• Sungai

    darinya laut di isi, beraneka bahan yang ia bawa, dari ikan hingga kotoran. Namun laut bersabar menampungnya. Kesabaran laut patut dicontoh.

  • Pagi Buta

    Semburat mentari di ufuk timur, masuk ke sela-sela rimbun dedaunan, ia hendak datang mengabarkan semangat beraktifitas meraih asa dan cita yang masih tersisa.

  • Malam

    Malam gemerlap bertabur bintang, bintang di langit dan di bumi. Mereka membawa cerita masing masing sebelum akhirnya masuk ke peraduan asmara.

  • Gunung

    Gunung yang kokoh, ia dibangun dengan kuasanya, bukan dengan bantuan kita. Manusia hanya bertugas merawatnya dengan baik dan amanah. Bumiku lestari

  • Siang

    Mentarinya menyinari pohon di dunia, keindahannya luar biasa.

Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis

25/02/2016
Seperti beberapa artikela lainnya yang masih membincang teologi, seperti teologi kekeringan, kali ini juga masih ada kental nuansa teologisnya yang saya beri judul Banjir Ditinjau Dari Aspek Teologis diterbitkan tanggal 25 Pebruari 2016. selamat membaca, semoga bermanfaat. 

Dedikasi manusia menjadi mandataris Tuhan di bumi (khalifatullah fil-ardh) terkadang dimaknai berlebih, alih-alih dengan argumen sebagai khalifah di bumi, mereka melegitimasi dirinya meng-eksploitasi alam tanpa batas. Alam dipandang sebagai cosmos berisi tumpukan benda mati yang dijadikan objek sasaran untuk ditundukkan, kemudian diperalat sebagai pemuas hasrat materialisme dan kerakusan manusia, dengan dukungan sains dan tekhnologi tanpa kesadaran dan tanggung jawab, modus perusakan lingkunganpun makin menggila dan mengerikan, tak pelak lagi, krisis ekologi berupa longsor, pemanasan global, kekeringan, kebakaran hutan, termasuk banjir di beberapa titik sedang aktif melumat pemukiman saudara-saudara kita. 

Penulis berasumsi, bahwa alam semesta didisain oleh tuhan seimbang sesuai takaran sunnatullah-Nya, tak terkecuali setting kemampuan bumi menyerap debit curah hujan dari langit, sekaligus menampungnya di dalam rongga tanah sebagai cadangan air di musim kemarau. Namun karena pola pikir dikotomis yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentris), menjadikan ego manusia sebagai makhluk superior bertindak sewenang-wenang pada hingga akhirnya mendegradasi peran dan fungsi bumi mengolah air hujan, baik areal luasnya maupun kualitas daya serapnya seiring peningkatan demografi pertumbuhan dan kebutuhan manusia. Dengan kata lain, banjir bukan disebabkan bumi tak mampu menyerap debit air hujan, melainkan ada perubahan alih fungsi bumi yang berlebihan. 

Menurut Sayyid Hosein Nasr, kerusakan ekologis dalam pelbagai jenisnya dua abad terakhir ini disebabkan krisis spiritual, salah satu bentuknya adalah teologi antroposentris dimana memposisikan manusia sebagai penguasa alam, sehingga keduanya tidak terjalin hubungan yang harmonis. Sejalan dengan pendapat Fritjof Capra yang mensinyalir, bahwa berbagai macam ragam krisis yang terjadi saat ini disebabkan keserakahan manusia dan kerakusan memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya, sehingga mendorong ego manusia sebagai subyek penguasa, sedang alam adalah obyek sasarannya.
Share:

Momentum

Selfie sik Mak, masio durung adus

Iki lho Bojoku Broo

Citra Kirana/Rumana

Ustadz Riza

Ustadz Yusuf Mansyur

Pak Prof. BJ. Habibie

Tarmidzi di TBNH

Om Dik Doank

Pak Prof. BJ.Habibie
Share:

Dhuyufurrohman

Ya Allah...
Mudahkanlah kami dan anak keturunan kami
 untuk menjadi tamu-Mu..
labbaikallahumma labbaik...
Share:

Melancong ke Jogja (Part 2)

Share:

Melancong ke Jogja ( Part 1)

Share:

Popular Posts

On Instagram

Labels

Recent Posts

Motto Website Ini

  • Membaca
  • Mengamalkan
  • Mennulis
  • Menyebarkan