Home » , , , » Puasa dan Terapi Korupsi

Puasa dan Terapi Korupsi

terbit, 1 Juli 2015
Siapa yang tidak kenal korupsi?, namanya terdengar sangar, menakutkan bak hantu di siang bolong, terkadang ‘korupsi’ seperti sosok siluman, ada tindakannya namun tidak tertangkap pelakunya. Problem penanganan korupsi tidak hanya menjadi agenda utama bangsa Indonesia, tetapi menjadi agenda prioritas juga bagi negara-negara maju di dunia seperi Singapura, Jepang, China dan lain sebagainya.
Terhadap korupsi, dilakukan penangkapan koruptor sebagai wujud penegakan hukum rupanya tidak cukup, harus dilakukan pula tindakan pencegahan. Model pencegahannyapun beragam. Namun belum menuai hasil yang signifikan dalam menekan angka korupsi, terbukti Indonesia pada tahun 2014 masih bertengger di peringkat 114 dari 175 negara terperiksa berdasarkan Transparency International yang merilis Corruption Perseptions Index (CPI) Desember lalu di Berlin, Jerman.

Entah sudah berapa milyar modal yang dikeluarkan untuk menekan angka kebocoran uang negara, dari sosialisasi, seminar, penyebaran meme anti korupsi, buku dan segala upaya yang serupa. Meski demikian faktanya, upaya pemerintah dalam tindak pencegahan korupsi dan penegakan hukum harus diapresiasi secara obyektif.

Mungkin Puasa adalah salah satu terapi jitu mengikis oknum yang bermental korup, karena dalam jiwa orang orang yang berpuasa (shaim), merasakan adanya kemaha-hadiran tuhan dalam setiap langkah dan kerja seseorang. Dengan merasakan kehadiran tuhan secara terus menerus di dalam hati sepanjang hari diharapkan menjadi obat penawar dari mental koruptor menjadi mental bertaqwa yang salah satu cirinya adalah bersifat jujur, jujur dalam segala pekerjaan dan kebijakannya.

Menurut penulis, terjadinya tindak korupsi tidak semata mata karena faktor mental, tetapi bisa jadi karena lemahnya pengawasan, di sini puasa ‘berbicara’ bahwa puasa adalah pengawasan. Pengawasan yang tak bersekat oleh ruang, karena kehadiran tuhan selalu dirasakan di dalam hatinya. Bila sepakat dengan prinsip itu, maka bukan tidak mungkin, puasa menjadi formula baru mencegah tindak korupsi yang ‘kelihatannya’ terus menggurita ke semua lini dan profesi.

Pribadi shaim sejati tidak akan fasiq, karena berpuasa di atas perbuatan fasiq tidak berpahala. Banyak orang berpuasa tetapi puasanya tidak bernilai pahala hanya mendapat lapar dan dahaga saja, kira kira seperti itulah bunyi ringkasnya salah satu hadits Nabi Muhammad saw tentang puasa. Puasa yang tidak merasakan kehadiran Tuhan sepanjang harinya, patut dipertanyakan kekhusyu’annya..

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi ummat Islam....
Thanks for reading Puasa dan Terapi Korupsi

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 Komentar:

Post a Comment

Terimakash Atas kunjungan dan komentarnya ( salam persahabatan )