Filsafat Al Farabi; Metafisika, Kenabian dan Negara Utama

thumbnail


 
Jurnal Sibstantia, April 2016
Abstrack
Al farabi is a muslim philosopher who create the foundation of islamic philosophy in systemic and detailed to ease understanding for the later. The thought of his philosophy influenced by the the thought of greek philosophy, including problems the creation of the universe, in the sight of alfarabi that the universe is happening out from allah as a fist form called emanation. To obtain the truth, the philosopher can find it by using the sense, while the prophets find it by inspiration given among to the men as a god's choices. In the political field, alfarabi's viem with the concept of 'almadinat al fadilat' resembling the plato's concept of idealized country. In the concept of 'almadinat alfadilat', he said leaders are the first locomotion of the community for getting happiness, as a heart in the body which members of other body is an accomplice in that happiness desired.

Kata Kunci : Al farabi, Filsafat, Metafisika, Negara Utama, Emanasi

Pendahuluan
Al Farabi (latin: Alpharabius) menduduki posisi yang sangat istimewa di jajaran para filososf muslim terkemuka. Terbukti pemikirannya masih mengilhami pemikiran filsafat paripatetik lainnya. Masignon memuji al Farabi sebagai pemikir muslim pertama yang setiap kalimatnya bermakna. Bahkan, Ibn Khulkan memujinya sebagai filosof muslim yang tak mungkin tertandingi derajat keilmuannya. Ia telah berhasil merekonstruksi bangunan ilmu logika (manthiq) yang telah diletakkan pertama kali oleh Aristoteles. Bila Aristoteles yang telah berjasa memperkenalkan ilmu logika (manthiq) dan mendapat sebutan ‘guru pertama’, maka al Farabi atas jasa besarnya mengkombinasikan filsafat Plato dan Aristoteles ia layak disebut sebagai guru kedua (al-mu’alim ats-tsāni).
Julukan guru kedua yang disematkan kepada al Farabi antara lain dengan alasan; Pertama, sangat menonjol dalam ilmu logika (manthīq) yang menjadi pondasi semua cabang ilmu, terutama ilmu filsafat, logika yang dibangun Aristoteles dijelaskan kembali dalam karyanya fil ‘ībārat, penguasaannya terhadap ilmu logika dalam usia yang relatif sangat muda, bahkan mampu mengungguli gurunya Abu Bisyir Matta bin Yunus yang kala itu termasuk orang termasyhur bidang logika di Baghdad, kedua, al-Farabi filososf terbesar setelah filososf Yunani yang berhasil mengharmoniskan pemikiran-pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonis.
Ketiga, kepiawaiannya menyusun rambu-rambu pengetahuan filsafat sehingga mudah dikaji orang orang sesudahnya, ia tuangkan dalam kitab ihshā’ul ‘ulūm. Kitab tersebut berisi lima bab dengan kategori berbeda yaitu ilmu lisan yang membahas lafadz dan pedoman pengambilan dalil bayaninya, ilmu matiq atau silogisme, ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan teologi serta ilmu fiqh dan ilmu kalam, Dalam kitab tersebut Sebagaimana Aristoteles yang membuat rumusan filsafat dan bisa dimengerti dengan sistematis orang orang setelahnya. Dalam ihsha’ul ulum al Farabi menjelas beberapa kategori ilmu dan urutan mempelajarinya.
Definisi filsafat menurut al-Farabi adalah al-‘ilm bi al-maujūdāt bi māhiya al-maujudāt. Ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, termasuk menyingkap tabir metafisika penciptaan. Al Farabi menuangkan pemikiran filsafat penciptaannya dalam karyanya Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah dimulai pembahasan tentang tuhan sebagai sebab pertama, menunjukkan keseriusannya menyingkap tabir gelap pemikiran filsafat metafisika. Tuhan menurutnya sebab pertama dari semua wujud yang ada di jagat raya ini, sama dengan konsep tuhan menurut madzhab Aristoteles bahwa, tuhan maha hidup, azali dan abadi, tiada yang paling awal darinya dan tiada yang paling akhir selainnya, tidak memerlukan iradah yang muaranya adalah sebuah pilihan, karena tuhan telah sempurna. Dia tidak percaya bahwa tuhan tiba-tiba saja memutuskan untuk menciptakan alam, karena hal itu akan menimbulkan pemahaman tuhan yang abadi dan statis tiba-tiba mengalami perubahan.
Al Farabi sependapat bahwa alam ini ‘baru’ yang terjadi dari tidak ada --sama dengan pendapat al Kindi--, Berbeda dengan konsep filsafat metafisikanya Plato yang dikonsepsikan dengan alam idea, Plato hendak mengingkari sifat wujud tuhan dalam mensucikan tuhan, karena apabila mempunyai sifat maka tuhan tidak berbeda dengan wujud yang lain. Al Farabi mengartikan alam idea dari segi kekekalannya --mirip dengan alam akhirat--. Dalam perjalanan sejarahnya ‘alam idea’ Plato ini dihidupkan kembali oleh Plotinus, yang kemudian lebih masyhur dikenal dengan nama neoplatonis.
Al Farabi memandang wujud yang ada ini, merupakan mata rantai wujud abadi yang memancar dari wujud tunggal, kekal dan abadi. Penciptaan jagad raya ini terjadi dalam sepuluh emanasi secara bertingkat, masing masing membentuk bidang wujud tersendiri, langit, bintang dan seterusnya, pada tingkat kesepuluh emanasi terhenti karena daya akal sudah melemah. Bila ditelisik hingga relung-relung pemikiran al Farabi akan kita dapati samudera keilmuannya yang sangat luas bagai lautan yang tak bertepi.
Untuk itu, tulisan ini hanya akan mengulas secara kritis, tentang filsafat metafisika penciptaan alam, konsep akal dan wahyu yang berhubungan dengan kenabian serta ditambahkan dengan konsep negara utama, kesemuanya mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Adapun tujuannya adalah supay kita mendapatkan pemahaman yang integral dan menyeluruh antara hubungan akal-akal dalam filsafat al Farabi dengan filsafat kenabian dan filsafat politik tentang tujuan bernegara.



Biografi Singkat al-Farabi
Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Lharkhan ibn Uzalagh al Farabi, lahir di kota Wesij tahun 259H/872, selisih satu tahun setelah wafatnya filosof muslim pertama yaitu al-Kindi. Ayahnya dari Iran menikah dengan wanita Turki kemudian ia menjadi perwira tentara Turki. Atas dasar itulah al-Farabi dinasabkan sebagai orang Turki. Karir pemikiran filsafatnya dalam menjembatani pemikiran Yunani dan Islam terutama dalam ilmu logika (manthiq) dan filsafat sangat gemilang, sehingga gelar sebagai guru kedua (al-mu’allim tsāni), layak disematkan.
Diriwayatkan telah belajar logika di Baghdad dari para sarjana kristen Yuhanna ibn Hailan (w. 910 M) dan Abu Bisyr Matta (w.940 M), perlu segera dicatat bahwa, Baghdad saat itu termasuk pewaris utama tradisi filsafat dan kedokteran di Alexandria. Pertemuan dan pergumulan pemikiran di situlah nantinya menjadi konektor pemikiran al-Farabi yang meramu filsafat Islam dengan filsafat Yunani Neo-Platonis, Al Farabi dalam perkembangannya juga tercatat sebagai guru Yahya ibn Adi (w. 974 M), seorang penerjemah kristen nestorian sebagai tokoh logika Ibn al-Sarraj. Karir pendidikannya cukup panjang hingga pada tahun 330/941 M, al Farabi meninggalkan Baghdad menuju Aleppo kemudian ke Kairo dan menghembuskan nafas terakhirnya di Damaskus, tepatnya pada bulan Rajab pada tahun 339 H atau Desember 950 M.
Beliau termasuk filososf yang produktif dalam melahirkan berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun berupa tulisan essai pendek dan makalah. Di antara karyanya adalah; Aghrādhu mā ba’da ath-thābi’ah, Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hākimain, karya ini menurut beberapa sumber berisi tentang kemampuan al Farabi mengulas dan mempertemukan pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles.
Karya penting lainnya adalah Risālah al-itsbāt al-mufāraqāt, At-Ta’līqāt, al jam’u baina ra’yul al-h ā kimain, kitab as-syiyāsāt al-madīnah al-fadhīlah, al mūsiqā al-kabīr, Risālah tahsīlu as-sā’adah,‘Uyūn ul-Masāil, al-Madīnah al fadhīlah, Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah, adapun al ihshāul ulūm konon merupakan karya terakhir sebelum ia wafat. Bukti bahwa al Farabi sebagai filosof yang mendalami filsafat Aristoteles adalah, konon pada saat Ibn Sina tidak memahami isi Maqālah fī Aghrād al-hakīm fī kulli Maqālah al-marsūm bi al-hurūf karya Aristoteles dan ia membacanya berulangkali hingga hingga 40 kali, akhirnya berlabuh pada karya al Farabi yang berjudul Tahqīq Gharad Aristātālīs fī Kitāb mā ba’da al-Thabī’ah kemudian tersingkap ‘tabir gelap’ isi pemikiran karya aristoteles tersebut.

Filsafat Metafisika
Tak perlu dipungkiri bahwa semua muslim percaya bahwa semua wujud yang ada adalah ciptaan Allah SWT, tetapi bila dikejar pada pertanyaan paling mendasar tentang dari mana dan bagaimana prosesnya tuhan yang maha tunggal itu menciptakan jagad raya menjadi beragam?, karena hal ikhwal penciptaan secara detai tidak pernah dikupas secara elaboratif oleh al Qur'an maupun hadits, karena kita teahu bahwa al Qur'an memuat hal-hal yang bersifat pokok dan global saja. Bagi filosof memandang proses penciptaan semesta tak cukup puas dengan sekedar kata ‘percaya’ dan akhirnya berfikir mencari rujukan karya-karya filosof Yunani sebagai tangga bantu dan sarana untuk menjawabnya secara rinci dan logis serta sistematis.
Dalam dunia filsafat menyoal penciptaan , ada dua pendapat tentang penciptaan, Pandangan para filosof Yunani umumnya menyatakan bahwa, alam semesta dengan segala pernak-perniknya yang ada ini tidak diciptakan dari bahan tertentu bentuknya, melainkan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), Tuhan menyelenggarakan penciptaan (creatio) dengan tidak memakai bahan apapun, melainkan dari katiadaan (ex nihilo). dengan hal ini berarti alam semesta adalah suatu creatio ex nihilo dari pihak tuhan. Sedangkan pandangan lain menyatakan bahwa alam ini diciptakan dari materi awal (al-hayūlā) yang bersifat abadi, alam ini tidak dicipta dari tiada (creatio an ex nihilo) melainkan ada sejak tuhan ada, mustahil tuhan ada namun tanpa ciptaan, meski secara prioritas waktu berdekatan, namun Tuhan harus dipandang sebagai pencipta.
Mengawali filsafat emanasi versi al Farabi, mungkin akan lebih mudah dimengerti bila dirunut melalui tangga filsafat metafisika neo-platonisme, keduanya mempunyai kedekatan dalam pola pikirnya. Menurut Plato (w. 347 SM) di balik wujud alam ini, ada alam ide (‘alam mitsāl) yang kekal dan abadi. Ide-ide abadi tersebut bersifat non-material bersifat tetap dan tidak berubah-ubah. Dunia ide adalah dunia kekal dan abadi, sementara yang tampak di dunia ini adalah dunia bayang-bayang atau copy dari dunia ide yang abadi tersebut. Dunia ide tetap ada dan kekal meskipun dunia bayangannya musnah, seperti manusia ini akan musnah tetapi dunia ‘ide’ manusia akan abadi selamanya, dengan pemikirannya yang selalu berkaitan dengan ide ini, menujukkan bahwa Plato termasuk aliran filsafat idealisme. Dengan membagi realitas menjadi dua seperti itu, Plato berusaha mempertemukan antara ‘filsafat ada’ menurut Parmenindes dan ‘filsafat menjadi’ menurut Heraklitos.
Lain Plato lain pula Aristoteles (w. 324 SM) selaku murid Plato, ia mencoba melengkapi gagasan Plato yang masih sederhana, baginya ide-ide yang dijelaskan plato tidak menghasilkan jawaban apa-apa. Aristoteles memecah dualisme Plato antara alam idea dan alam materi dengan mengemukakan bahwa, alam ide dan materi itu menyatu, sejalan dengan filsafat metafisikanya Aristoteles bahwa setiap benda terdiri dari jiwa (matter) dan bentuk (form) jiwa adalah substansinya sedangkan melalui bentuk itulah jiwa menampakkan eksistensi. Ia telah mengatasi dualisme Plato tentang idea dan wujud, sedangkan Aristoteles lebih kepada jiwa dan materi menyatu dalam sebuah wujud. Penggeraknya –menurut Aristoteles-- adalah sesuatu yang tak bergerak yang bersifat abadi dan kekal atau lebih dikenal dengan penggerak yang tidak bergerak (al-muhārik al-ladzī lam yatakharrāk) yaitu Tuhan atau dikenal dengan causa prima.
Bagi neo-Platonis, akal menjadi adalah wujud yang paling jelas ‘menyerupai’ Tuhan dari segala alam semesta. Kemudian dari akal tersebut ber-emanasi dan menghasilkan jiwa, jiwa-jiwa ini mempunyai daya pemahaman dan melahirkan bentuk. Ada tiga jiwa yang berbeda yaitu jiwa tumbuhan, hewan dan manusia. dari jiwa melahirkan jasad yang merupakan pelimpahan wujud tingkat ketiga,

Akal Ide
Jiwa Pemahaman
Jasad Bentuk

Pada wujud ketiga ini telah mengalami perubahan yang jauh dari sempurna. Mengingat jasad lebih jauh posisinya dengan Akal ((bc. Tuhan). Namun demikian, hal itu tidak kemudian mempunyai kemiripan dari segala-galanya. Jika akal mempunyai ide, jiwa memiliki pemahaman, maka jasad memiliki bentuk. Semoga gambaran singkat tersebut bisa dijadikan batu loncatan untuk memahami teori emanasi ala al Farabi.
Untuk mendapatkan pemahaman mendalam, Al Farabi setelah membaca karya metafisika-nya Aristoteles ratusan kali tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan, kemudian memutuskan untuk menjelaskan kembali konsep metafisika penciptaan alam dari wujud tunggal yang abadi dengan penjelasan yang lebih detail dan sempurna, menurut al Farabi, alam tercipta melalui pelimpahan atau emanasi. Proses emanasi berlangsung dari akal pertama hingga akal ke sepuluh secara serentak dan bertingkat. Disinilah nampak sekali pengaruh Neoplatonisme terhadap pemikiran metafisikanya al Farabi, dan dapat disimpulkan bahwa alam ini berasal dari zat yang maha tunggal, kekal dan suci melalui pelimpahan (emanasi).
Argumen al Farabi dalam penciptaan alam ini diawali dengan adanya semua alam ini berasal dari wujud tunggal yang mesti ada (wajibul wujūd) yaitu Tuhan, kemudian melimpah menghasilkan (mumkin al-wujūd) . Argumen lain yang dijadikan dasar oleh al Farabi adalah keteraturan alam dan tata letaknya yang sangat teratur seperti anggota tubuh yang bekerja sesuai fungsinya. Hal ini menunjukkan alam ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dari wujud yang tunggal dan melimpah sedemimikian rupa.
Emanasi semua wujud pada dasarnya berasal dari wujud yang satu dan menghasilkan wujud lain, terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis-determinis yang melahirkan alam beraneka ragam. Menurutnya akal murni berfikir tetang dirinya yang menghasil wujud pertama (al maujud al awwal) yaitu Tuhan sebagai akal yang berdaya fikir tentang diri-Nya. Dari daya pemikiran Tuhan yang besar dan hebat itu timbul wujud kedua yang merupakan akal pertama yang juga punya subtansi
Wujud kedua atau akal pertama berfikir tentang dirinya dan menghasilkan wujud berupa langit pertama, akal kedua berfikir tentang tuhan melahirkan akal ketiga, akal ketiga berfikir tuhan menghasilakan akal ke empat dan seterus sampai akal kesepuluh, dari kesepuluh akal akal tersebut berfikir tentang dirinya menghasilkan wujud materi berupa Lanit, Bintang, Saturnus, Yupitaer, Mars, Matahari, Venus, Mercury dan Rembulan
Maujudul Awwal
Tuhan Befikir tentang Tuhan Akal berfikir
tentang dirinya
Wujud 2 Akal 1 Langit
Wujdu 3 Akal 2 Bintang
Wujud 4 Akal 3 Saturnus
Wujud 5 Akal 4 Yupiter
Wujud 6 Akal 5 Mars
Wujud 7 Akal 6 Matahari
Wujud 8 Akal 7 Venus
Wujud 9 Akal 8 Mercuri
Wujud 10 Akal 9 Rembulan
Wujud 11 Akal 10
(Akal Fa’al) Wujud Roh

Pada akal kesepuluh dayanya sudah melemah dan tidak mampu lagi beremanasi. Begitulah mata rantai emanasi berlangsung. Akal kesepuluh ini mengatur dunia fana dan ruh ruh manusia serta empat unsur materi pertama dalam bentuk yakni air, tanah, api, udara. Selanjutnya dari unsur-unsur ini bermunculan materi lain seperti besi, aluminium, tembaga, perak, emas dan muncul juga tanaman dan hewan, termasuk manusia yang diaktualkan oleh akal-akal yang berhubungan dengan akal kesepuluh (‘aql fa’al).
Dengan demikian, al Farabi hendak menjelaskan bahwa walaupun alam itu berasal dari dzat yang satu yaitu Tuhan, akan tetapi keberadaannya qadim karena dalam proses emanasi menurutnya tidak berada dalam lingkup ruang dan waktu seperti waktu di mana kita berada pada saat ini. Mungkin itulah yang dimaksud dengan waktu transenden.
Menurut Harun Nasution, kalau kaum Mu‟tazilah, berusaha memurnikan tauhid dengan jalan peniadaan sifat-sifat Tuhan, berbeda dengan kaum sufi yang mensucikan tuhan dengan cara peniadaan wujud hakikat yang tampak selain wujud Allah, maka kaum filosof Islam yang dipelopori oleh al-Farabi melalui teori emanasinya (al-faidh al ilāhiy) hendak mentaqdis-kan tuhan dengan jalan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan, di sini dapat ditarik benang merahnya, bahwa, baik pemikiran filsafat, tasawuf dan wahyu sama sama ingin mengokohkan ke-esa-an Tuhan melalui metode yang berbeda beda. yang membedakan adalah metode yang ditempuhnya. Rupanya tidak hanya al Kindi dan Al Farabi, tetapi hal yang sama juga dijadikan pedoman oleh Ibn Sina sebagai generasi sekaligus murid al Farabi.

Hubungan Akal, Wahyu dan Konsep Kenabian

Akal dalam pemikiran filsafat al Farabi menempati tempat istimewa sebagai pangkal epistemologinya, termasuk filsafat metafisika yang berhubungan dengan penciptaan. Konsep akal ini erat kaitannya dengan teori kenabian, di mana akal Nabi mampu berhubungan dengan akal ke sepuluh untuk mendapatkan gambaran ‘ada’ dari yang abstrak berupa pengetahuan. Secara garis besarnya akal menurut al Farabi dibagi menjadi dua,
1) akal praktis yang berfungsi menyelesaikan hal hal tekhnis dan keterampilan,
2) akal teoritis yang membantu jiwa mendapatkan inspirasi atau ilham,
Dari akal teoritis tersebut ia mampu menangkap konsep yang tak bermateri (akal actual), kemampuan akal aktual ini dalam menangkap obyek-obyek yang abstrak semata mata hanya dimiliki oleh orang orang tertentu, termasuk di dalamnya adalah Nabi dan Filosof, atau disebut dengan akal intelektual.
Melalui akal intelektual, manusia bisa mencerap hal-hal abstrak yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi, bagi seorang Nabi dengan akal intelektual akal mustafadh, seorang Nabi bisa menerima kode atau isyarat wahyu. Sedangkan upaya filosof untuk berkomunikasi dengan akal fa’al melalui akal intelektual dapat dicapai melalui jalan kontemplasi dan perenungan atau melalui kegiatan berfikir mendalam terhadap sesuatu. Akal inilah yang nantinya akan menjadi modal bagi kita untuk memahami konsep kenabian (nubuwwah) ala al Farabi.
Secara bahasa, wahyu berasal dari kata waha, yahyi, wahyan yang berarti samar atau rahasia adalah pemberitahuan dari Allah secara cepat dan samar disertai dengan keyakinan yang penuh. Baik dengan perantara maupun tidak, denga suara maupun langsung dihujamkan ke dalam hati. Wahyu dituangkan oleh Tuhan secara langsung kepada Nabi pilihannya, bukan berdasarkan keinginannya sendiri. Sehingga tidak diketahui oleh manusia, wahyu merupakan bisikan Tuhan kepada Nabinya sebagai pengetahuan yang cepat dan sangat halus yang muncul dengan sendirinya tanpa harus berijtihad.
Para nabi diberi kemampuan akal mustafadh untuk mencercap isyarat wahyu dalam bentuk kemampuan akal intelek berkomunikas dengan aql fa’al sehingga kebenaran yang dihasilkan wahyu adalah kebenaran yang pasti bukan kebenaran nisbi. Kemampuan istimewa untuk berkomunikasi dengan aql fa’al ini bersifat given dari Allah. Menurut Amin Abdullah, pembahasan filsafat kenabian dalam filsafat Islam merupakan pembahasan yang khas, tidak ditemui di dalam filsafat Yunani secara detail.
Filsafat kenabian ini juga disinalir sebagai jawaban atas keraguan filosof sebelumnya yaitu Abu Bakar Muhammad Ar-Razi (w.925 M) yang menolak adanya kenabian. Menurutnya, para filosof bisa mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan ‘aql fa’al untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, oleh karena itu diperlukan kehadiran seorang Nabi untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan. Bahkan menganggap al Qura’an bukan mu’jizat, melainkan adalah semacam cerita khayal belaka. Ar Razi ingin membebaskan pemikirannya meskipun pemikiran semacam ini cenderung elitis dan inklusif terbatas hanya para filososf yang memungkinkan untuk melakukannya.
Al Farabi hadir dengan knsep kenabian untuk menepis keraguan Ar-Razi dan pengikutnya. Bagi al Farabi, Nabi merupakan gelar kehormatan yang disematkan oleh Allah kepada hamba pilihan-Nya. Kepadanya dituangkan kalam tuhan berupa wahyu untuk di sampaikan kepada makhluk di alam ini. Menurut al Farabi, manusia bisa berhubungan dengan aql fa’al melalui dua cara, yakni: penalaran atau perenungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya bisa dilakukan oleh pribadi terpilih yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh para Nabi.
Denga cara kontemplasi dan latihan berfikir seseorang bisa sampai pada derajat akal kesepuluh, sementara melalui penelitian jiwa, pembelajaran dan latihan, jiwanya akan sampai pada akal mustafad untuk merespon dan menerima cahaya ilahi sebagai puncak imajinasi tertinggi (al quwwah al mutakhayyilah). Orang yang mampu mencapai derajat ini tentu hanya para Nabi, bukan orang biasa secara umum.
Konsep kenabian al Farabi ada kaitan erat dengan politik pada waktu itu, di mana ia berpendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah para Nabi atau Filosof, karena ia mempunyai kedekatan dan mampu berhubungan dengan akal fa’al, yang merupakan sumber kebaikan. Pemimpin ideal seperti yang digagas oleh al Farabi memang jauh dari fakta yang terjadi, sehingga sangat sulit untuk direalisasikan, setidaknya dengan konsep ini memberikan bekal dalam memilih seorang pemimpin.
Seperti pemikir-pemikir lainnya, al Farabi tidak menjadi pemikir yang kebal kritik, pendapatnya tentang imajinasi tertinggi (al Quwwah al Mutakhayyilah) bisa mendekatkan diri kepada aql fa’al sehingga—nyaris-- sama antara filosof dengan Nabi dalam mendapatkan kritik dari Ibn Taymiyah (w. 728) dengan argumen mukjizat kauniyah seorang Nabi, seperti terbelahnya lautan oleh tongkat Musa, turunnya manisan dan burung puyuh (manna wa salwa), memperbanyak makanan dan minuman dari sela-sela jari, dibakar tidak terpanggang dan lain lain tidak mungkin bisa dilakukakan semata mata dengan imajinasi. Walaupun bisa saja mukjizat yang termaktub dalam kitab suci bisa ditakwilkan menjadi makna lain oleh filosof.

Konsep Negara Utama (al-Madīnah al-Fadhīlah)
Ada banyak ragam definisi negara, rupanya sesuai dengan latar belakang tokoh dan keilmuwan yang digelutinya. Robert N Bella, membagi negara menjadi tiga teori, pertama, Negara Kota yang kemudian dilanjutkan oleh al-Farabi dengan konsepsi yang dinamai dengan negara utama (al madinat al fadhilat), kedua, Masyarakat Universal yang diawali oleh Romawi dan berkembang terus hingga abad pertengahan, kemudian dilanjutkan oleh al-Ghazali, ketiga Negara Nasional yang dimulai dari zaman renaisance pada abad ke-15 sampai berkembangnya prinsip nasionalis sampai saat ini. Teori ini dalam islam dipelopori oleh Ibnu Khaldun dengan teori ashabiyah dan Negara Kemakmurannya.
Dalam konteks filsafat al-Farabi mengenai negara utama (al madinah al fadhilah), ia tuangkan dalam karyanya monumentalnya Ara’ ahl madinah al fadhilah banyak diilhami dari konsep Yunani, terutama konsep negara ideal Plato. Plato membangun idenya tentang negara menurut skema tubuh yang disebutnya macro anthropos (manusia makro), sebuah gambaran yang mendominasi filsafat politik sepanjang zaman. Penduduk politik tubuh itu pemerintah adalah kepalanya, militer adalah dadanya dan anggota tubuh lain adalah elemen negara penting lainnya. Konsep negara menurut Plato tidak lain adalah negara etik, bahwa peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum--menurut Plato-- tidak boleh diputus oleh kemauan atau pendapat seorang atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan budi pekerti. Sehingga mencerminkan pemerintahan dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu idea kebaikan atau pengetahuan.
Secara ringkas al Farabi dalam karyanya al-Madīnah al-Fadhīlah menyatakan bahwa kecenderungan manusia hidup bersosial dengan orang lain yang kemudian melaluoi proses yang panjang terbentuklah sebuah negara. Dari Negara tersebut mereka hendak mencapai kebahagiaan secara bersama sama, indikasi kebahagiaannya adalah tercukupinya sandang, pangan, papan dan keamanan kebahagiaan yang dicita-citakan tersebut bisa dicapai dengan cara membentuk sebuah negara yang disebut negara utama (al-madinat al-fadhilat). Dalam pandangan al Farabi, negara utama diserupakan bagaikan badan sehat yang dilengkapi anggota tubuh sempurna, saling membantu dan bersinergi dengan anggota tubuh lain dalam upaya menyempurnakan kehidupan, di dalamnya mempunyai satu pemimpin yaitu jantung. Penisbatan jantung sebagai pemimpin ini dalam hal sebagai penggeraknya, oleh karena itu, semua anggota masyarakat bisa menjadi pemimpin negara, seseorang yang bisa memimpin negara adalah orang yang mempunyai kapasitas tertinggi dalam sebuah negara.
Kriterian pemimpin yang ideal adalah, fisik sempurna, cerdas, mempunyai pemahaman yang baik, pandai memberikan pemahaman kepada oranag lain, cinta terhadap ilmu pengetahuan, tidak rakus terhadap makanan, pandai bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai sifat berjiwa besar, tidak memandang kekayaan dunia adalah segala-galanya, berlaku adil dan membenci kedhaliman, memiliki keseriusan yang tinggi terhadap sesuatu yang dianggap penting. Dari sini nampak bahwa al-Farabi ingin mengkombinasikan konsep negara pemikiran filsafat Yunani dengan Konsep Negara Islam.
Ali Maksum menuliskan, Menurut pendapat al Farabi, Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang sama persis seperti pemimpin yang dikonsepsikan oleh Plato, yakni seorang ideal yang telah mampu mengungkapkan kebenaran universal yang bersifat imajinatif yang bisa dimengerti oleh orang awam. Adapun sebagai mata rantai kenabian sebagai pemimpin sebuah negara, negara utama haruslah dipimpin oleh seseorang yang mempunyai pengetahuan yang luas, akal yang jernih dan mempunyai kemampuan daya pikir yang kuat, pemimpin yang demikian ini tidak lain adalah seorang filosof.

Kesimpulan
Pertalian pemikiran al Farabi sangat erat dengan filsafat Yunani, Oleh karena itu untuk memahami pokok pikiran al Farabi mutlak dibutuhkan menyelami pemikiran filsafat Yunani. Al Farabi adalah sosok filosof muslim yang pengetahuannya mapan, di samping ilmuwan juga ‘alim yan ghidup dalam kesederhanaan.
Dalam filsafat metafisika, al Farabi berpendapat bahwa penciptaan alam ini terjadi secara emanasi atau pancaran tuhan (al faidh al ilahiy) melalui daya akal yang tunggal dan esa, kekal, abadi yang disebut akal murni, kemudian menjadi alam raya yang beraneka ragam, proses emanasi berhenti pada akal ke sepuluh yang dinamai akal fa’al, pada akal ke sepuluh ini tidak lagi ber-emanasi karena daya kekuatan akalnya melemah. Dari akal kesepuluh ini melahirkan materi, seperti air, api, udara, tanah kemudian diikuti berbagai unsur lainnya. Pada konsep emanasi ini, nampak sekali pengaruh filsafat metafisikanya neo-platonisme.
Bagi al Farabi, baik Nabi, Filosof dan Raja adalah satu kesatuan makna, namun berbeda pendekatannya. Nabi adalah orang suci yang terpilih untuk menerima titah kebenaran berupa wahyu, sedangkan filosof melalui logika berpikirnya dapat mencapai sebuah kebenaran yang hakiki, sedangka raja atau pemimpin adalah orang yang berkemampuan dan kecerdasan tinggi serta kepribadian yang luhur untuk mempropagandakan kebaikan kepada rakyatnya. Dari kepribadian luhur itulah negara digerakkan, anggota tubuh sebagai menterinya, sinergisasi fungsinya akan menciptakan kebahagiaan sebagai salah satu tujuan dibentuknya negara, konsep negaranya disebut negara utama (al madinah al fadhilah)


==============


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Qur’an dan Terjemah.
  2. Abdul Karim, Aim, 2006, Pendidikan kwarganegaraan, (Jakarta: Grafindo)
  3. al Badawiy, Abd. Rahman, Rasa’il falsafiyyah, (Beirut: Dār Andalusi, tt)
  4. Al Farabi, ‘Arā’ ahl al-Madīnah al-Fadhīlah, tahqiq, Dr. Al Biir Nasri Nadir, (Beirut: Daar Al Masyriq)
  5. __________, Ihshā’ul ‘Ulūm , (Beirut : Inmaul Qaumiy, tt)
  6. __________, Tahshīlus Sa’ādat, 1995, tahqiq DR. Alibu Mulham, (Beirut: Daar al Hilal)
  7. Amin Abdullah, 1992, Aspek Epistemologis Filsafat Islam, (Diss Yogyakarta)
  8. Armstrong, Karen, 2003, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan Utama
  9. Bagir, Haidar, 2006, Buku Saku Filsafat, Bandung: Mizan
  10. Bakar, Osman, 1997, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al Ghazali Dan Quthb Al-Din Al-Syirazi, Terj. Purwanto Bandung: Mizan
  11. Darmodiharjo, Darji, Prof., SH. 2006, Pokok-pokok Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta: Gramedia
  12. Drajat, Dr. Amroeni, 2005, Suhrawardi: Kritik Falsafah Paripatetik, Yogyakarta: LkiS
  13. Fuadi, 2013, Peran Akal menurut Pandangan al-Ghazali, Jurnal Substatia, Vol. 15, No. 1
  14. Halim Mahmud, Ahmad, at-Tafkīr al-Falsafī al-Islamī, Kairo: Dār al Ma’ārif, tt
  15. Hardiman, F. Budi., 2009, Politik sebagai Pengawasan Tubuh, Sebuah Tinjauan Filosofis atas Hubungan Politik dan Erotik dalam Politea Plato, Studia Philosophica et Theologica. Volume 9. No.1
  16. Hatta, Muhammad, 2001, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  17. Hawa, Said, 1998, Allah Jallā Jalāluhu, terj. Muhtadi Abdul Mun’im, Allah swt., Jakarta; Gema Insani Press
  18. Husein Nashr, Sayyed dan Oliver Leaman, 2003, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam I, Terj. Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, Cet I.
  19. Ibn Taymiyah, Kitab al-Safagiyah, tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim
  20. Irfan, A.N., 2014, Masuknya Unsur-unsur Pemikiran Spekulatif Dalam Islam: Kajian Atas Logika Dan Metafisika al-Farabi, CMES: Jurnal Studi Timur Tengah. Volume 7, No. 2
  21. Juwaini and Nik Yusri bin Musa. 2010, Konsep Akal :Suatu Analisis Terhadap Pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina." Substantia Volume12. No.2
  22. K. Bertens, Prof., 2008, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, cet.V
  23. Kartanegara, Mulyadhi, 2007, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, Jakarta: Erlangga
  24. M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  25. Majid, Abdul. Filsafat Al-Farabi Dalam Praktek Pendidikan Islam. Jurnal Manarul Al Qur'an, abcd.unsiq.ac.id
  26. Maksum, Ali, 2009, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
  27. Masfoefah, Siti., 1996, Eksistensi Jiwa Menurut al Kindi. Diss. UIN Sunan Ampel Surabaya
  28. Muhammad, Hasbi, 2010 “Pemikiran Emanasi Dalam Filsafat Islam Dan Hubungannya Dengan Sains Modern”, Al-Fikr. Volume 14. No. 3
  29. Nasutuion, Harun, 2000, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution, Bandung: Mizan
  30. Nurdin, M. Amin, Sejarah Pemikiran Islam, (ed), (Jakarta: AMZAH), 2015
  31. Nurseha Dzulhadi, Qosim, 2014 “Al Farabi Dan Filsafat Kenabian”, Jurnal Kalimah, Maret, volume. 12
  32. Petrus L.Tjahjayi, Simon, 2004, Petualangan Intelektual: konfrontasi dengan para filusuf dari zaman yunani hingga modern, Yogyakarta: Kanisius.
  33. Salmah, S. Pd I. "Aktualisasi Filsafat Al-Farabi dalam Era Modern”, Telaah Kritis Teori Kenegaraan al-Madinah al-Fadhilah."
  34. Sholihin, KH. Muhammad, 2008, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, Yogyakarta: Narasi
  35. Uliri, Daulasi, 1961, al-fikr al-‘arabiy wa makānuhū fīt-tārīkh, Kairo: Ālam al-Kutub
  36. Wahid, Dr. Ali Abdul Wafi, al-Madīnah al-Fadhīlah lil Farabi, Kairo: Nahdhoh Mishri, tt




Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca

thumbnail
Terbit, 25 Nopember 2016
Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca adalah artikel yang sempat di terbitkan di koran lokas bertepatan pada hari guru, cukup beralasan kiranya pimpinan redaksi Tangselpos menertbitkan bertepatan dengan hari guru, karena tema tulisan ini sangat kental dengan nuansa pendidikan. selamat membaca.
 
Seiring dengan kuatnya bacaan orientasi keahlian dan peneguhan cita-cita anak bangsa ditemukan bentuknya, cendekiawan bijak bestari pernah mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku bergizi akan menambah supply pengetahuan yang berkualitas, pada akhirnya tercetak generasi berpengetahuan luas yang didedikasikan sebagai aset bangsa. Sebuah bangsa dengan pengetahuan maju akan lebih percaya diri untuk tetap duduk sama rendah berdiri sama tinggi di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. 

Negara-negara maju banyak menerapkan pengetahuan sebagai kekuatan dan aset bangsanya, Francis Bacon pernah mengatakan knowledge is power, mereka sadar bahwa sumber daya alam yang dimiliki sangat terbatas seiring tumbuh kembangnya jumlah penduduk yang terus bertambah. Lalu bagaimana pergulatan putera puteri ibu pertiwi ini dengan minat baca.

Minat baca bangsa Indonesia sangat memprihatinkan, terbukti melalui hasil survey "Most Littered Nation In the World" oleh Central Connecticut State Univesity Maret 2016 yang menempatkan Indonesia jatuh di peringkat ke-60 dari 61 negara, Posisi Indonesia persis berada di bawah Thailand peringkat 59 (Kompas, 29/8/2016).

Komitmen peningkatan minat baca anak bangsa yang diinisiasi PT Gramedia Asri Media patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, ide cemerlang melalui event big sale yang diselenggarakan di kawasan Industri Pergudangan Taman Tekno, XI Blok D 12B-15 BSD City, Tangerang Selatan, sejak tanggal 8 sampai dengan 22 Nopember tak pernah sepi pengunjung. Tak kurang dari 20.000 judul buku dijual dengan harga murah di sana. 

Masyarakat berbondong-bondong rela masuk dalam jajaran anggota antrean panjang, hingga diberlakukan buka tutup, masing masing pengunjung diberi kesempatan satu jam untuk membrong buku yang diminatinya. Pemandangan seperti ini kiranya sudah cukup menjadi bukti, bahwa minat baca bangsa ini masih relatif tinggi, adapun fakta menempatkan Indonesia berada pada di peringkat ke- 60 dunia, lebih disebabkan faktor ekonomi menghadapi realitas harga buku tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tinggal bagaimana respon pemerintah menangani realitas perbukuan yang ada saat ini, supaya penerbit mampu mematok harga yang lebih terjangkau oleh semua kalangan.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan –termasuk minat baca-- memang sudah dilakukan antara lain berupa naungan payung hukum di bawah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Pencanangan Gerakan Membaca. Disusul dengan Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, bentuk implementasinya berupa penggunaan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk menemu-kenali potensi siswa, dalam konteks siswa sebagai subjek sedangkan Permendikbud berfungsi sebagai predikat. Hemat penulis, langkah tersebut masih harus diikuti dengan objek sasarannya, yaitu buku murah yang terjangkau oleh orang-orang berkantong dangkal. 

Problem peningkatan mutu sumber daya manusia dimana pendidikan dan pengetahuan sebagai tolak ukurnya memang banyak menemui banyak kendala, selain peroalan jumlah anggaran, sistem pembelajaran, kompetensi guru, infrastruktur, juga diperparah oleh rendahnya minat baca, walhasil penyediaan buku murah menjadi salah satu mesin dongkrak meningkatkan pendidikan secara umum dan merata, segmentasinya tidak hanya di bangku-bangku sekolah atau kuliah, terbatas hanya pelajar dan mahasiswa, upaya ini dimaksudkan mampu menggeser paradigma warga negara menjadi lebih maju, lebih kreatif dan orienntatif dalam menyongsong masa depannya. 

Dengan buku murah, setiap warga diharapkan menjadi kolektor buku kemudian menelusuri kandungan pengetahuan dalam buku koleksinya, baik di rumah, di tempat kerja, terutama di lembaga-lembaga pendidikan. Pemanfaatan waktu luang untuk membaca lebih terbentang luas, bukankah Cicero seorang orator dan penulis dunia pernah mengatakan: “a room without book like body without soul”. Membaca buku berkualitas akan mempercepat roda penggerak agenda perubahan, karena dalam buku yang dibaca tergambar isi dunia, letak, pelaku dengan segala karekater yang melingkupinya. 

Pendek kata membaca adalah jendela dunia. Inilah sesungguhnya yang perlu dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu implementasi jargon ‘revolusi mental’ yang mana gaungnya telah diperdengarkan di ruang dengan kita di babak-babak awal kampanye pemilihan presiden terpilih saat ini, melalui bacaan ranah wawasan bertambah serta memicu imajinasi dan kreatifitas generasi selanjutnya. Bermula dari imajinasi selanjutkan dilakukan sebuah aksi atas gambara dunia dengan segala isi dan hiruk pikunya penduduk dunia, termasuk letak dan segala karakter yang melingnkupinya. Sketsa kejadian di dunia terpampang jelas dan membentang luas di hadapan pembacanya. Dari ruang baca tersebut akan lahir ide-ide tiruan atau bahkan menciptakan hal hal baru untuk kemajuan bangsa ini.

Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana cara menciptakan buku murah yang sesuai dengan kompetensi pembacanya, bila buku hibah terkadang tidak sesuai dengan keinginan pembaca. Tentunya selain upaya-upaya tekhnis di atas, Tidak lain adalah upaya campurtangan pemerintah secara praktis dengan menyisihkan anggaran dana belanja pendidikan dialihkan ke penerbit-penerbit yang berkompeten diwujudkan dalam bentuk subsidi kertas untuk menerbitkan buku, mengingat bahan dasar buku adalah kertas. 

Langkah alternatif ini dimaksudkan supaya penerbit mampu mencetak buku dengan biaya murah, kemudian diikuti dengan harga buku murah pula. Fasilitas subsidi kertas juga semakin meningkatkan daya rangsang penulis dengan memberikan lebih insentif dari alokasi pendanaan untuk kertas tersebut, Murahnya harga buku tersebut pada akhirnya akan terjangkau oleh semua kalangan, utamanya pera pelajar dan mahasiswa. Keuntungan langkah alternatif ini juga akan memacu peningkatan produksi kertas diikuti budidaya bahan baku kertas, tidak hanya itu saya kira, penulis penulis akan bermunculan dan penerbit bersaing di bawah pengawasan pemerintah.

Menegaskan Kurban Sapi Untuk Tujuh Orang

thumbnail
Kurban sapi untuk tujuh orang
Tanpa sedikitpun memperuncing perdebatan soal peruntukan hewan kurban kambing untuk 1 orang dan Sapi 7 orang seperti opini dari video seseorang yang kurang lebih isinya adalah mempertanyakan dalil kurban sapi untuk tujuh orang. Maka perlu adanya pembanding pendapat, setidaknya untuk mempertajam kehati-hatian dalam berfatwa, karena ilmu ini tak bertepi maka tak pantas menyalahkan orang lain sebelum meneliti lebih detail jejak epistemologi yang dijadikan sebagai dasar sebuah pengetahuan.

Sudah mafhum kiranya, bahwa Nabi pernah berkurban untuk keluarganya dengan satu domba, namun juga ditemukan hadits yang dikaitkan unta atau sapi untuk 7 seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan menyebut jenis unta badanah dan sapi boleh untuk tujuh orang dalam hadyu (dam). Kita juga mesti mengenal ada syariat kehususan untuk Nabi, misalnya dalam menyembelih kurban rasul berdoa
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى
Namun do’a ini tidak pernah dilakukan oleh sahabat yang menunjukkan adanya isyarat tentang kehususan Nabi. Namun untuk mengatakan kurban yang dilakukan oleh Nabi saw adalah sebuah bentuk kehususan masih perlu kajian yang mendalam lagi untuk mengetahui isyarat persisnya.

Dalam beberapa kitab fiqh as-Syafi’i, sebut saja kitab at-tanbīh fi fiqh Imam Syafi’i karya Yusuf As-Sirazi, memasukkan pada bab uḍhiyah (kurban) menjelaskan bahwa, satu sapi untuk tujuh orang, dalam karya yang lain As-Syirazi memperjelas bahwa sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang senada dengan pendapat Taqiyuddin as-Syafi’i dalam kifayatul akhyar yang menerangkan bahwa satu unta badanah untuk tujuh orang dan kambing untuk satu orang.

Badanah bermakna unta atau sapi yang telah digemukkan dan disiapkan untuk dikurbankan dalam Haji, sedangkan Jazur bermakna unta yang disiapkan untuk disembelih. Dalam penjelasan tentang hadits yang membolehkan badanah untuk tujuh orang. Adapun hadits yang dimaksud adalah:

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌ الْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ
Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdillah berkata; “Kami bersekutu (patungan) bersama Nabi Saw di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam Jazur (hewan kurban yang sudah siap disembelih) sebagaimana bolehnya bersekutu dalam badanah (unta yang disiapkan untuk kurban saat haji) atau sapi?” Jabir menjawab, “Jazur itu sudah termasuk badanah.” Jabir juga turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor badanah. Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah.” (H.R. Muslim).

Mengenai hadits riwayat Jabir bin Abdullah ia berkata; “Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah Saw di tahun perjanjian Hudaibiyah, untuk kurban seekor unta atau seekor sapi, kami bersekutu tujuh orang.” (H.R. Muslim), Zakariyah Anshoriy dalam kitab Asna al Mathalib menegaskan, bahwa ketujuh orang tersebut bukan satu keluarga, seperti yang dikatakan oleh Muhammad al-Ghamrawiy dalam kitabnya as-siraj al wahaj ‘ala matnil minhaj, bahkan Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj juga menegaskan diperbolehkannya seandainya diantara mereka ada sebagian yang diniatkan membayar dam dan sebagiannya lagi untuk berkurban. Hal itu memperkuat dugaan diperbolehkannya untuk berkurban sapi untuk tujuh orang.
Adapun hadits-hadits semakna dengan hadits di atas adalah

وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ»

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «كُنَّا نَتَمَتَّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعُمْرَةِ، فَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهَا»

Sisi teologis berkurban yang patut direnungkan adalah nilai pengorbanan atas kepatuhannya kepada perintah Allah dan nilainya dalam berbagi, tidak hanya sekedar mengukur besar dan kecilnya hewan sesembelihan, karena Allah bukan kanibal pemakan daging juga bukan Tuhan yang haus darah seperti kepercayaan mereka terhadap para dewa dan berhala sesembahannya. Penilaian Allah terletak pada nilai taqwa yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk hewan kurban, sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah atas kelebihan karunia yang diberikan kepada kita. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.. (Al Hajj: 37)

Dengan demikian makin banyak yang dikurbankan disertai dengan keikhlasan semata mata menjalankan perintah Allah maka nilai kebaikannya tentu semakin berlimpah bila dibandingkan dengan pengorbanan yang kecil dengan kadar keikhlasan yang sama.

Sahur Pisang Lauknya Sate

thumbnail
Meskipun Ramadan telah usai, namun kenangan sahur pisang lauknya sate sulit terlupakan, hingga tak tertahan jemari ini mengamankannya dalam bentuk tulisan. Inilah kisah lika-liku laki laki yang ditinggal isteri dan anak-anak mudik lebaran Juli 2016 atau bertepatan dengan Ramadhan 1437 H. semoga bermanfaat dan bisa dipetik hikmahnya.

Salah satu dari tanda kebesaran Allah menjodohkan laki-laki dan perempuan adalah untuk menjadikan hidup yang lebih sakinah dan saling menyayangi (QS. ar-Ruum:21), karena perjodohan itu akan saling melengkapi tapak perjalanan hidup ini, karenanya keduanya (laki-perempuan) tidak diciptakan dengan karakter yang sama persis. Pada umumnya, sekali lagi pada umumnya karakter dasar antara lelaki dan perempuan berbeda. Kaum hawa lebih lemah-lembut, perasa, pandai memasak, rapi dan pola hidupnya lebih teratur, sedangkan kaum Adam, lebih keras, egois, tak suka memasak, berantakan, dan pola hidupnya kurang teratur. Kisah menarik ini lebih banyak diinspirasi oleh kedua karakter tersebut, sebagai alat bantu memahami saling keterlengkapannya dalam menapaki jalan hidup.

Hanya dua kali sahur dan dua kali berbuka puasa ditinggal oleh isteri mudik lebaran, tapi nuansanya sangat berbeda dengan sahur-berbuka hari hari sebelumnya. Bila sebelumnya teratur berbuka dan sahur bersama dengan rapi dan terjadwal apik, lain ceritanya dengan dua hari dipenghujung ramadhan usai ini.. hahaha.

Dua kali berbuka puasa
Berbuka puasa di hari pertama, ku tunggu sambil rebahan menonton tayangan televisi khas ramadhan, ternyata pulas tertidur hingga tinggal beberapa menit saja waktu maghrib tiba. Akhirnya secepat kilat memasak air panas membuat kopi, belum tuntas adukan kopi, maghribpun tiba, kebingungan setelah minum air putih dan kopi, baru terpikir santap malam untuk mengganjal perut setelah diajak berpuasa seharian. Semua bahan masih mentah, telur dan tahu yang telah disiapkan oleh isteri tercinta. Tak berpikir panjang, seketika masak nasi, goreng tahu, untuk melezatkannya ambil kacang asin di meja sedianya untuk hidangan lebaran, sambel kacang pun siyap menjadi teman santap malam. Lha… kok asinnya tidak ketulungan, apa boleh buat karena diburu waktu tarawih, asin juga harus dimakan #plakk.

Ternyata hari kedua lebih tragis, janji teman mengajak berbuka puasa di masjid dimana tempat saya kadang mengisi pengajian, sehingga tak ada persiapan menu apapun untuk berbuka, kurang lima menit hendak berangkat tiba-tiba hujan deras mengguyur hingga waktu Isya’ tiba, terpaksa, bikin kopi dan goreng tahu lagi, Hahaha… sambil bergumam:”kalau tau begini, mendingan dari tadi aja aku bersiap siap bikin ta’jil dan menu buka puasa sendiri”. Sambil senyam-senyum sendiri. Allah memang indah mengatur manusia dan mengajarkan untuk tidak menggantungkan hidup kepada selain-Nya.

Dua Kali sahur
Sahur pertama berharap aman, akhirnya masak sendiri, sembari menunggu matang saya menonton piala uero 2016, tentu masih dengan tahu yang sudah digoreng saat berbuka puasa tadi. Eeealah, ternyata nasinya kebanyakan air #nasiiibbbb. Akhirnya terpaksa makan nasi mirip bubur, lauk tahu sisa berbuka puasa. Hahaha…

Sahur kedua, berharap lebih indah dari sebelumnya, karena sahur kali ini adalah sahur terakhir di bulan ramadhan 2016, malam harinya membeli sate 10 tusuk ditambah membeli buah pisang dan jeruk tujuannya suplay gizi dan serat, yaaah.. biar mirip pesta pora sahur gitu lah, karena serangan kantuk yang tak tertahan, akhirnya tertidur pulas hingga jam empat, lauknya siyap ternyata lupa belum masak, sedangkan nasi di rice coocker basi, hahaha.. akhirnya dengan sigap bak super hero, bekerja dengan cepat untuk masak nasi sembari seduh kopi, namun malang tak bisa dihindari, terpaksa makan nasi setengah matang, tak kehilangan akal, akhirnya sahur dengan pisang lauknya sate, imsakpun tiba #plakk kembali saya tersenyum, rupanya karakter yang berbeda antara kaum hawa dan adam adalah untuk saling melengkpai. Semoga tidak terulang lagi…

Pesan Puasa Untuk Penguasa

thumbnail
Terbit 23 Juni 2016

Ritual puasa sudah menjadi ihwal yang maklum bagi agama-agama di dunia, dalam Agama Budha dikenal uposatha, Agama Hindu puasa ( upawasa) nyepi, Yahudi puasa 40 hari dalam setahun dan diantara mereka ada yang puasa Senin dan Kamis (sheni va-hamish), ummat Kristani berpuasa sesuai petunjuk pemuka gereja, bahkan sejak zaman Romawi dan Yunani puasa sudah dikenal, sedangkan orang Islam berpuasa wajib selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan dan puasa sunnat di hari-hari tertentu.

Puasa dianggap sebagai ibadah fenomenal, khas dan sarat dengan pesan moral yang dikandung di dalamnya, dari limit waktu, ibadah puasa lebih banyak memakan waktu diabanding dengan ibadah wajib lainnya, bila sholat atau zakat rampung dalam beberapa jam saja, bila ibadah lain umumnya adalah memakan biaya, maka sholat justru menekan biaya, sedang haji maksimal hanya 4 hari bagi orang yang melakukan nafar tsani, berbeda dengan puasa Ramadhan yang mencapai satu bulan utuh. Tentu ada pesan pesan moral yang khas yang hendak disampaikan kepada ummat yang melaksanakannya.

Luasnya samudera hikmah puasa yang membentang menantang semua orang untuk mengarunginya dari sudut mana saja dia bisa, tergantung alat bantu keilmuan yang melatar belakanginya, namun dari sekian hikmah ada pesan moral puasa yang sangat prinsipil kepada semua ummat khususnya penguasa yaitu kejujuran dan menjauhi prinsip aji mumpung (opportunism).

Kejujuran
Pesan moral tertinggi selain sabar adalah jujur, diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata dengan cara melepaskan diri dari kebutuhan makan-minum dan hubungan badan, di mana ketiganya merupakan kebutuhan hidup manusia secara personal yang sangat vital. Alangkah mudahnya melakukan aksi tipu-tipu mengelabuhi orang lain di sekitarnya dengan style puasa, lemah lunglai dan bibir kering, padahal ia dalam kondisi kenyang dan segar bugar setelah makan minum ditempat yang tak terlihat oleh orang, namun pribadi orang berpuasa pantang melakukan itu semua.

Mentalitas kejujuran orang yang berpuasa benar benar diuji, menjadikan puasa sebagai media berlatih berbuat ikhlas tanpa pamrih semata mata karena Allah swt. Jauh dari pencitraan dan abai terhadap penilaian orang yang dia sematkan kepadanya. Latihan ini diharapkan menjadi bekal menapaki jalan kehidupan di bulan bulan berikutnya setelah Ramadhan, kepada siapa saja, terutama kepada penguasa, dimana banyak nasib rakyat yang dititipkan di pundaknya.

Ramadhan ibarat sekolah ruhani, pengawasnya langsung rabbul izzati dengan prinsip kurikulumnya sangat jelas yaitu pengendalian diri, karena isi terpenting dalam puasa adalah pengendalian diri dan sabar (Abdul Manan:2005,103). Dari sini nampak sekali bahwa puasa bukan tujuan (ghayah), melainkan puasa adalah perantara (washilah) untuk mengantar manusia menjadi pribadi bertaqwa.

Mumpungisme
Hikmah lain yang patut direnungkan adalah terhindarnya manusia dari karakter aji mumpung, dalam ritual puasa setiap personal dipaksa untuk disiplin makan dan menunggu pada waktunya, bukan mumpung ada semua makan dilahapnya, meskipun miliknya, maka wajar secara teologis orang yang puasanya hanya menahan kebutuhan fisik dan biologisnya maka ia tidak mendapat hikmah apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga (al-Hadits).

Betapa ajaran berpuasa mempunyai orientasi masa depan (future oriented) yang sangat besar, hingga memakan hidangannya sendiri yang sudah sah menjadi miliknya ditahan sampai bedug maghrib tiba. Dalam hal ini puasa mengajarkan menjauhi sikap mumpungisme yang alih-alih dijadikan pemuas kerakusannya, tak sedikit kita menyaksikan menyalahgunakan wewenang untuk kepuasan pribadi dan keluarga, sekali lagi dalil yang digunakan amat sangat sederhana yaitu mumpung masih menjadi penguasa.

Pesan spiritual kejujuran dan anti opportunis yang disampaikan melalui pusa menjadi pilar penting bagi semua manusia khususnya penguasa yang dhalim untuk tidak menggunakan wewenangnya melalui mekanisme yang dinilai tidak amanah. Seandainya mental kejujuran dan tidak aji mumpung ini tertanam dan hidup dalam diri penguasa maka semua problematika kerakyatan akan teratasi dengan baik. Sebaliknya apabila hatinya terkunci mati dari sifat peka terhadap orang lain maka ia tak lagi memiliki kearifan dan sensitifitas kepada sesama, anusia yang demikian bisa menjadi manusia yang bermental/berkebudayaan lembek (soft culture),

Pandangan fiqh sentris bahwa puasa dalam arti mencegah (imsak ) tak perlu dibesar-besarkan, karena ada puasa yang jauh lebih diharapkan keberhasilannya yaitu puasa bathin untuk melatih mental itu tadi, sebagaimana Syeikh Abdul Qadir Jaelani menganjurkan puasa bathin merupakan puasa sejati, yakni selalu mengisi bathin dengan perintah dan menjauhi larangan, puasa yang demikian tak terikat dengan sahur dan berbuka.

Kemampuan memetik hikmah puasa yang demikian luhur dan mulia akan memberi warna tersendiri untuk bangkitkan sebuah bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensional baik krisis moral maupun krisis spiritual yang dalam dua dasa warsa ini sangat memprihatinkan. Semoga puasa yang tinggal secuil lagi ini bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menggapai kejujuran dan sikap menjauhi mental aji mumpung (opportunistik).


Napak Tilas Isra' dan Mi'raj

thumbnail
Setelah beberapa hari yang lalu telah terbit artikel dengan judul banjir ditinjau dari aspek teologis, dan gagal entah terbit atau tidak karena waktu itu masih di kampung halaman, namun tetap masih terposting di website ini, adapun judulnya adalah teologi penanggulangan narkoba. maka saat ini kami posting dengan terbitan korang Tangsel  Pos dengan tema Napak Tilas Isra' dan Mi'raj dalam rangka menyambut peringatan hari besar islam (PHBI), selamat membaca.

Sejarah telah mencatat bahwa Isra’ dan mi’raj mengandung dua perjalan mu’jizat, perjalanan horizontal dari masjid al-Haram (Mekah) menuju Masjid al-Aqsha (Palestina) dilanjutkan perjalanan vertikal dari dari masjid al-Aqsha ke Sidratul Mutaha atau yang lebih dikenal dengan langit ketujuh, Mudhury menyebutnya sebagai ‘maha ruang’ ditempuh hanya dalam waktu semalam. Peristiwa ini di terjadi terjadi 14 abad silam, tepatnya tahun 620-621 M.

Perjalanan singkat dengan jarak tempuh yang demikian jauh ini tak pelak lagi mengundang banyak tanya, khususnya kaum kafir quraisy dan sebagian orang-orang muslim itu sendiri. Kita tidak bisa bayangkan posisi Mekah dan Palestina lebih kurang 1500 KM belum lagi ke Sidratul Muntaha, rampung hanya ditempuh dalam waktu semalam. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, kecepatan tersebut lambat laun tersibak secara ilmiah dengan alat bantu teori relativitasnya Einstein dan teori annihilasi. 

Teori annihilasi mengatakan, bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi, jika materi dan anti materi dipertemukan maka kedua partikel akan lenyap dan membentuk sinar gama, dari sini bisa dipahami bahwa isra’ dan mi’raj adalah perjalanan hebat secara fisik, bukan sekedar ruh atau mimpi belaka. Diperjelas lagi bila dilustrasikan satelit atau sputnik yang menjadi pesawat penjelajah ruang angkasa, namun bukan berarti teori tersebut mengungkap keseluruhannya secara detail tetapi hanya sebagian kecil saja. Akal manusia yang terbatas ini rupanya tidak dipersiapkan untuk mencerna hal hal serumit isra’ mi’raj, sekaligus disitulah keimanan dibutuhkan untuk meyakini kebenaran peristiwa fenomenal dan monumental tersebut, karena ada yang lebih substantif dari sekedar perjalanan dahsyat itu. 

Al Quran yang terdiri dari 6000 ayat lebih, tak lebih hanya dimuat dalam empat ayat saja yaitu dalam konteks isra’ termaktub dalam QS. al-Isra’:1 sedangkan mi’raj terabadikan dalam QS. an-Najm ayat 13-15. Secara implisit mengandung pesan bahwa bahwa isra’ mi’raj adalah peristiwa imani, titik tekan substansinya adalah hikmah dan oleh-oleh dari perjalanan tersebut, berupa shalat lima waktu seperti yang dilakukan oleh ummat muslim saat ini, bukan sekedar meyakini dan takjub keagungan peristiwanya. 

Napak Tilas Horizontal dan Vertikal
Peristiwa hebat yang tak mungkin terjadi kedua kalinya sepanjang sejarah manusia ini, rupanya melatarbelakangi lahirnya perintah berat dan istimewa yang wajib berupa shalat, kewajiban ini berbeda dengan perintah kewajiban lainnya sebut saja zakat yang harus menunggu modal dalam batas nishab, haji menunggu sampai mampu, berbeda pula dengan puasa yang boleh dibatalkan dalam perjalanan jauh, namun shalat harus dilaksanakan dalam kondisi dan situasi apapun. 

Banyak dimensi yang bisa dikaji dari objek aktivitas shalat ini, baik secara filosfis, sosiologi, psikologis maupun medis, bagi agama Islam, shalat sebagai pilar utama yang pertanggungjawabannya diletakkan di nomor wahid sebelum amal lain dihitungnya, selain itu ia menjadi ibadah prioritas yang harus dibiasakan sejak dini, Hal ini wajar kiranya, karena dalam ibadah shalat mengandung hikmah besar sebagai sebuah sarana untuk melahirkan kepekaan diri yang bersifat sosial-horizontal, sebagai makna simbolik perjalanan isra’, sedangnkan kualitas shalat yang ditentukan khusyu’ sebagai simbol hubungan vertikal-individual dengan Tuhan laksana imitasi (tiruan) dalam mi’raj itu sendiri. 

Shalat dalam arti kosepsional praktis mempunyai fungsi penting dalam upaya pembangunan karakter (character building), peredam nafsu buruk, penanaman akhlak mulia, penyucian jiwa dari sifat penakut, pelit, keluh kesah, dan putus asa. (Qs. al-Ma’arij: 19-23), , shalat juga sebagai doa-doa untuk mendorong hidup optimis dan sabar (Qs. al-Baqarah: 153). Bahkan dalam tingkat tertinggi mampu mejadi terapi kesedihan duniawi sebagaimana dicontohkan oleh Rasul saw dalam sabdanya, “Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.” 

Indikasi keberhasilan shalat selanjutnya akan tampak dalam prilaku sehari-hari seperti terkendalinya nafsu, kesucian jiwa, pemberani, pemurah, gembira, optimis dan lain sebagainya. Apabila kemuliaan tersebut teraplikasikan dengan baik secara nyata di tengah masyarakat tentu akan melahirkan masyarakat yang dinamis, aman tanpa gangguan, nyaman tanpa rintangan, di situlah fokus utama shalat itu didirikan dalam rangka menegaskan fungsi sosial horizaontal laksana perjalanan horizontal Nabi Muhammad saw dari Mekah-Palestina.

Perlu segera dicatat, bahwa prilaku seseorang tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya, melainkan diwarnai latarbelakang faktor simpati, sugesti, imitasi (meniru) maupun situasi, prilaku itu sendiri berarti gerak gerik, kegiatan atau tindakaan prilaku manusia sebagai penampakan dari realisasi pernyataan, ekspresi dan manifestasi sebuah gejala kejiwaan yang menjadi tindakan nyata (baca, Astuti, Jurnal Konseling, 2015). Kaitannya dalam konteks shalat, shalat menjadi pengajaran seorang hamba untuk berhubungan langsung dengan Rabb-nya dalam sebuah dimensi serius yang disebut khusyu’, supaya memperoleh kejernihan hati yang menjadi sumber prilaku. Situasi dan kondisi khusyu’ ini laksana napak tilas mi’rajnya Rasul saw dari Palestina naik ke Sidratul Muntaha yang bersifat sangat pribadi menemui Tuhannya. 

Perbaikan hubungan vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia menjadi indikator kualitas keberhasilan seseorang dalam mendirikan shalat, karena shalat harus dipahami sebagai proses wajib, tujuan utamanya adalah perbaikan diri, yang puncaknya adalah menjauhi perbuatan keji dan mungkar. (Qs. al-Ankabut: 45). Ibn Mas’ud pernah berkata, siapa yang shalatnya tidak menjauhkan perbuatan keji dan mungkar maka shalatnya tidak mendekatkan diri kepada Allah justru menjadikan ia tetap jauh. Menurut Abu Aliyah, shalat harus ada tiga unsur yaitu ikhlas berperan mengajak yang ma’ruf, takut mencegah yang mungkar dan dzikrullah mencakup makna keduanya.

Di lihat dari waktu turun perintah tersebut di pagi hari yakni waktu subuh, bukan tanpa maksud dan kering makna, melainkan ada pesan yang bisa ditangkap bahwa shalat menjadi amal terdepan yang kepadanya amal lain ditumpukan, mengingat pagi adalah awal aktifitas seseoran mulai berdenyut. Dalam hadits juga disebutkan bila shalatnya baik maka amal ibadah lainnya ikut menjadi baik,. Manusia hidup tidak hanya diperintahkan shalat, tetapi shalat adalah awal dari segalanya, dari shalatlah semua berawal, bahkan yang ditanya pertamakali di hari kaiamat adalah shalat (al-hadits).
***
Maksud tulisan singkat ini, tidak lain adalah mengajak ummat Islam untuk memetik mutiara hikmah peringatan isra’ mi’raj dalam kerangka konsepsional praktis yang mampu mendorong terlahirnya sikap dan prilaku keagamaan secara nyata ditengah masyarakat, dengan shalat sebagai salah satu sarananya. Selain itu hikmah yang harus dipegang erat adalah isra’ mi’raj bukan cerita biasa tanpa pesan keagamaan, melainkan disana ada pesan untuk menapktilasi setiap hari dimana gerakan shalat sebagai isra’nya dan khusyu’ sebagai mi’rajnya. Setelah berhasil maka akan ada perubahan besar dalam hidup ini menjadi berakhlak lebih baik, laksana perubahan dari zaman kegelapan jahiliyah menuju zaman terang benderang bersinar akhlak mulia. Tanpa ada pemaknaan kontekstual seperti ini maka peringatan isra’mi’raj akan hampa dan hanya sebatas pada euforia belaka.

Teologi Penanggulangan Narkoba

thumbnail
Tulisan yang satu ini, nasibnya agak beda dengan tulisan-tulisan sebelumnya seperti Banjir ditinjau secara teologis atau nasib baik dari tulisan teologi kekeringan, pasalnya sejak tulisan ini aku kirim kemudian saya tinggal pulang kampu, meskipun sempat paginya mencari koran yang kami tuju, namun di bawah hujan rintik-rintik dipagi hari saya ke penjual koran, ternyata lagi diborong orang, hingga saat ini belum tahu, sudah terpublish atau belum judul temanya yaitu Teologi Penanggulangan Narkoba

Di ruang dengar kita, Narkoba sudah tidak asing lagi. pemberitaannya santer di berbagai cetak dan eletronik. Meskipun sebagian orang tidak perlu lagi mengetahui delil-delik definis narkoba. Barangkali yang dikenal oleh mereka, narkoba adalah barang haram yang berbahaya dan punya efek ketagihan bagi pemakainya, karenannya menjauhinya menjadi sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan..

Narkoba menurut undang undang No. 35 tahun 2009, didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pemakainya akan mengalami ketergantungan yang sangat luar biasa, bahkan mendorong untuk melakukan perbuatan nekad tak memandang etika atau norma apapun demi untuk memenuhi ketergantungan, dari sini narkoba menjadi sumber segala keburukan—selain pengobatan atas anjuran medis-- Efek narkoba amat buruk sekali baik bersifat individual yang buntutnya terhadap dampak sosial, pendek kata, narkoba adalah musuh bersama.

Oleh karena itu, Berbagai formula penanggulangan dikerahkan, dari hulu hingga hilir disusuri dan diusut, dari pemakai sampai bandar pengedar dan kawanan yang memproduksinya. Sikap negara amat jelas dalam hal ini, yakni memberikan hukuman berat terhadap si pemakai, bahkan memberikan hukuman mati terhadap pengedar yang terbukti menjajakan narkoba dalam jumlah tertentu, seperti yang telah dilakukan pada 6 terpidana mati kasus narkoba bulan Januari 2015 yang lalu, karena dianggap pelanggaran berat yang mengancam eksistensi bangsa. 

Menyadari sedemikian besar bahayanya narkoba, Presiden mengeluarkan instruksi No.6 tahun 1971 dengan membentuk Badan Koordinasi, yang terkenal dengan nama Bakolak Inpres 6/71, yaitu sebuah badan yang mengkoordinasikan (antar departemen) kegiatan penanggulangan terhadap berbagai bentuk kegiatan yang mengancam keamanan negara, seperti pemalsuan uang, penyelundupan, bahaya narkotika, kenakalan remaja, kegiatan subversif dan pengawasan terhadap orang-orang asing. 

Seiring gencarnya penanggulangan narkoba dalam berbagai bentuknya, pengguna narkoba masih menunjukkan kecenderungan meningkat, kondisi Indonesia berada pada level darurat bahaya narkoba seperti yang disampaikan Presiden. Berdasarkan data dari situs situs terpercaya yang mengutip Komjen Pol Budi Waseso Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) saat berkunjung di Pondok Pesantren Blok Agung Banyuwangi Senin (11/1/2016), bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 kemarin diperkirakan mencapai 5,9 juta orang, sebuah jumlah yang sngat fantastis bagi sebuah negara yang berketuhanan.

Efek buruknya tidak hanya merugikan individu si pemakai melainkan merembet ke sosial secara umum. Secara individual pengaruh narkoba sangat aktif bekerja merusak urat syaraf sentral, jantung, darah dan denyut nadi, sedangkan secara mental, umumnya pengaruh narkotika mengakibatkan pemakainya menjadi pelupa, acuh, gelisah, gugup, emosional, apatis, putus asa pendiam, sinis pesimis dan muram (Rachman Herman, 1985), dan sederet efek negatif lainnya. Akibat rusaknya jaringan sentral syaraf dan mental yang sedemikian parah, sehingga menyeret penggunanya melakukan tindakan asusila, (Fuad Kauma, 1999), karena kesadaran dalam mempertimbangkan prilakunya berkurang yang pada akhirnya akan menimbulkan efek buruk prilaku sosialnya. 

Berangkat dari efek buruknya narkoba yang berpeluang meluas ke ranah sosial itulah, tentu tanggung jawabnya bukan hanya ditumpukan kepada pemerintah an-sich, melainkan semua elemen masyarakat dengan berbagai pendekatan harus diupayakan, demi terciptanya keamanan dan kenyamanan dari semua gangguan prilaku sosial anggota masyarakat lainnya agar terlepas dari jeratan barang haram yang bernama narkoba tersebut. Bila tidak, menurut Prof. Adrianus Meliala, Ph.D seorang Kriminolog FISIP UI, bukan tidak mungkin bangsa ini pelan-pelan mengikuti jalan kelam bangsa-bangsa besar dunia, yang menghabiskan ratusan juta dolar memerangi pedagang narkotika (Reza Indragiri, 2007).
***
Dalam agama Hindu ada enam musuh dalam diri yang harus diperangi atau lebih dikenal dengan Sad Ripu, enam hal tersebut salah satunya adalah adalah, Mabuk, bingung, marah, isi hati, rakus dan hawa nafsu, sedangkan umat Kristiani meyakini bahwa orang yang melakukan tindakan merusak dirinya tergolong umat melakukan tindakan meninggalkan tiang salib, adapun agama Budha, ada empat perbuatan yang dilarang, salah satunya adalah Majja yakni sesuatu yang mebuat seseorang tidak sadarkan diri, dalam Islam sendiri mabuk dan tindakan membahayakan sejenis narkoba sangat diharamkan (QS. al-Maidah:90-91), bahkan termasuk dosa besar, kira kira seperti itulah sikap agama-agama dalam membuat garis terang bernada melarang terhadap narkoba. 

Kiranya jelas sudah, bahwa semua agama melarang ummatnya memakai narkoba walau sekedar coba-coba, karena pemakai akan kehilangan kendali setelah syaraf sehatnya diserang dan bisa berlaku nekad, dalam ungkapan jawa yang juga merupakan wejangan Sunan Ampel mengajarkan moh limo (lima hal terlarang), lima hal tersebut yaitu main, maling, madon, mabuk, madat (narkoba), madat ini sudah dikenal sejak 700 tahun yang lalu, bahkan di duga Ken Arok membunuh Mpu Gandring juga di bawah pengaruh narkotika, sejenis kanabis dan larangannya tertuang dalam kitab nagarakertagama.

Sebagai benda yang menghilangkan kesadaran, sifatnya lebih dari memabukkan, dikonsumsi dalam jumlah sedikit maupun banyak, sama haramnya. “Sesuatu yang memabukkan dalam dosis banyak, maka sedikit juga hukumnya haram”. (HR. Tirmidzi). Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Rasulullah saw melarang setiap sesuatu yang memabukkan dan mufattir (yang merusak). Sejalan dengan tinjauan para ahli sedikitinya ada tiga efek negatif narkoba, pertama, depresan yakni memperlambat fungsi syaraf pusat sehingga hilang kesadaran dan tertidur, kedua, stimulan merangsang sistem saraf pusat meningkatkan kegairahan dan kesadaran, ketiga, halusinogen, narkoba akan mengubah rangsangan perasaan dan pikiran sehingga menimbulkan kesan palsu atau halusinasi. 

Penanggulangan secara normatif seperti yang lazimnya dilakukan dengan cara promotif, kuratif, preventif dan advokasi bukanlah cara yang buruk, tetapi tak ada salahnya bila pendekatan teologis dijadikan sebagai cara alternatif dalam menanggulangi bahaya narkoba, sebab semua manusia mesti mempunyai sistem kepercayaan terhadap sang maha kuasa, maha melihat atas perbuatan yang dilakukan. Dalam knteks narkoba, teologi agama-agama dimata pemeluknya mempunya garis kesamaan yang jelas, bahwa narkoba adalah barang haram yang harus dijauhi sejauh jauhnya. Dengan kata lain, narkoba bagi kaum beragama apapun adalah musuh bersama (common enemy

Cara yang paling sederhana adalah dengan cara kerjasama bahu membahu antara pemerintah (umara’) dan tokoh agamawan, yang dibentuk dalam wadah tertentu dengan legalitas formal melalui ‘palu’ hukum peraturan pemerintah serta dilakukan sistematis, terstruktur dari masyarakat bawah hingga kalangan atas, terukur dengan menggunakan fluktuasi penurunan pemakain sebagai sebagai parameternya dan terencana dalam arti sesuai dengan target dan sasarannya. Posisi tokoh agama dalam hal ini menjadi ujung tombak dan perpanjangan tangan pemerintah dalam mempertebal keimanan dan kesadaran mereka dalam beragama.

Setelah itu kemudian dilakukan penelitian hasil yang dicapai dari rencana yang telah dibuat dengan seksama dengan tujuan penebalan keimanan akan nilai luhur agama yang menyelematkan jiwa pemeluknya serta mengungkap kebesaran dan ke-Maha Tahu-an Tuhan atas perbuatan makhluknya. Cara semacam ini lebih mejadikan personal ummat sebagai titik central penanggulangan, bukan pemagaran melalui sederet peraturan yang mengesankan pemaksaan, lebih mejadikan ummat beragama dalam posisi sebagai memproteksi dirinya ketimbang sebagai obyek teks larangan ber-narkoba dari agamanya itu sendiri. Tawaran solusi ini tidak lain adalah sebagai upaya memperkaya formula penanggulangan penyalahgunaan narkoba yang perlu dicoba.

Happy Birthday Ilma Kamila Sayang

thumbnail
Di hari jadimu yang kelima ini Nduuk
Ku rangkai kata doa indah sebagai bukti cintaku kepadamu, kan ku lantunkan dalam malam kelam agar terdengar nyaring oleh alam, biar malaikat mengamininya dalam miliu haru nan sendu. Hubungan batin seorang anak dan Bapak seperti ini tak akan sirna hingga alam digulung, air laut ditumpahkan, putaran bumi dihentikan. Kasih sayang orang tua bak permata yang selalu bersinar dan berharga dimanapun jua. Dirimu akan selalu ku hadirkan dalam doa agar selalu berpayung kasih sayang dan bernaung dalam ampunan, jasmani kuat dan ruhani sehat, kokoh iman dan mampu menebar ihsan

Di hari ini pula Nduk…
Tekadkan niatmu untuk mengabdi kepada Yang Maha Kuasa, bahwa tiada Tuhan perkasa yang mencipta kecuali gusti Allah ta’ala dan kanjeng Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya, ia menjadi pelita hati bagi ummat Islam di dunia, dari dulum kini dan akan datang, dahulu sekarang dan akan datang. Kubur dalam dalam keraguan pada kuasa Tuhan, buang jauh jauh was was dan segala bentuk ketidak percayaan. Bulatkan semangat mengabdi kepada Agama dan berbuat baik kepada kedua orang tua serta berbagi untuk sesama manusia. Orang yang paling baik adalah dia yang panjang usianya dan baik sepak terjangnya, sebaliknya seburuk buruk manusia adalah dia yang panjang usianya dan rusak akhlaknya. Jadilah engkau orang yang bermandaat, apapun jabatanmu, dimanapun dan kapanpun jua. Apalah artinya hidup bila tak pernah membukukan kebaikan untuk sesama. Ketahuilah bahwa ayat al Qur'an bertebaran berbicara tentang kehidupan sosial

Hari ulang tahunmu Nduukk..
Pada hari ni adalalh hari sabtu 26 maret, lima tahun yang lalu engkau begitu lemah, jerit tangis sebagai panggilan atas kelemahanmu, semakin kencang kau menangis semakin cepat pula engkau ditolong, pahamilah, begitu pula ketidak berdayaan manusia dihadapan Allahm semakin sering engkau menjerit dalam doa, maka semakin cepat pula engkau ditolong oleh Allah, orang yang tidak mau berdoa dianggap sebagai orang yang sombongm begitulah kira kira isi hadits Nabi saw

Di hari ini pula Ndukkk…
Aku berpesan, jangan pernah sedikitpun dibalutan kelemahan seorang manusia bersikap sombong terhadap sesama, kepada anjing cacat sekalipun, karena semua yang melekat dan kesempurnaan manusia hanyalah titipan, usaha kita tak akan sampai pada kemulyaan kecuali atas pertolongannya. Kau yang kini mulai merenda tulis dan baca semoga keberhasilan selalu berpihak dan manfaat selalu menyertai setiap jengkal langkahmu

Masih banyak curahan hati yang tak sanggup diwakili narasi atau pilihan diksi, karena yang dipikirkan tak selalu bisa dituliskan. Ya Allah ya rabb kabulkan semua doa yang terucap dan yang tersimpan di dalam hati ini, happy birthday ke-5 Ilma Kamila ‘Putri’

Mengapa Menulis Blog

thumbnail

Blogging menjadi aktifitas menyenangkan, pasalnya dunia maya yang luas bebas dikapling dengan cara ekspresif, sebut saja Thomas Ricker blogger terbaik dunia pada saat 2004 kontribusinya tak tertandigi yang mengantarkan dirinya sebagai blogger terbaik dunia, meski tulisannya dengan gaya humor namun tak mengurangi kepadatan makna dan kandungan pesannya seputar gadget. Gadget yang dimaksud buka sejenis hp dan lain sebagainya, melainkan gadget dalam website.

Salah satu penyakit ilmu pengetahuan adalah lupa, ada ungkapan arab mengatakan,
العلم صيد والكتابة قيد # قيد صيودك بحبل واثقــة
Ilmu bagaikan binatang liar, tulisan adalah tali pengikat
Ikatlah hewan liarmu dengan tali yang kuat

Atas pertimbangan ungkapan bijak di atas, perlu kiranya dibuat sebuah catatan kecil sebagai pengingat atas kealpaan pengetahuan atau hafalan yang pernah diukir dalam memori. Nah, era digital serba internet ini, tak ada yang tahan lama kecuali server mega raksasanya google sebagai salah satu penyedia layanan hosting secara cuma cuma, sayangnya banyak yang abai dan bahkan cenderung tidak menggunakan fasilitas tersebut.

Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis

thumbnail
25/02/2016
Seperti beberapa artikela lainnya yang masih membincang teologi, seperti teologi kekeringan, kali ini juga masih ada kental nuansa teologisnya yang saya beri judul Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis diterbitkan tanggal 25 Pebruari 2016. selamat membaca, semoga bermanfaat. 

Dedikasi manusia menjadi mandataris Tuhan di bumi (khalifatullah fil-ardh) terkadang dimaknai berlebih, alih-alih dengan argumen sebagai khalifah di bumi, mereka melegitimasi dirinya meng-eksploitasi alam tanpa batas. Alam dipandang sebagai cosmos berisi tumpukan benda mati yang dijadikan objek sasaran untuk ditundukkan, kemudian diperalat sebagai pemuas hasrat materialisme dan kerakusan manusia, dengan dukungan sains dan tekhnologi tanpa kesadaran dan tanggung jawab, modus perusakan lingkunganpun makin menggila dan mengerikan, tak pelak lagi, krisis ekologi berupa longsor, pemanasan global, kekeringan, kebakaran hutan, termasuk banjir di beberapa titik sedang aktif melumat pemukiman saudara-saudara kita. 

Penulis berasumsi, bahwa alam semesta didisain oleh tuhan seimbang sesuai takaran sunnatullah-Nya, tak terkecuali setting kemampuan bumi menyerap debit curah hujan dari langit, sekaligus menampungnya di dalam rongga tanah sebagai cadangan air di musim kemarau. Namun karena pola pikir dikotomis yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), menjadikan ego manusia sebagai makhluk superior bertindak sewenang-wenang pada hingga akhirnya mendegradasi peran dan fungsi bumi mengolah air hujan, baik areal luasnya maupun kualitas daya serapnya seiring peningkatan demografi pertumbuhan dan kebutuhan manusia. Dengan kata lain, banjir bukan disebabkan bumi tak mampu menyerap debit air hujan, melainkan ada perubahan alih fungsi bumi yang berlebihan. 

Menurut Sayyid Hosein Nasr, kerusakan ekologis dalam pelbagai jenisnya dua abad terakhir ini disebabkan krisis spiritual, salah satu bentuknya adalah teologi antroposentris dimana memposisikan manusia sebagai penguasa alam, sehingga keduanya tidak terjalin hubungan yang harmonis. Sejalan dengan pendapat Fritjof Capra yang mensinyalir, bahwa berbagai macam ragam krisis yang terjadi saat ini disebabkan keserakahan manusia dan kerakusan memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya, sehingga mendorong ego manusia sebagai subyek penguasa, sedang alam adalah obyek sasarannya.

Momentum

thumbnail
Selfie sik Mak, masio durung adus

Iki lho Bojoku Broo

Citra Kirana/Rumana

Ustadz Riza

Ustadz Yusuf Mansyur

Pak Prof. BJ. Habibie

Tarmidzi di TBNH

Om Dik Doank

Pak Prof. BJ.Habibie

Dhuyufurrohman

thumbnail
Ya Allah...
Mudahkanlah kami dan anak keturunan kami
 untuk menjadi tamu-Mu..
labbaikallahumma labbaik...

Melancong ke Jogja (Part 2)

thumbnail

Melancong ke Jogja ( Part 1)

thumbnail