasa berat utnuk menjadi khalifah (presiden) tetapi di trend baru 2014 justru ada sekelompok orang berebut kekuasaan. Ini trend baru yang aneh menurut saya.

Terlepas apakah rebutan kekuasaan itu halal atau tidaknya, yang pasti menjadi pelayan masyarakat bila tidak sesuai dengan keahliannya maka tunggulah kerusakannya. Nabi saw besarbda: "Apabila urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya"

Pejabat dalah pelayan rakyat, pelayan bangsa ini, sedangkan majikannya adalah rakyat jelata, tetapi mengapa sebagai pelayan kok tersandung soal korupsi, ini pelayan yang kurang ajar terhadap majikannya. Tentu rakyat sebagai majikannya akan sangat tersakiti dengan hal ini, dan du’aul madhlum mustajabun (do’a orang teraniaya itu maqbul) tak heran jika ada pejabat yang disumpahi rakyatnya, selanjutnya maqbul. Tentu tak tuntas dihitung jari pejabat-pejabat yang ksandung soal korupsi
Aneh...!! yah memang benar benar aneh zaman sekarang

Laknat - Nikmat Tahun Baru 2014

thumbnail
Masuknya tahun baru 2014 adalah nikmat bagi kita semua, nikmat karena kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara tahun 2014 dalam keadaan teguh dalam Iman dan Islam, masih diberi ruang untuk berkreasi dan memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hidup di alam selanjutnya. Di samping disyukuri sebagai nikmat, tahun 2014 juga harus dicurigai sebagai laknat apabila tidak dimaksimalkan untuk berbuat kebaikan. Sebaik-baik insan adalah insan yang panjang umurnya dan baik prilakunya, sebaliknya sejelek-jelek insan adalah orang yang panjang umurnya jelek prilakunya. Rasulullah bersabda:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْمُنَادِيُّ ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ ، عَنْ أَبِيهِ
 
أَنَّ رَجُلا ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، " أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ ، قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ، قَالَ : أَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ ، قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ ( رواه الترمذي
Artinya:”  
sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, “siapakah manusia yang baik?”, Nabi Menjawab: ”orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya”. orang itu bertanya (lagi), “siapakah orang yang jelek?”, Nabi saw menjawab: ”Orang yang panjang usianya jelek perbuatannya”. (HR. Tirmidzi) 
Usia ini bagaikan dua mata sisi pisau yang sama tajamnya, tajam memberikan rahmat dan tajam pula penyebab laknat, Bila penggunaan usia untuk kebaikan maka tajam membuat irisan rahmat, tetapi tajam pula membuat irisan laknat bila usia untuk perbuatan jahat. Karena itu tak penting lagi umur panjang, yang terpenting adalah kualitas umur itu sendiri. Panjang tidak berkualitas lebih baik pendek namun berkualitas, andaikan dalam Islam boleh memohon untuk dipercepatnya maut, maka bagi orang yang usia panjang tetapi jelek perbuatannya, maka lebih baik dipercepat saja mautnya. Sayangnya tidak boleh memohon agar dipercepat datangnya maut. Demikian Laknat - Nikmat Tahun Baru 2014