Napak Tilas Isra' dan Mi'raj

thumbnail
Setelah beberapa hari yang lalu telah terbit artikel dengan judul banjir ditinjau dari aspek teologis, dan gagal entah terbit atau tidak karena waktu itu masih di kampung halaman, namun tetap masih terposting di website ini, adapun judulnya adalah teologi penanggulangan narkoba. maka saat ini kami posting dengan terbitan korang Tangsel  Pos dengan tema Napak Tilas Isra' dan Mi'raj dalam rangka menyambut peringatan hari besar islam (PHBI), selamat membaca.

Sejarah telah mencatat bahwa Isra’ dan mi’raj mengandung dua perjalan mu’jizat, perjalanan horizontal dari masjid al-Haram (Mekah) menuju Masjid al-Aqsha (Palestina) dilanjutkan perjalanan vertikal dari dari masjid al-Aqsha ke Sidratul Mutaha atau yang lebih dikenal dengan langit ketujuh, Mudhury menyebutnya sebagai ‘maha ruang’ ditempuh hanya dalam waktu semalam. Peristiwa ini di terjadi terjadi 14 abad silam, tepatnya tahun 620-621 M.

Perjalanan singkat dengan jarak tempuh yang demikian jauh ini tak pelak lagi mengundang banyak tanya, khususnya kaum kafir quraisy dan sebagian orang-orang muslim itu sendiri. Kita tidak bisa bayangkan posisi Mekah dan Palestina lebih kurang 1500 KM belum lagi ke Sidratul Muntaha, rampung hanya ditempuh dalam waktu semalam. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, kecepatan tersebut lambat laun tersibak secara ilmiah dengan alat bantu teori relativitasnya Einstein dan teori annihilasi. 

Teori annihilasi mengatakan, bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi, jika materi dan anti materi dipertemukan maka kedua partikel akan lenyap dan membentuk sinar gama, dari sini bisa dipahami bahwa isra’ dan mi’raj adalah perjalanan hebat secara fisik, bukan sekedar ruh atau mimpi belaka. Diperjelas lagi bila dilustrasikan satelit atau sputnik yang menjadi pesawat penjelajah ruang angkasa, namun bukan berarti teori tersebut mengungkap keseluruhannya secara detail tetapi hanya sebagian kecil saja. Akal manusia yang terbatas ini rupanya tidak dipersiapkan untuk mencerna hal hal serumit isra’ mi’raj, sekaligus disitulah keimanan dibutuhkan untuk meyakini kebenaran peristiwa fenomenal dan monumental tersebut, karena ada yang lebih substantif dari sekedar perjalanan dahsyat itu. 

Al Quran yang terdiri dari 6000 ayat lebih, tak lebih hanya dimuat dalam empat ayat saja yaitu dalam konteks isra’ termaktub dalam QS. al-Isra’:1 sedangkan mi’raj terabadikan dalam QS. an-Najm ayat 13-15. Secara implisit mengandung pesan bahwa bahwa isra’ mi’raj adalah peristiwa imani, titik tekan substansinya adalah hikmah dan oleh-oleh dari perjalanan tersebut, berupa shalat lima waktu seperti yang dilakukan oleh ummat muslim saat ini, bukan sekedar meyakini dan takjub keagungan peristiwanya. 

Napak Tilas Horizontal dan Vertikal
Peristiwa hebat yang tak mungkin terjadi kedua kalinya sepanjang sejarah manusia ini, rupanya melatarbelakangi lahirnya perintah berat dan istimewa yang wajib berupa shalat, kewajiban ini berbeda dengan perintah kewajiban lainnya sebut saja zakat yang harus menunggu modal dalam batas nishab, haji menunggu sampai mampu, berbeda pula dengan puasa yang boleh dibatalkan dalam perjalanan jauh, namun shalat harus dilaksanakan dalam kondisi dan situasi apapun. 

Banyak dimensi yang bisa dikaji dari objek aktivitas shalat ini, baik secara filosfis, sosiologi, psikologis maupun medis, bagi agama Islam, shalat sebagai pilar utama yang pertanggungjawabannya diletakkan di nomor wahid sebelum amal lain dihitungnya, selain itu ia menjadi ibadah prioritas yang harus dibiasakan sejak dini, Hal ini wajar kiranya, karena dalam ibadah shalat mengandung hikmah besar sebagai sebuah sarana untuk melahirkan kepekaan diri yang bersifat sosial-horizontal, sebagai makna simbolik perjalanan isra’, sedangnkan kualitas shalat yang ditentukan khusyu’ sebagai simbol hubungan vertikal-individual dengan Tuhan laksana imitasi (tiruan) dalam mi’raj itu sendiri. 

Shalat dalam arti kosepsional praktis mempunyai fungsi penting dalam upaya pembangunan karakter (character building), peredam nafsu buruk, penanaman akhlak mulia, penyucian jiwa dari sifat penakut, pelit, keluh kesah, dan putus asa. (Qs. al-Ma’arij: 19-23), , shalat juga sebagai doa-doa untuk mendorong hidup optimis dan sabar (Qs. al-Baqarah: 153). Bahkan dalam tingkat tertinggi mampu mejadi terapi kesedihan duniawi sebagaimana dicontohkan oleh Rasul saw dalam sabdanya, “Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.” 

Indikasi keberhasilan shalat selanjutnya akan tampak dalam prilaku sehari-hari seperti terkendalinya nafsu, kesucian jiwa, pemberani, pemurah, gembira, optimis dan lain sebagainya. Apabila kemuliaan tersebut teraplikasikan dengan baik secara nyata di tengah masyarakat tentu akan melahirkan masyarakat yang dinamis, aman tanpa gangguan, nyaman tanpa rintangan, di situlah fokus utama shalat itu didirikan dalam rangka menegaskan fungsi sosial horizaontal laksana perjalanan horizontal Nabi Muhammad saw dari Mekah-Palestina.

Perlu segera dicatat, bahwa prilaku seseorang tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya, melainkan diwarnai latarbelakang faktor simpati, sugesti, imitasi (meniru) maupun situasi, prilaku itu sendiri berarti gerak gerik, kegiatan atau tindakaan prilaku manusia sebagai penampakan dari realisasi pernyataan, ekspresi dan manifestasi sebuah gejala kejiwaan yang menjadi tindakan nyata (baca, Astuti, Jurnal Konseling, 2015). Kaitannya dalam konteks shalat, shalat menjadi pengajaran seorang hamba untuk berhubungan langsung dengan Rabb-nya dalam sebuah dimensi serius yang disebut khusyu’, supaya memperoleh kejernihan hati yang menjadi sumber prilaku. Situasi dan kondisi khusyu’ ini laksana napak tilas mi’rajnya Rasul saw dari Palestina naik ke Sidratul Muntaha yang bersifat sangat pribadi menemui Tuhannya. 

Perbaikan hubungan vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia menjadi indikator kualitas keberhasilan seseorang dalam mendirikan shalat, karena shalat harus dipahami sebagai proses wajib, tujuan utamanya adalah perbaikan diri, yang puncaknya adalah menjauhi perbuatan keji dan mungkar. (Qs. al-Ankabut: 45). Ibn Mas’ud pernah berkata, siapa yang shalatnya tidak menjauhkan perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya tidak mendekatkan diri kepada Allah justru menjadikan ia tetap jauh. Menurut Abu Aliyah, shalat harus ada tiga unsur yaitu ikhlas berperan mengajak yang ma’ruf, takut mencegah yang mungkar dan dzikrullah mencakup makna keduanya.

Di lihat dari waktu turun perintah tersebut di pagi hari yakni waktu subuh, bukan tanpa maksud dan kering makna, melainkan ada pesan yang bisa ditangkap bahwa shalat menjadi amal terdepan yang kepadanya amal lain ditumpukan, mengingat pagi adalah awal aktifitas seseoran mulai berdenyut. Dalam hadits juga disebutkan bila shalatnya baik maka amal ibadah lainnya ikut menjadi baik,. Manusia hidup tidak hanya diperintahkan shalat, tetapi shalat adalah awal dari segalanya, dari shalatlah semua berawal, bahkan yang ditanya pertamakali di hari kaiamat adalah shalat (al-hadits).
***
Maksud tulisan singkat ini, tidak lain adalah mengajak ummat Islam untuk memetik mutiara hikmah peringatan isra’ mi’raj dalam kerangka konsepsional praktis yang mampu mendorong terlahirnya sikap dan prilaku keagamaan secara nyata ditengah masyarakat, dengan shalat sebagai salah satu sarananya. Selain itu hikmah yang harus dipegang erat adalah isra’ mi’raj bukan cerita biasa tanpa pesan keagamaan, melainkan disana ada pesan untuk menapktilasi setiap hari dimana gerakan shalat sebagai isra’nya dan khusyu’ sebagai mi’rajnya. Setelah berhasil maka akan ada perubahan besar dalam hidup ini menjadi berakhlak lebih baik, laksana perubahan dari zaman kegelapan jahiliyah menuju zaman terang benderang bersinar akhlak mulia. Tanpa ada pemaknaan kontekstual seperti ini maka peringatan isra’mi’raj akan hampa dan hanya sebatas pada euforia belaka.