• Sungai

    darinya laut di isi, beraneka bahan yang ia bawa, dari ikan hingga kotoran. Namun laut bersabar menampungnya. Kesabaran laut patut dicontoh.

  • Pagi Buta

    Semburat mentari di ufuk timur, masuk ke sela-sela rimbun dedaunan, ia hendak datang mengabarkan semangat beraktifitas meraih asa dan cita yang masih tersisa.

  • Malam

    Malam gemerlap bertabur bintang, bintang di langit dan di bumi. Mereka membawa cerita masing masing sebelum akhirnya masuk ke peraduan asmara.

  • Gunung

    Gunung yang kokoh, ia dibangun dengan kuasanya, bukan dengan bantuan kita. Manusia hanya bertugas merawatnya dengan baik dan amanah. Bumiku lestari

  • Siang

    Mentarinya menyinari pohon di dunia, keindahannya luar biasa.

Showing posts with label Kajian Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Kajian Tokoh. Show all posts

Filsafat Al Farabi; Metafisika, Kenabian dan Negara Utama



 
Jurnal Sibstantia, April 2016
Abstrack
Al farabi is a muslim philosopher who create the foundation of islamic philosophy in systemic and detailed to ease understanding for the later. The thought of his philosophy influenced by the the thought of greek philosophy, including problems the creation of the universe, in the sight of alfarabi that the universe is happening out from allah as a fist form called emanation. To obtain the truth, the philosopher can find it by using the sense, while the prophets find it by inspiration given among to the men as a god's choices. In the political field, alfarabi's viem with the concept of 'almadinat al fadilat' resembling the plato's concept of idealized country. In the concept of 'almadinat alfadilat', he said leaders are the first locomotion of the community for getting happiness, as a heart in the body which members of other body is an accomplice in that happiness desired.

Kata Kunci : Al farabi, Filsafat, Metafisika, Negara Utama, Emanasi

Pendahuluan
Al Farabi (latin: Alpharabius) menduduki posisi yang sangat istimewa di jajaran para filososf muslim terkemuka. Terbukti pemikirannya masih mengilhami pemikiran filsafat paripatetik lainnya. Masignon memuji al Farabi sebagai pemikir muslim pertama yang setiap kalimatnya bermakna. Bahkan, Ibn Khulkan memujinya sebagai filosof muslim yang tak mungkin tertandingi derajat keilmuannya. Ia telah berhasil merekonstruksi bangunan ilmu logika (manthiq) yang telah diletakkan pertama kali oleh Aristoteles. Bila Aristoteles yang telah berjasa memperkenalkan ilmu logika (manthiq) dan mendapat sebutan ‘guru pertama’, maka al Farabi atas jasa besarnya mengkombinasikan filsafat Plato dan Aristoteles ia layak disebut sebagai guru kedua (al-mu’alim ats-tsāni).
Julukan guru kedua yang disematkan kepada al Farabi antara lain dengan alasan; Pertama, sangat menonjol dalam ilmu logika (manthīq) yang menjadi pondasi semua cabang ilmu, terutama ilmu filsafat, logika yang dibangun Aristoteles dijelaskan kembali dalam karyanya fil ‘ībārat, penguasaannya terhadap ilmu logika dalam usia yang relatif sangat muda, bahkan mampu mengungguli gurunya Abu Bisyir Matta bin Yunus yang kala itu termasuk orang termasyhur bidang logika di Baghdad, kedua, al-Farabi filososf terbesar setelah filososf Yunani yang berhasil mengharmoniskan pemikiran-pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonis.
Ketiga, kepiawaiannya menyusun rambu-rambu pengetahuan filsafat sehingga mudah dikaji orang orang sesudahnya, ia tuangkan dalam kitab ihshā’ul ‘ulūm. Kitab tersebut berisi lima bab dengan kategori berbeda yaitu ilmu lisan yang membahas lafadz dan pedoman pengambilan dalil bayaninya, ilmu matiq atau silogisme, ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan teologi serta ilmu fiqh dan ilmu kalam, Dalam kitab tersebut Sebagaimana Aristoteles yang membuat rumusan filsafat dan bisa dimengerti dengan sistematis orang orang setelahnya. Dalam ihsha’ul ulum al Farabi menjelas beberapa kategori ilmu dan urutan mempelajarinya.
Definisi filsafat menurut al-Farabi adalah al-‘ilm bi al-maujūdāt bi māhiya al-maujudāt. Ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, termasuk menyingkap tabir metafisika penciptaan. Al Farabi menuangkan pemikiran filsafat penciptaannya dalam karyanya Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah dimulai pembahasan tentang tuhan sebagai sebab pertama, menunjukkan keseriusannya menyingkap tabir gelap pemikiran filsafat metafisika. Tuhan menurutnya sebab pertama dari semua wujud yang ada di jagat raya ini, sama dengan konsep tuhan menurut madzhab Aristoteles bahwa, tuhan maha hidup, azali dan abadi, tiada yang paling awal darinya dan tiada yang paling akhir selainnya, tidak memerlukan iradah yang muaranya adalah sebuah pilihan, karena tuhan telah sempurna. Dia tidak percaya bahwa tuhan tiba-tiba saja memutuskan untuk menciptakan alam, karena hal itu akan menimbulkan pemahaman tuhan yang abadi dan statis tiba-tiba mengalami perubahan.
Al Farabi sependapat bahwa alam ini ‘baru’ yang terjadi dari tidak ada --sama dengan pendapat al Kindi--, Berbeda dengan konsep filsafat metafisikanya Plato yang dikonsepsikan dengan alam idea, Plato hendak mengingkari sifat wujud tuhan dalam mensucikan tuhan, karena apabila mempunyai sifat maka tuhan tidak berbeda dengan wujud yang lain. Al Farabi mengartikan alam idea dari segi kekekalannya --mirip dengan alam akhirat--. Dalam perjalanan sejarahnya ‘alam idea’ Plato ini dihidupkan kembali oleh Plotinus, yang kemudian lebih masyhur dikenal dengan nama neoplatonis.
Al Farabi memandang wujud yang ada ini, merupakan mata rantai wujud abadi yang memancar dari wujud tunggal, kekal dan abadi. Penciptaan jagad raya ini terjadi dalam sepuluh emanasi secara bertingkat, masing masing membentuk bidang wujud tersendiri, langit, bintang dan seterusnya, pada tingkat kesepuluh emanasi terhenti karena daya akal sudah melemah. Bila ditelisik hingga relung-relung pemikiran al Farabi akan kita dapati samudera keilmuannya yang sangat luas bagai lautan yang tak bertepi.
Untuk itu, tulisan ini hanya akan mengulas secara kritis, tentang filsafat metafisika penciptaan alam, konsep akal dan wahyu yang berhubungan dengan kenabian serta ditambahkan dengan konsep negara utama, kesemuanya mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Adapun tujuannya adalah supay kita mendapatkan pemahaman yang integral dan menyeluruh antara hubungan akal-akal dalam filsafat al Farabi dengan filsafat kenabian dan filsafat politik tentang tujuan bernegara.



Biografi Singkat al-Farabi
Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Lharkhan ibn Uzalagh al Farabi, lahir di kota Wesij tahun 259H/872, selisih satu tahun setelah wafatnya filosof muslim pertama yaitu al-Kindi. Ayahnya dari Iran menikah dengan wanita Turki kemudian ia menjadi perwira tentara Turki. Atas dasar itulah al-Farabi dinasabkan sebagai orang Turki. Karir pemikiran filsafatnya dalam menjembatani pemikiran Yunani dan Islam terutama dalam ilmu logika (manthiq) dan filsafat sangat gemilang, sehingga gelar sebagai guru kedua (al-mu’allim tsāni), layak disematkan.
Diriwayatkan telah belajar logika di Baghdad dari para sarjana kristen Yuhanna ibn Hailan (w. 910 M) dan Abu Bisyr Matta (w.940 M), perlu segera dicatat bahwa, Baghdad saat itu termasuk pewaris utama tradisi filsafat dan kedokteran di Alexandria. Pertemuan dan pergumulan pemikiran di situlah nantinya menjadi konektor pemikiran al-Farabi yang meramu filsafat Islam dengan filsafat Yunani Neo-Platonis, Al Farabi dalam perkembangannya juga tercatat sebagai guru Yahya ibn Adi (w. 974 M), seorang penerjemah kristen nestorian sebagai tokoh logika Ibn al-Sarraj. Karir pendidikannya cukup panjang hingga pada tahun 330/941 M, al Farabi meninggalkan Baghdad menuju Aleppo kemudian ke Kairo dan menghembuskan nafas terakhirnya di Damaskus, tepatnya pada bulan Rajab pada tahun 339 H atau Desember 950 M.
Beliau termasuk filososf yang produktif dalam melahirkan berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun berupa tulisan essai pendek dan makalah. Di antara karyanya adalah; Aghrādhu mā ba’da ath-thābi’ah, Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hākimain, karya ini menurut beberapa sumber berisi tentang kemampuan al Farabi mengulas dan mempertemukan pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles.
Karya penting lainnya adalah Risālah al-itsbāt al-mufāraqāt, At-Ta’līqāt, al jam’u baina ra’yul al-h ā kimain, kitab as-syiyāsāt al-madīnah al-fadhīlah, al mūsiqā al-kabīr, Risālah tahsīlu as-sā’adah,‘Uyūn ul-Masāil, al-Madīnah al fadhīlah, Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah, adapun al ihshāul ulūm konon merupakan karya terakhir sebelum ia wafat. Bukti bahwa al Farabi sebagai filosof yang mendalami filsafat Aristoteles adalah, konon pada saat Ibn Sina tidak memahami isi Maqālah fī Aghrād al-hakīm fī kulli Maqālah al-marsūm bi al-hurūf karya Aristoteles dan ia membacanya berulangkali hingga hingga 40 kali, akhirnya berlabuh pada karya al Farabi yang berjudul Tahqīq Gharad Aristātālīs fī Kitāb mā ba’da al-Thabī’ah kemudian tersingkap ‘tabir gelap’ isi pemikiran karya aristoteles tersebut.

Filsafat Metafisika
Tak perlu dipungkiri bahwa semua muslim percaya bahwa semua wujud yang ada adalah ciptaan Allah SWT, tetapi bila dikejar pada pertanyaan paling mendasar tentang dari mana dan bagaimana prosesnya tuhan yang maha tunggal itu menciptakan jagad raya menjadi beragam?, karena hal ikhwal penciptaan secara detai tidak pernah dikupas secara elaboratif oleh al Qur'an maupun hadits, karena kita teahu bahwa al Qur'an memuat hal-hal yang bersifat pokok dan global saja. Bagi filosof memandang proses penciptaan semesta tak cukup puas dengan sekedar kata ‘percaya’ dan akhirnya berfikir mencari rujukan karya-karya filosof Yunani sebagai tangga bantu dan sarana untuk menjawabnya secara rinci dan logis serta sistematis.
Dalam dunia filsafat menyoal penciptaan , ada dua pendapat tentang penciptaan, Pandangan para filosof Yunani umumnya menyatakan bahwa, alam semesta dengan segala pernak-perniknya yang ada ini tidak diciptakan dari bahan tertentu bentuknya, melainkan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), Tuhan menyelenggarakan penciptaan (creatio) dengan tidak memakai bahan apapun, melainkan dari katiadaan (ex nihilo). dengan hal ini berarti alam semesta adalah suatu creatio ex nihilo dari pihak tuhan. Sedangkan pandangan lain menyatakan bahwa alam ini diciptakan dari materi awal (al-hayūlā) yang bersifat abadi, alam ini tidak dicipta dari tiada (creatio an ex nihilo) melainkan ada sejak tuhan ada, mustahil tuhan ada namun tanpa ciptaan, meski secara prioritas waktu berdekatan, namun Tuhan harus dipandang sebagai pencipta.
Mengawali filsafat emanasi versi al Farabi, mungkin akan lebih mudah dimengerti bila dirunut melalui tangga filsafat metafisika neo-platonisme, keduanya mempunyai kedekatan dalam pola pikirnya. Menurut Plato (w. 347 SM) di balik wujud alam ini, ada alam ide (‘alam mitsāl) yang kekal dan abadi. Ide-ide abadi tersebut bersifat non-material bersifat tetap dan tidak berubah-ubah. Dunia ide adalah dunia kekal dan abadi, sementara yang tampak di dunia ini adalah dunia bayang-bayang atau copy dari dunia ide yang abadi tersebut. Dunia ide tetap ada dan kekal meskipun dunia bayangannya musnah, seperti manusia ini akan musnah tetapi dunia ‘ide’ manusia akan abadi selamanya, dengan pemikirannya yang selalu berkaitan dengan ide ini, menujukkan bahwa Plato termasuk aliran filsafat idealisme. Dengan membagi realitas menjadi dua seperti itu, Plato berusaha mempertemukan antara ‘filsafat ada’ menurut Parmenindes dan ‘filsafat menjadi’ menurut Heraklitos.
Lain Plato lain pula Aristoteles (w. 324 SM) selaku murid Plato, ia mencoba melengkapi gagasan Plato yang masih sederhana, baginya ide-ide yang dijelaskan plato tidak menghasilkan jawaban apa-apa. Aristoteles memecah dualisme Plato antara alam idea dan alam materi dengan mengemukakan bahwa, alam ide dan materi itu menyatu, sejalan dengan filsafat metafisikanya Aristoteles bahwa setiap benda terdiri dari jiwa (matter) dan bentuk (form) jiwa adalah substansinya sedangkan melalui bentuk itulah jiwa menampakkan eksistensi. Ia telah mengatasi dualisme Plato tentang idea dan wujud, sedangkan Aristoteles lebih kepada jiwa dan materi menyatu dalam sebuah wujud. Penggeraknya –menurut Aristoteles-- adalah sesuatu yang tak bergerak yang bersifat abadi dan kekal atau lebih dikenal dengan penggerak yang tidak bergerak (al-muhārik al-ladzī lam yatakharrāk) yaitu Tuhan atau dikenal dengan causa prima.
Bagi neo-Platonis, akal menjadi adalah wujud yang paling jelas ‘menyerupai’ Tuhan dari segala alam semesta. Kemudian dari akal tersebut ber-emanasi dan menghasilkan jiwa, jiwa-jiwa ini mempunyai daya pemahaman dan melahirkan bentuk. Ada tiga jiwa yang berbeda yaitu jiwa tumbuhan, hewan dan manusia. dari jiwa melahirkan jasad yang merupakan pelimpahan wujud tingkat ketiga,

Akal Ide
Jiwa Pemahaman
Jasad Bentuk

Pada wujud ketiga ini telah mengalami perubahan yang jauh dari sempurna. Mengingat jasad lebih jauh posisinya dengan Akal ((bc. Tuhan). Namun demikian, hal itu tidak kemudian mempunyai kemiripan dari segala-galanya. Jika akal mempunyai ide, jiwa memiliki pemahaman, maka jasad memiliki bentuk. Semoga gambaran singkat tersebut bisa dijadikan batu loncatan untuk memahami teori emanasi ala al Farabi.
Untuk mendapatkan pemahaman mendalam, Al Farabi setelah membaca karya metafisika-nya Aristoteles ratusan kali tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan, kemudian memutuskan untuk menjelaskan kembali konsep metafisika penciptaan alam dari wujud tunggal yang abadi dengan penjelasan yang lebih detail dan sempurna, menurut al Farabi, alam tercipta melalui pelimpahan atau emanasi. Proses emanasi berlangsung dari akal pertama hingga akal ke sepuluh secara serentak dan bertingkat. Disinilah nampak sekali pengaruh Neoplatonisme terhadap pemikiran metafisikanya al Farabi, dan dapat disimpulkan bahwa alam ini berasal dari zat yang maha tunggal, kekal dan suci melalui pelimpahan (emanasi).
Argumen al Farabi dalam penciptaan alam ini diawali dengan adanya semua alam ini berasal dari wujud tunggal yang mesti ada (wajibul wujūd) yaitu Tuhan, kemudian melimpah menghasilkan (mumkin al-wujūd) . Argumen lain yang dijadikan dasar oleh al Farabi adalah keteraturan alam dan tata letaknya yang sangat teratur seperti anggota tubuh yang bekerja sesuai fungsinya. Hal ini menunjukkan alam ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dari wujud yang tunggal dan melimpah sedemimikian rupa.
Emanasi semua wujud pada dasarnya berasal dari wujud yang satu dan menghasilkan wujud lain, terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis-determinis yang melahirkan alam beraneka ragam. Menurutnya akal murni berfikir tetang dirinya yang menghasil wujud pertama (al maujud al awwal) yaitu Tuhan sebagai akal yang berdaya fikir tentang diri-Nya. Dari daya pemikiran Tuhan yang besar dan hebat itu timbul wujud kedua yang merupakan akal pertama yang juga punya subtansi
Wujud kedua atau akal pertama berfikir tentang dirinya dan menghasilkan wujud berupa langit pertama, akal kedua berfikir tentang tuhan melahirkan akal ketiga, akal ketiga berfikir tuhan menghasilakan akal ke empat dan seterus sampai akal kesepuluh, dari kesepuluh akal akal tersebut berfikir tentang dirinya menghasilkan wujud materi berupa Lanit, Bintang, Saturnus, Yupitaer, Mars, Matahari, Venus, Mercury dan Rembulan
Maujudul Awwal
Tuhan Befikir tentang Tuhan Akal berfikir
tentang dirinya
Wujud 2 Akal 1 Langit
Wujdu 3 Akal 2 Bintang
Wujud 4 Akal 3 Saturnus
Wujud 5 Akal 4 Yupiter
Wujud 6 Akal 5 Mars
Wujud 7 Akal 6 Matahari
Wujud 8 Akal 7 Venus
Wujud 9 Akal 8 Mercuri
Wujud 10 Akal 9 Rembulan
Wujud 11 Akal 10
(Akal Fa’al) Wujud Roh

Pada akal kesepuluh dayanya sudah melemah dan tidak mampu lagi beremanasi. Begitulah mata rantai emanasi berlangsung. Akal kesepuluh ini mengatur dunia fana dan ruh ruh manusia serta empat unsur materi pertama dalam bentuk yakni air, tanah, api, udara. Selanjutnya dari unsur-unsur ini bermunculan materi lain seperti besi, aluminium, tembaga, perak, emas dan muncul juga tanaman dan hewan, termasuk manusia yang diaktualkan oleh akal-akal yang berhubungan dengan akal kesepuluh (‘aql fa’al).
Dengan demikian, al Farabi hendak menjelaskan bahwa walaupun alam itu berasal dari dzat yang satu yaitu Tuhan, akan tetapi keberadaannya qadim karena dalam proses emanasi menurutnya tidak berada dalam lingkup ruang dan waktu seperti waktu di mana kita berada pada saat ini. Mungkin itulah yang dimaksud dengan waktu transenden.
Menurut Harun Nasution, kalau kaum Mu‟tazilah, berusaha memurnikan tauhid dengan jalan peniadaan sifat-sifat Tuhan, berbeda dengan kaum sufi yang mensucikan tuhan dengan cara peniadaan wujud hakikat yang tampak selain wujud Allah, maka kaum filosof Islam yang dipelopori oleh al-Farabi melalui teori emanasinya (al-faidh al ilāhiy) hendak mentaqdis-kan tuhan dengan jalan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan, di sini dapat ditarik benang merahnya, bahwa, baik pemikiran filsafat, tasawuf dan wahyu sama sama ingin mengokohkan ke-esa-an Tuhan melalui metode yang berbeda beda. yang membedakan adalah metode yang ditempuhnya. Rupanya tidak hanya al Kindi dan Al Farabi, tetapi hal yang sama juga dijadikan pedoman oleh Ibn Sina sebagai generasi sekaligus murid al Farabi.

Hubungan Akal, Wahyu dan Konsep Kenabian

Akal dalam pemikiran filsafat al Farabi menempati tempat istimewa sebagai pangkal epistemologinya, termasuk filsafat metafisika yang berhubungan dengan penciptaan. Konsep akal ini erat kaitannya dengan teori kenabian, di mana akal Nabi mampu berhubungan dengan akal ke sepuluh untuk mendapatkan gambaran ‘ada’ dari yang abstrak berupa pengetahuan. Secara garis besarnya akal menurut al Farabi dibagi menjadi dua,
1) akal praktis yang berfungsi menyelesaikan hal hal tekhnis dan keterampilan,
2) akal teoritis yang membantu jiwa mendapatkan inspirasi atau ilham,
Dari akal teoritis tersebut ia mampu menangkap konsep yang tak bermateri (akal actual), kemampuan akal aktual ini dalam menangkap obyek-obyek yang abstrak semata mata hanya dimiliki oleh orang orang tertentu, termasuk di dalamnya adalah Nabi dan Filosof, atau disebut dengan akal intelektual.
Melalui akal intelektual, manusia bisa mencerap hal-hal abstrak yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi, bagi seorang Nabi dengan akal intelektual akal mustafadh, seorang Nabi bisa menerima kode atau isyarat wahyu. Sedangkan upaya filosof untuk berkomunikasi dengan akal fa’al melalui akal intelektual dapat dicapai melalui jalan kontemplasi dan perenungan atau melalui kegiatan berfikir mendalam terhadap sesuatu. Akal inilah yang nantinya akan menjadi modal bagi kita untuk memahami konsep kenabian (nubuwwah) ala al Farabi.
Secara bahasa, wahyu berasal dari kata waha, yahyi, wahyan yang berarti samar atau rahasia adalah pemberitahuan dari Allah secara cepat dan samar disertai dengan keyakinan yang penuh. Baik dengan perantara maupun tidak, denga suara maupun langsung dihujamkan ke dalam hati. Wahyu dituangkan oleh Tuhan secara langsung kepada Nabi pilihannya, bukan berdasarkan keinginannya sendiri. Sehingga tidak diketahui oleh manusia, wahyu merupakan bisikan Tuhan kepada Nabinya sebagai pengetahuan yang cepat dan sangat halus yang muncul dengan sendirinya tanpa harus berijtihad.
Para nabi diberi kemampuan akal mustafadh untuk mencercap isyarat wahyu dalam bentuk kemampuan akal intelek berkomunikas dengan aql fa’al sehingga kebenaran yang dihasilkan wahyu adalah kebenaran yang pasti bukan kebenaran nisbi. Kemampuan istimewa untuk berkomunikasi dengan aql fa’al ini bersifat given dari Allah. Menurut Amin Abdullah, pembahasan filsafat kenabian dalam filsafat Islam merupakan pembahasan yang khas, tidak ditemui di dalam filsafat Yunani secara detail.
Filsafat kenabian ini juga disinalir sebagai jawaban atas keraguan filosof sebelumnya yaitu Abu Bakar Muhammad Ar-Razi (w.925 M) yang menolak adanya kenabian. Menurutnya, para filosof bisa mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan ‘aql fa’al untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, oleh karena itu diperlukan kehadiran seorang Nabi untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan. Bahkan menganggap al Qura’an bukan mu’jizat, melainkan adalah semacam cerita khayal belaka. Ar Razi ingin membebaskan pemikirannya meskipun pemikiran semacam ini cenderung elitis dan inklusif terbatas hanya para filososf yang memungkinkan untuk melakukannya.
Al Farabi hadir dengan knsep kenabian untuk menepis keraguan Ar-Razi dan pengikutnya. Bagi al Farabi, Nabi merupakan gelar kehormatan yang disematkan oleh Allah kepada hamba pilihan-Nya. Kepadanya dituangkan kalam tuhan berupa wahyu untuk di sampaikan kepada makhluk di alam ini. Menurut al Farabi, manusia bisa berhubungan dengan aql fa’al melalui dua cara, yakni: penalaran atau perenungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya bisa dilakukan oleh pribadi terpilih yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh para Nabi.
Denga cara kontemplasi dan latihan berfikir seseorang bisa sampai pada derajat akal kesepuluh, sementara melalui penelitian jiwa, pembelajaran dan latihan, jiwanya akan sampai pada akal mustafad untuk merespon dan menerima cahaya ilahi sebagai puncak imajinasi tertinggi (al quwwah al mutakhayyilah). Orang yang mampu mencapai derajat ini tentu hanya para Nabi, bukan orang biasa secara umum.
Konsep kenabian al Farabi ada kaitan erat dengan politik pada waktu itu, di mana ia berpendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah para Nabi atau Filosof, karena ia mempunyai kedekatan dan mampu berhubungan dengan akal fa’al, yang merupakan sumber kebaikan. Pemimpin ideal seperti yang digagas oleh al Farabi memang jauh dari fakta yang terjadi, sehingga sangat sulit untuk direalisasikan, setidaknya dengan konsep ini memberikan bekal dalam memilih seorang pemimpin.
Seperti pemikir-pemikir lainnya, al Farabi tidak menjadi pemikir yang kebal kritik, pendapatnya tentang imajinasi tertinggi (al Quwwah al Mutakhayyilah) bisa mendekatkan diri kepada aql fa’al sehingga—nyaris-- sama antara filosof dengan Nabi dalam mendapatkan kritik dari Ibn Taymiyah (w. 728) dengan argumen mukjizat kauniyah seorang Nabi, seperti terbelahnya lautan oleh tongkat Musa, turunnya manisan dan burung puyuh (manna wa salwa), memperbanyak makanan dan minuman dari sela-sela jari, dibakar tidak terpanggang dan lain lain tidak mungkin bisa dilakukakan semata mata dengan imajinasi. Walaupun bisa saja mukjizat yang termaktub dalam kitab suci bisa ditakwilkan menjadi makna lain oleh filosof.

Konsep Negara Utama (al-Madīnah al-Fadhīlah)
Ada banyak ragam definisi negara, rupanya sesuai dengan latar belakang tokoh dan keilmuwan yang digelutinya. Robert N Bella, membagi negara menjadi tiga teori, pertama, Negara Kota yang kemudian dilanjutkan oleh al-Farabi dengan konsepsi yang dinamai dengan negara utama (al madinat al fadhilat), kedua, Masyarakat Universal yang diawali oleh Romawi dan berkembang terus hingga abad pertengahan, kemudian dilanjutkan oleh al-Ghazali, ketiga Negara Nasional yang dimulai dari zaman renaisance pada abad ke-15 sampai berkembangnya prinsip nasionalis sampai saat ini. Teori ini dalam islam dipelopori oleh Ibnu Khaldun dengan teori ashabiyah dan Negara Kemakmurannya.
Dalam konteks filsafat al-Farabi mengenai negara utama (al madinah al fadhilah), ia tuangkan dalam karyanya monumentalnya Ara’ ahl madinah al fadhilah banyak diilhami dari konsep Yunani, terutama konsep negara ideal Plato. Plato membangun idenya tentang negara menurut skema tubuh yang disebutnya macro anthropos (manusia makro), sebuah gambaran yang mendominasi filsafat politik sepanjang zaman. Penduduk politik tubuh itu pemerintah adalah kepalanya, militer adalah dadanya dan anggota tubuh lain adalah elemen negara penting lainnya. Konsep negara menurut Plato tidak lain adalah negara etik, bahwa peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum--menurut Plato-- tidak boleh diputus oleh kemauan atau pendapat seorang atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan budi pekerti. Sehingga mencerminkan pemerintahan dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu idea kebaikan atau pengetahuan.
Secara ringkas al Farabi dalam karyanya al-Madīnah al-Fadhīlah menyatakan bahwa kecenderungan manusia hidup bersosial dengan orang lain yang kemudian melaluoi proses yang panjang terbentuklah sebuah negara. Dari Negara tersebut mereka hendak mencapai kebahagiaan secara bersama sama, indikasi kebahagiaannya adalah tercukupinya sandang, pangan, papan dan keamanan kebahagiaan yang dicita-citakan tersebut bisa dicapai dengan cara membentuk sebuah negara yang disebut negara utama (al-madinat al-fadhilat). Dalam pandangan al Farabi, negara utama diserupakan bagaikan badan sehat yang dilengkapi anggota tubuh sempurna, saling membantu dan bersinergi dengan anggota tubuh lain dalam upaya menyempurnakan kehidupan, di dalamnya mempunyai satu pemimpin yaitu jantung. Penisbatan jantung sebagai pemimpin ini dalam hal sebagai penggeraknya, oleh karena itu, semua anggota masyarakat bisa menjadi pemimpin negara, seseorang yang bisa memimpin negara adalah orang yang mempunyai kapasitas tertinggi dalam sebuah negara.
Kriterian pemimpin yang ideal adalah, fisik sempurna, cerdas, mempunyai pemahaman yang baik, pandai memberikan pemahaman kepada oranag lain, cinta terhadap ilmu pengetahuan, tidak rakus terhadap makanan, pandai bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai sifat berjiwa besar, tidak memandang kekayaan dunia adalah segala-galanya, berlaku adil dan membenci kedhaliman, memiliki keseriusan yang tinggi terhadap sesuatu yang dianggap penting. Dari sini nampak bahwa al-Farabi ingin mengkombinasikan konsep negara pemikiran filsafat Yunani dengan Konsep Negara Islam.
Ali Maksum menuliskan, Menurut pendapat al Farabi, Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang sama persis seperti pemimpin yang dikonsepsikan oleh Plato, yakni seorang ideal yang telah mampu mengungkapkan kebenaran universal yang bersifat imajinatif yang bisa dimengerti oleh orang awam. Adapun sebagai mata rantai kenabian sebagai pemimpin sebuah negara, negara utama haruslah dipimpin oleh seseorang yang mempunyai pengetahuan yang luas, akal yang jernih dan mempunyai kemampuan daya pikir yang kuat, pemimpin yang demikian ini tidak lain adalah seorang filosof.

Kesimpulan
Pertalian pemikiran al Farabi sangat erat dengan filsafat Yunani, Oleh karena itu untuk memahami pokok pikiran al Farabi mutlak dibutuhkan menyelami pemikiran filsafat Yunani. Al Farabi adalah sosok filosof muslim yang pengetahuannya mapan, di samping ilmuwan juga ‘alim yan ghidup dalam kesederhanaan.
Dalam filsafat metafisika, al Farabi berpendapat bahwa penciptaan alam ini terjadi secara emanasi atau pancaran tuhan (al faidh al ilahiy) melalui daya akal yang tunggal dan esa, kekal, abadi yang disebut akal murni, kemudian menjadi alam raya yang beraneka ragam, proses emanasi berhenti pada akal ke sepuluh yang dinamai akal fa’al, pada akal ke sepuluh ini tidak lagi ber-emanasi karena daya kekuatan akalnya melemah. Dari akal kesepuluh ini melahirkan materi, seperti air, api, udara, tanah kemudian diikuti berbagai unsur lainnya. Pada konsep emanasi ini, nampak sekali pengaruh filsafat metafisikanya neo-platonisme.
Bagi al Farabi, baik Nabi, Filosof dan Raja adalah satu kesatuan makna, namun berbeda pendekatannya. Nabi adalah orang suci yang terpilih untuk menerima titah kebenaran berupa wahyu, sedangkan filosof melalui logika berpikirnya dapat mencapai sebuah kebenaran yang hakiki, sedangka raja atau pemimpin adalah orang yang berkemampuan dan kecerdasan tinggi serta kepribadian yang luhur untuk mempropagandakan kebaikan kepada rakyatnya. Dari kepribadian luhur itulah negara digerakkan, anggota tubuh sebagai menterinya, sinergisasi fungsinya akan menciptakan kebahagiaan sebagai salah satu tujuan dibentuknya negara, konsep negaranya disebut negara utama (al madinah al fadhilah)


==============


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Qur’an dan Terjemah.
  2. Abdul Karim, Aim, 2006, Pendidikan kwarganegaraan, (Jakarta: Grafindo)
  3. al Badawiy, Abd. Rahman, Rasa’il falsafiyyah, (Beirut: Dār Andalusi, tt)
  4. Al Farabi, ‘Arā’ ahl al-Madīnah al-Fadhīlah, tahqiq, Dr. Al Biir Nasri Nadir, (Beirut: Daar Al Masyriq)
  5. __________, Ihshā’ul ‘Ulūm , (Beirut : Inmaul Qaumiy, tt)
  6. __________, Tahshīlus Sa’ādat, 1995, tahqiq DR. Alibu Mulham, (Beirut: Daar al Hilal)
  7. Amin Abdullah, 1992, Aspek Epistemologis Filsafat Islam, (Diss Yogyakarta)
  8. Armstrong, Karen, 2003, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan Utama
  9. Bagir, Haidar, 2006, Buku Saku Filsafat, Bandung: Mizan
  10. Bakar, Osman, 1997, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al Ghazali Dan Quthb Al-Din Al-Syirazi, Terj. Purwanto Bandung: Mizan
  11. Darmodiharjo, Darji, Prof., SH. 2006, Pokok-pokok Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta: Gramedia
  12. Drajat, Dr. Amroeni, 2005, Suhrawardi: Kritik Falsafah Paripatetik, Yogyakarta: LkiS
  13. Fuadi, 2013, Peran Akal menurut Pandangan al-Ghazali, Jurnal Substatia, Vol. 15, No. 1
  14. Halim Mahmud, Ahmad, at-Tafkīr al-Falsafī al-Islamī, Kairo: Dār al Ma’ārif, tt
  15. Hardiman, F. Budi., 2009, Politik sebagai Pengawasan Tubuh, Sebuah Tinjauan Filosofis atas Hubungan Politik dan Erotik dalam Politea Plato, Studia Philosophica et Theologica. Volume 9. No.1
  16. Hatta, Muhammad, 2001, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  17. Hawa, Said, 1998, Allah Jallā Jalāluhu, terj. Muhtadi Abdul Mun’im, Allah swt., Jakarta; Gema Insani Press
  18. Husein Nashr, Sayyed dan Oliver Leaman, 2003, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam I, Terj. Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, Cet I.
  19. Ibn Taymiyah, Kitab al-Safagiyah, tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim
  20. Irfan, A.N., 2014, Masuknya Unsur-unsur Pemikiran Spekulatif Dalam Islam: Kajian Atas Logika Dan Metafisika al-Farabi, CMES: Jurnal Studi Timur Tengah. Volume 7, No. 2
  21. Juwaini and Nik Yusri bin Musa. 2010, Konsep Akal :Suatu Analisis Terhadap Pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina." Substantia Volume12. No.2
  22. K. Bertens, Prof., 2008, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, cet.V
  23. Kartanegara, Mulyadhi, 2007, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, Jakarta: Erlangga
  24. M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press
  25. Majid, Abdul. Filsafat Al-Farabi Dalam Praktek Pendidikan Islam. Jurnal Manarul Al Qur'an, abcd.unsiq.ac.id
  26. Maksum, Ali, 2009, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
  27. Masfoefah, Siti., 1996, Eksistensi Jiwa Menurut al Kindi. Diss. UIN Sunan Ampel Surabaya
  28. Muhammad, Hasbi, 2010 “Pemikiran Emanasi Dalam Filsafat Islam Dan Hubungannya Dengan Sains Modern”, Al-Fikr. Volume 14. No. 3
  29. Nasutuion, Harun, 2000, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution, Bandung: Mizan
  30. Nurdin, M. Amin, Sejarah Pemikiran Islam, (ed), (Jakarta: AMZAH), 2015
  31. Nurseha Dzulhadi, Qosim, 2014 “Al Farabi Dan Filsafat Kenabian”, Jurnal Kalimah, Maret, volume. 12
  32. Petrus L.Tjahjayi, Simon, 2004, Petualangan Intelektual: konfrontasi dengan para filusuf dari zaman yunani hingga modern, Yogyakarta: Kanisius.
  33. Salmah, S. Pd I. "Aktualisasi Filsafat Al-Farabi dalam Era Modern”, Telaah Kritis Teori Kenegaraan al-Madinah al-Fadhilah."
  34. Sholihin, KH. Muhammad, 2008, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, Yogyakarta: Narasi
  35. Uliri, Daulasi, 1961, al-fikr al-‘arabiy wa makānuhū fīt-tārīkh, Kairo: Ālam al-Kutub
  36. Wahid, Dr. Ali Abdul Wafi, al-Madīnah al-Fadhīlah lil Farabi, Kairo: Nahdhoh Mishri, tt




Share:

Selamat Jalan Ibu Titi Sri Sulaksmi Soebono...

Duka mendalam dari keluarga, karib kerabat dan teman sejawat tercermin dari wajah dan mata mereka yang berkaca kaca saat mengantarkan Ibu Titi ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman khusus Yayasan Soebono Mantofani, beliu tutup mata pada hari Jumat, 5 Pebruari 2016, pukul 20.52 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun. Semoga Almarhumah khusnul khatimah dan ditempatkan oleh Allah di tempat yang mulia di sisi-Nya amiin.

Selaku Pendiri sekaligus ketua Umum, beliau selalu mengajarkan kedisiplinan kerja dan memperhatikan semua hal sampai hal terkecil secara detail, beliau mendirikan yayasan ini tercatat dalam prasasti tanggal 14 Januari 1994 sebagai salah satu dakwahnya dalam menyebarluaskan pengetahuan ke masyarakat umum. Secara hitungan rentang waktu sampai berpulangnya Bu Bono –begitu sapaan beliau—berarti kurang lebih 22 tahun.

Berkenalan Dengan Bu Bono
Saya mengenal Bu Bono diperkenalkan oleh KH. Muhtadi Alawi selaku ketua harian pertama dan termasuk perintis yayasan bersama dengan teman-temannya. saya tercatat sebagai guru di yayasan ini sejak tahun 1996 setelah lulus Madrasah Aliyah Assa’adah Sampurnan Bungah Gresik, kemudian pada tahun 1997 melanjutkan studi di UIN Jakarta kemudian kembal bergabung mengabdi di Yayasan ini pada tahun 2002 hingga sekarang.
Share:

KH. Ahmad Maimun Adnan Sumber Inspirasi

KH. Ahmad Maimun Adnan adalah sosok kharismatik pemangku pondok pesantren Al Ishlah Bungah Gresik, di pesantren itulah saya mengeyam dan belajar ilmu agama, KH Ahmad Maimun Adnan  sumber inspirasi dalam kehidupan saya, dari kesederhanaannya, istiqomahnya dan kedalaman falsafah hidupnya, di pondok itu pula saya banyak mengenal teman teman santri yang cerdas dengan segala keunikannya.

Karena usianya yang sudah lanjut tersiar kabar dari salah satu media sosial bahwa beliau jatuh terpleset, sejak itu pula terhitung tanggal 4 Pebruari 2015 saya sudah mempersiapkan diri dan mengumpulkan ‘amunisi’ untuk bekal pulang kampung dan sowan seorang diri, agar simpel dan ekonomis, isteri saya sangat setuju dengan hal itu. Rasanya tak sabar menunggu tanggal kepulangan yang terjadwal tanggal 24 Pebruari 2015, hari demi hari saya ikuti berita keadaan Romo Yai dengan seksama dari grup WA. Sembari mempersiapkan tugas yang harus saya tinggalkan pada saat kepulangan tersebut.

Namun sontak lidah terdiam seribu bahasa pada saat disela-sela badminton di hall Focus, Selasa 17 Pebruari mendapat kabar mengejutkan bahwa beliau telah berpulang keharibaan-Nya, rupanya manusia hanya bisa berencana selanjutnya Allah lah yang menentukan segalanya, manusia yang lemah ini harus bertekuk lutut di bawah takdir-Nya. Hanya butiran air mata yang masih tertahan dipelupuk mata ini sembari iringan doa dipanjatkan semoga Almaghfurlah menemui akhir hidupnya dengan khusnul khatimah.

Berikut ini foto lautan manusia saat mengiring jenazah ke tempat peristirahatan beliau yang terakhir

 



17 Pebruari 2015/ 27 Rabiul Akhir

Kini... estafet perjalanan Al Ishlah dipegang oleh putra beliau Gus Ahmad Thohawi Hadin, Al Ishlah jilid II ini, insyaallah masih selaras dengan ajaran almaghfurlah, kita semua sebagai santri, alumni, masyarakat muslim di Gresik khususnya akan terus berdoa semoga sukses selalu. Dan seluruh keluarga KH. Ahmad Maimun Adnan dan semua dzurriyahny semaoga diberi kesabaran Amiin
Share:

Ustad Jefry al-Buchory Tutup Usia

Pagi itu, Jumat 26 April 2013 sebuah pagi yang mengejutkan, tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba membaca beberapa status di twitter mengabarkan bahwa Ustad Jefri al-Buchory tutup usia akibat kecelakaan tunggal di kawasan Pondok Indah pada saat mengendarai sepeda motor Kawasaki jenis ER 650 cc dengan nomor polisi B-3590-SGQ.

"Kecelakaan tersebut terjadi pada pukul 01.00 dini hari sepulang ngopi sambil cari angin dari kemang bersama adiknya Fajar Sidik dan empat sahabatnya" Ujar sang Adik.

Beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia yang tebilang muda tepatnya 12 April yang lalu adalah genap usianya yang ke 40, sebuah usia yang terbilang masih belia, namun apa daya Sang Khalik telah mengambilnya, siapapun tak kuasa menolak kehendak-Nya. Jenazah akan dimakamkan setelah shalat Jumat di TPU Karet, Jakarta Pusat. Ribuan orang tumpah ruah di sana untuk mengantar ke tempat pembaringannya

seoalah sudah terasa getar panggilan Sang Khalik sejak beberapa hari sebelumnya beliau sempat broadcast BBM yang isinya sebagai berikut :"Assalmu'alaikum... Mulai hari ini saya gaak lagi pake nomor Hp dan bbm ini .. Sekali lagi maaf lahir bathin...Pasti byk salah-nya ... Wslm...". kini BBM tersebut sudah beredar di banyak pengguna ponsel pintar.

***
Marilah kita mengambil pelajaran berharga ini, dimanapun dan kapanpun ajal selalu mengintai, rotasi perjalanan hidup ini terus mendekati kematian untuk meninggalkan titik kelahiran, jika ajal telah tiba waktunya siapapun tak akan mampu mengelak darinya meski didalam tempat persembunyian yang paling aman dan rahasia sekalipun, Allah berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا.
Artinya:
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?" (QS. An-Nisa:78)

Ketentuan ajal erat di dalam genggaman Allah, jika telah tiba waktunya baik siang atau malam, pagi maupun petang dengan hati rela atau terpaksa harus patuh dan menyerah di bawah kuasanya. Oleh karena itu persiapan untuk menjemput kematian harus simultan, terus menerus tiada henti, sebagaimana wasiat oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ya'qub as kepada generasi selanjutnya yang diabadikan di dalam al Quran:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. al BAqarah:132)

Dalam ayat tersebut di atas membangun logika bahwa harus selalu dalam keadaan Islam mengingat kematian tidak diketahui kapan dan dimana akan menjempunya, maka hendaklah selalu menjaga kondisi islam kapan dan dimanapun jua. Demikianlah sekilas pelajaran yang dapat diambil dari Ustad Jefry al-Buchory Tutup Usia, semoga beliau ditempatkan oleh Allah tepat di sisin-Nya Amiiin ya rabb
Share:

Minhajul Abidin karya Terakhir Imam Ghazali

“ Tidaklah aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah ”.
Allah menciptakan hambanya dengan segala kelengkapan akal dan anggota tubuh serta rizki yang cukup agar mampu beribadah secara sempurna. Kesempurnaan ibadah itu akan membawa seorang hamba dekat kepada Allah dan menjadi kekasih-Nya. Namun, dalam ‘perjalanan’ hidupnya banyak halangan dan rintangan yang menghadang jalan untuk mendekat kepada Allah. Sulitnya perjalanan yang menanjak dan penuh duri menuju kedekatan seorang hamba kepada Allah itu dikenal dalam bahasa Arab dengan ‘aqabah.

Kitab minhajul abidin adalah pilihan tepat sebagai bekal beribadah kepada Allah swt, di dalamnya membicarakan beberapa hal penting terkait dengan cara ‘mendaki’ setapak demi setapak menuju derajat taqwa di hadapan Allah swt. Kitab yang dikarang oleh Imam Ghazali ini terdiri dari dari 7 bab. Diawali dengan pembahasan ‘aqabah ‘ilmu dan diakhiri dengan ‘aqabah syukur.
Share:

Sejarah Terciptanya Barzanji

Info Syariah, Al-Barzanji tidak dapat dipisahkan dengan momentum besar perihal peringatan maulid Nabi Muhammad saw untuk yang pertama kali. Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.

Kita mengenal itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Semangatnya perjuangan terasa mulai redup dan persatuan kurang rapuh, karena banyak kerajaan dan kesultanan, meski masih tetap dalam satu komando dinasti Bani Abbas di Baghdad sana, akan tetapi lebih bersifat lambang persatuan spiritual. Pada saat itu Islam bekerja keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, Jerman, Inggris dan Prancis.
Share:

Al Farabi dan Filsafat Emanasi

Info filsafat, Al Farabi adalah seorang filosof Muslim dalam arti yang sebenarnya. Ia telah menciptakan sistem filsafat yang relatip lengkap, dan telah memainkan peranan penting dalam perkembangan pemikiran filsafat di dunia Islam. Al Farabi mempunyai nama lengkap Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad Ibn Tharkhan ibn Auzalagh al Farabi, atau dikenal juga Abu Nashr, lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di distrik kota Farab, provinsi Transoxiana, Turkestan tahun 257 H/890 M. Meski ayahnya keturunan bangsawan Persia, namun keluarga al-Farabi dianggap sebagai orang Turki. Disamping bahasa Sogdia (dialek Turki), juga karena gaya hidup dan kebiasaan kultural mereka mirip orang Turki. 

Pemikiran filsafat al Farabi yang terkenal adalah penjelasan tentang emanasi, atau yang lebih dikenal teori emanasi (al Faidh), yaitu teori yang mengajarkan proses urutan kejadian suatu wujud yang mungkin (bc:alam makhluk) dari zat yang wajib al wujud (bc: Tuhan). Menurutnya, Tuhan adalah akal pikiran yang bukan berupa benda. Segala sesuatu yang ada saat ini adalah ber-manasi (memancar) dari Tuhan, Ilmu Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahuiNya.
Share:

Info Tafsir Al Jilani

Info tafsir, kalangan muslim merasa bangga, seolah ada energi baru dengan ditemukannya tafsir al jilani yang dikarang oleh sulthonul auliya' syeihk Abdul Qodir Al Jilani, kebanyakan dari kalanga muslim mengenalnya sebagai seorang sufi, tetapi info terbaru menunjukkan bahwa Syeikh Abdul Qodir adalah juga seorang mufassir yang baru baru ini karyanya ditemukan di sebuah perpustakaan di fatikan. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 22/10/11, Ketua Lembaga Takmir Masajid NU (LTM-NU), dalam sambutan di acara bedah kitab Tafsir al-Jilani, yang dihadiri secara langsung Dr. Muhammad Fadhil al Jilani dari Turki (juga cucu Syekh Abdul Qodir).

Kitab Tafsir al Jilani terdiri dari enam jilid. Kitab ini sempat mengandung kontroversi, karena ditemukan di perpustakaan Vatikan, kota suci umat Katolik. Sang penyunting yang juga cucu muallif, Muhammad Fadhil al-Jilani, melakukan penelitian sepanjang 32 tahun, dan telah mengunjungi 20 perpustakaan di beberapa negara.

Share:

Kebangkitan Versi Al Ghazali versus Ibn Rusydi

Sebelum melangkah dalam ranah pemikiran filsafat, terlebih dahulu yang harus dipahami oleh pembaca adalah alur pola pikir tokohnya. Dengan pembacaan yang penuh sabar dan teks harus dikonsumsi secara "lumat" supaya tidak terlempar dari konteksnya. Oke kita akan perbincangkan perbedaan kebangkitan versi Al Ghazali versus Ibn Rusyd. Imam Ghazali mungkin telah kita kenal sejak kita masih SD dulu, tapi bagaimana dengan Ibn Rusyd, berdasarkan informasi dari berbagai sumber bacaan filsafat bahwa Ibn Rusyd (Averrous), nama lengkapnya adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad Ibnu Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu rusyd, lahir di Cordova, Andalus pada tahun 520 H/ 1126 M, sekitar 15 tahun setelah wafatnya abu Hamid al-Ghazali. Ibn Rusyd dianggap sangat berjasa karena mampu mendamaikan pemikiran agamawan dalam mem-posisikan antara akal dan wahyu dalam mencari kebenaran. Itulah pokok pemikiran Ibn Rusyd yang paling berpengaruh sampai saat ini.

Menurut aliran filsafat, kebenaran dapat dicapai melalui pendekatan akal sedangkan bagi agamawan kebenaran bisa dicapai melalui konsep wahyu, perdebatan sengit ini terus mewarnai pemikiran agama manapun, dulu sekarang dan akan datang. Barangkali itu sudah kodrat, tetapi seorang akademis harus mencari duduk perkaranya 

Share:

SAKIT: Cinta Yang Menyamar

SAKIT: Cinta Yang Menyamar
ISBN: 9786340419252

Tafsir Tematik

Tafsir Tematik
ISBN: 9786232350199

Modul Blogging MA.SM

Modul Blogging MA.SM
Modul Pembelajaran Blogging

Jejak Ruh

Jejak Ruh
Dalam Proses Penulisan

Popular Posts

Labels

Judul Tulisan

Recent Posts

Motto

  • Membaca
  • Mengamalkan
  • Mennulis
  • Menyebarkan