• Sungai

    darinya laut di isi, beraneka bahan yang ia bawa, dari ikan hingga kotoran. Namun laut bersabar menampungnya. Kesabaran laut patut dicontoh.

  • Pagi Buta

    Semburat mentari di ufuk timur, masuk ke sela-sela rimbun dedaunan, ia hendak datang mengabarkan semangat beraktifitas meraih asa dan cita yang masih tersisa.

  • Malam

    Malam gemerlap bertabur bintang, bintang di langit dan di bumi. Mereka membawa cerita masing masing sebelum akhirnya masuk ke peraduan asmara.

  • Gunung

    Gunung yang kokoh, ia dibangun dengan kuasanya, bukan dengan bantuan kita. Manusia hanya bertugas merawatnya dengan baik dan amanah. Bumiku lestari

  • Siang

    Mentarinya menyinari pohon di dunia, keindahannya luar biasa.

Melancong ke Jogja (Part 2)

Share:

Melancong ke Jogja ( Part 1)

Share:

Melancong Ke Kawah Putih

Share:

Melancong ke Bogor


Share:

Melancong ke Gn Pancar dan Bogor


Share:

Melancong










Share:

Menjadi Pendengar yang Baik

Tanpa ada tendensi apapun dan tidak berpretensi apapun, tulisan ini didedikasikan semata mata ingin mendalami arti penting menjadi pendengar yang baik terhadap keluh kesah orang lain dan sulitnya memposisikan diri sebagai teman berbagi. Pandengar yang baik punya arti penting untuk menampung letupan emosi orang lain, karena semua orang nyaris pernah merasakan hal pahit yang menyedihkan hingga tak tertahan keluh kesah sebagai respon alamiah sifat ke-manusiawi-annya, tempat dicurahkannya tentu kepada orang-orang terdekat sebagai bentuk ekspresi interaksi sosial, tentu setelah semua ditumpahkan kepada Tuhan semesta alam sumber dari segala solusi dan ketentuannya.

Saya yakin, semua orang punya sosok persona yang dianggap layak menjadi tumpahan curahan isi hatinya dan akan sangat berbahagia karena ada teman berbagi keluh dan kesah yang memungkinkan bisa meringankan himpitan sesak di dada seseorang, sosok inilah akan menjadi pendingin suasana dan penetralisir gundah gulana, namun tak semua orang mampu melakukannya dengan baik, Faktanya mencari orang yang benar-benar mampu menjadi tempat adu-an curahan hati tidaklah mudah, karena secara mental ia harus siap berposisi lebur dalam empati merasakan kepedihan, keluhan dan penderitaan orang. Bukan slogan atau nasehat counter attack yang mungkin menurut penulis pada saat curahan dimuntahkan tidaklah tepat.

Ada saatnya kita diam untuk mendengarkan secara khusyu’ seraya sesekali melepaskan positive support supaya dijadikan sebagai energi untuk bangkit dari kegelisahan yang berlarut-larut, tentu perlu segera dicatat bahwa pada kondisi seperti itu tidak butuh nasehat, karena tak mudah menasehati seseorang yang sedang meletupkan kegalauan hatinya. Ia yang sedang dirundung gelisah hanya butuh simpati dan mendengar serta mencermati curahan hati sebagai bukti rasa empati.
Share:

Valentine's Day dan Dogma Agama tentang Kasih Sayang

Hari kasih sayang atau valentine’s day yang diperingati oleh dunia pada tanggal 14 Pebruari khususnya para muda-mudi yang sedang dimabuk asmara, bila ditelusuri akar historisnya, maka akan didapati banyak versi. Entahlah mana yang paling otentik untuk ditautkan sebagai legenda lahirnya hari raya cinta dan romatisasi pasangan. Banyak kalangan remaja yang merayakannya dengan saling bertukar notisi kartu ucapan valentine yang dilambangkan dengan hati dan panah disertai dengan coklat dan mawar. Bagaimanakah tinjauan historis dibalik itu semua?.

Tak sedikit remaja yang larut dalam perayaan valentine’s secara berlebihan, sampai-sampai tidak sanggup menahan gelora asmara kemudian hanyut dalam arus gelombang keburukan dengan dalih atas nama cinta dan kasih sayang, bahkan, diperparah lagi dengan pesta tukar pasangan kencan, atau berhubungan badan di luar pernikahan yang sah. Terlepas dari itu semua kasih sayang secara isi dibenarkan oleh agama sebagai sebuah kebaikan, penulis lebih kenosentrasi pemaknaan kasih sayang dari segi isi dari pada bungkusnya, lebih menitik beratkan pada konten dan tampilan.
Share:

Selamat Jalan Ibu Titi Sri Sulaksmi Soebono...

Duka mendalam dari keluarga, karib kerabat dan teman sejawat tercermin dari wajah dan mata mereka yang berkaca kaca saat mengantarkan Ibu Titi ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman khusus Yayasan Soebono Mantofani, beliu tutup mata pada hari Jumat, 5 Pebruari 2016, pukul 20.52 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, dalam usia 87 tahun. Semoga Almarhumah khusnul khatimah dan ditempatkan oleh Allah di tempat yang mulia di sisi-Nya amiin.

Selaku Pendiri sekaligus ketua Umum, beliau selalu mengajarkan kedisiplinan kerja dan memperhatikan semua hal sampai hal terkecil secara detail, beliau mendirikan yayasan ini tercatat dalam prasasti tanggal 14 Januari 1994 sebagai salah satu dakwahnya dalam menyebarluaskan pengetahuan ke masyarakat umum. Secara hitungan rentang waktu sampai berpulangnya Bu Bono –begitu sapaan beliau—berarti kurang lebih 22 tahun.

Berkenalan Dengan Bu Bono
Saya mengenal Bu Bono diperkenalkan oleh KH. Muhtadi Alawi selaku ketua harian pertama dan termasuk perintis yayasan bersama dengan teman-temannya. saya tercatat sebagai guru di yayasan ini sejak tahun 1996 setelah lulus Madrasah Aliyah Assa’adah Sampurnan Bungah Gresik, kemudian pada tahun 1997 melanjutkan studi di UIN Jakarta kemudian kembal bergabung mengabdi di Yayasan ini pada tahun 2002 hingga sekarang.
Share:

Berkarya Kemudian Menyejarah

Terkadang terlintas dalam pikiran yang bosan berputar dalam pusaran arus perjalanan hidup yang ‘begini-begini saja’, tak ada nuansa hidup lain, selain rutinitas yang padat, bekerja, kuliah dan di akhir bulan menunggu gajian tiba. Ada hampa di dalamnya karena tak ada harapan yang lebih berarti untuk ditinggalkan dalam setiap jengkal liku kehidupan ini. Berawal dari sini, semoga ada secercah harapan baru yang layak dijadikan modal penting untuk merefleksikan kehidupan, karena hidup yang tidak direfleksikan maka tak layak untuk dihidupi. 

Untuk menjadi hidup lebih bermakna, salah satunya adalah harus dilalui dengan melahirkan sebuah karya, dengannya alam sekitar bisa mengingat dan siap untuk diapresiasi oleh orang-orang setelah kita, karena tanpa karya apapun mustahil anak cucu mengingatnya apalagi membanggakannya. Setidaknya ada dua isi kehidupan ini, yakni membaca dan menulis, dengan membaca wawasan menjadi luas, pengetahuan makin mendalam dan sudut pandang keilmuan menjadi lebar. Karena pengetahuan pula salah satu cara untuk berekspresi dalam menjani langkah kehidupan yang kian hari kian sulit, rumit dan problema terus membumbung tinggi melangit.
Share:

SAKIT: Cinta Yang Menyamar

SAKIT: Cinta Yang Menyamar
ISBN: 9786340419252

Tafsir Tematik

Tafsir Tematik
ISBN: 9786232350199

Modul Blogging MA.SM

Modul Blogging MA.SM
Modul Pembelajaran Blogging

Jejak Ruh

Jejak Ruh
Dalam Proses Penulisan

Popular Posts

Labels

Judul Tulisan

Recent Posts

Motto

  • Membaca
  • Mengamalkan
  • Mennulis
  • Menyebarkan